Site icon Jernih.co

Mengenang Meriyati Hoegeng, Senyum Kesederhanaan di Balik Keteguhan Sang Jenderal

Ia hidup dalam sunyi, namun menopang sebuah keteladanan besar. Di balik keteguhan Jenderal Hoegeng, berdirilah seorang perempuan yang memilih kesederhanaan demi menjaga kejujuran tetap bernapas.

WWW.JERNIH.CO –  Ada keheningan yang terasa berbeda dalam embusan angin kali ini, seolah alam sedang menundukkan kepala, memberi penghormatan terakhir bagi seorang perempuan yang seluruh hidupnya adalah puisi tentang kesetiaan.

Ibu Meriyati Hoegeng telah melangkah pulang, meninggalkan hiruk-pikuk dunia menuju keabadian. Seolah ia menunggu genapnya hampir seabad usia untuk kembali ke haribaan-Nya.

Meriyati Hoegeng bukan semata dikenal sebagai istri seorang mantan Kapolri. Ia adalah personifikasi keteguhan yang lembut—sebuah pelita sunyi yang selama puluhan tahun menyinari jalan kejujuran di tengah belantara godaan kekuasaan, baik di tubuh kepolisian maupun di ruang-ruang kekuasaan lainnya.

Jika Jenderal Hoegeng adalah pohon beringin yang kokoh, tak tergoyahkan oleh badai integritas, maka Ibu Meri adalah akarnya—yang membumi, sabar, dan setia memastikan pohon itu tetap tegak berdiri.

Di balik senyumnya yang teduh, bersemayam kekuatan raksasa: keberanian untuk berkata “tidak” pada kemewahan fana demi menjaga kemuliaan nama keluarga dan kehormatan bangsa. Ia membuktikan bahwa keanggunan sejati seorang ibu tidak terpancar dari gemerlap perhiasan, melainkan dari beningnya nurani dan kesederhanaan yang dirawat dengan rasa syukur.

Menjadi istri pejabat tinggi negara kerap identik dengan protokoler ketat dan gaya hidup sosialita. Namun bagi Ibu Meri, jabatan suaminya adalah amanah yang menuntut pengorbanan, bukan fasilitas untuk dinikmati. Ia memahami betul bahwa predikat Jenderal Hoegeng sebagai “polisi paling jujur” hanya dapat bertahan bila rumah tangga mereka menjadi wilayah steril dari segala bentuk gratifikasi.

Ia adalah benteng pertama keluarga. Berkali-kali pihak tertentu mencoba masuk melalui pintu belakang, membawa pemberian untuk melunakkan prinsip sang Jenderal. Dengan ketegasan yang dibalut kesantunan seorang ibu, Ibu Meri selalu menolak. Ia menjaga marwah suaminya dengan memastikan tak satu sen pun harta haram masuk ke dapur mereka.

BACA JUGA: Ganjar Usulkan Nama Jenderal Hoegeng jadi Pahlawan Nasional

Ibu Meri tak pernah menuntut kemewahan di luar kemampuan gaji resmi suaminya—sebuah dedikasi yang membuat Jenderal Hoegeng mampu menjalankan tugas tanpa beban moral.

Salah satu fragmen paling menyentuh dalam perjalanan hidupnya adalah kisah tentang toko bunga. Demi membantu ekonomi keluarga yang pas-pasan, Ibu Meri pernah membuka usaha kecil itu.

Namun sesaat setelah Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal, sang suami meminta agar toko tersebut ditutup. Alasannya sederhana namun sangat idealis: ia tak ingin ada pihak berperkara yang membeli bunga sebagai bentuk suap terselubung.

Tanpa keluh kesah, Ibu Meri menuruti permintaan itu. Ia melepaskan mimpinya membangun usaha demi menjaga kemurnian kejujuran suaminya. Di titik inilah tampak jelas bahwa ia bukan sekadar pendamping, melainkan rekan seperjuangan dalam menjaga integritas. Ia menunjukkan bahwa cinta sejati adalah kesediaan untuk hidup prihatin demi kebenaran.

Ketika Jenderal Hoegeng dipensiunkan lebih awal karena keberaniannya membongkar kasus-kasus besar, Ibu Meri tetap berdiri tegar di sisinya. Mereka menjalani hidup di rumah sederhana, tanpa tabungan melimpah dan tanpa pengawalan. Dalam masa-masa sunyi itu, mereka tetap mandiri: Ibu Meri merajut usaha-usaha kecil, sementara Pak Hoegeng melukis dan bermusik untuk menyambung hidup.

Mereka dikenal konsisten menolak tawaran mobil dan fasilitas mewah dari pihak-pihak yang merasa iba. Bagi Ibu Meri dan Pak Hoegeng, hidup apa adanya jauh lebih mulia daripada berutang budi pada pihak yang keliru.

Prinsip hidup ini menjadi kompas bagi anak-anak mereka sekaligus teladan bagi Bhayangkari di seluruh Indonesia. Ibu Meri seolah hendak menegaskan bahwa martabat manusia tidak diukur dari tebalnya saldo bank, melainkan dari bersihnya nama di hadapan Tuhan dan sesama.

Hingga akhir hayatnya, Ibu Meri tetap menjadi narasumber moral bagi generasi muda—seorang “profesor kejujuran” yang terus menuturkan kisah integritas suaminya, bukan untuk membanggakan diri, melainkan agar nilai-nilai itu tak lapuk dimakan zaman.

Kini, Meriyati Hoegeng telah bersatu kembali dengan sang Jenderal dalam keabadian.

Selamat jalan, Ibu Meriyati Hoegeng. Dedikasi dan kesederhanaanmu adalah warisan yang jauh lebih abadi daripada apa pun di dunia ini. (*)

BACA JUGA: Renungan Deden Ridwan: Belajar Lurus dari Jenderal Hoegeng

Exit mobile version