Penembakan di sekolah telah menjadi kenyataan suram, terjadi terlalu sering di Amerika Serikat, namun upaya untuk memberlakukan undang-undang kepemilikan senjata yang lebih ketat terus menghadapi pertentangan keras dari kelompok konservatif dan politisi.
JERNIH – Pada hari Rabu (27/8/2025), saat para siswa terus kembali ke sekolah minggu ini setelah libur musim panas, seorang pria dengan tiga senjata melepaskan puluhan peluru ke arah misa sekolah di Gereja Katolik Annunciation di Minneapolis, Minnesota, menewaskan dua anak dan melukai 17 lainnya.
Penembakan itu berakhir ketika tersangka, Robin Westman yang berusia 23 tahun, “mengakhiri hidupnya” di belakang gereja, kata kepala polisi Minneapolis Brian O’Hara. Pihak berwenang masih menyelidiki motifnya.
Penembakan hari Rabu adalah penembakan sekolah paling mematikan tahun ini dan satu-satunya insiden dengan jumlah korban terbanyak sejak penembakan Sekolah Dasar Robb di Uvalde, Texas , pada tahun 2022, di mana seorang pria menembak mati 19 siswa dan dua guru, serta melukai 17 lainnya.
Menurut Education Week, telah terjadi 229 penembakan di sekolah yang mengakibatkan cedera atau kematian sejak 2018, termasuk 24 kasus masing-masing pada tahun 2018 dan 2019, 10 kasus pada tahun 2020, 35 kasus pada tahun 2021, 51 kasus pada tahun 2022, 38 kasus pada tahun 2023, dan 39 kasus pada tahun 2024.
AS secara luar biasa memiliki jumlah penembakan di sekolah tertinggi di dunia. Negara-negara lain memang mengalami penembakan di sekolah, tetapi jarang terjadi. Salah satu insiden serupa tahun ini terjadi di sebuah sekolah di Graz, Austria, pada 10 Juni, ketika seorang mantan siswa melepaskan tembakan, menewaskan 10 orang dan melukai 11 lainnya. Insiden ini merupakan penembakan di sekolah terburuk dalam sejarah Austria.
Penembakan di sekolah telah menjadi kenyataan suram, terjadi terlalu sering di Amerika Serikat, namun upaya untuk memberlakukan undang-undang kepemilikan senjata yang lebih ketat terus menghadapi pertentangan keras dari kelompok konservatif dan politisi.
Menghitung angka pasti insiden-insiden penembakan di sekolah ini tidak selalu mudah. Jumlahnya berbeda-beda tergantung pada bagaimana penembakan didefinisikan, apakah terjadi cedera atau kematian, dan basis data mana yang digunakan.
Mengutip laporan Al Jazeera data soal jumlah penembakan di sekolah AS bervariasi. Layaknya penembakan massal, penembakan di sekolah dilacak oleh berbagai basis data yang menggunakan kriteria berbeda. Beberapa basis data menerapkan definisi yang luas, sementara yang lain hanya mencakup insiden yang paling parah.
Definisi Paling Luas tercatat 146 insiden
Catatan dari definisi ini mencatat setiap insiden di lingkungan sekolah K-12 di mana senjata api ditembakkan, diacungkan dengan sengaja, atau peluru mengenai lingkungan sekolah, terlepas dari apakah ada yang terluka atau tewas. Ini termasuk penembakan massal, kekerasan dalam rumah tangga, penembakan di pertandingan olahraga atau acara sepulang sekolah, bunuh diri, perkelahian yang berujung tembak-menembak, dan pelepasan peluru secara tidak sengaja. Menurut definisi ini, telah terjadi 146 insiden kekerasan bersenjata tahun ini.
Definisi Sedang dengan 91 insiden
Sumber lain, Everytown for Gun Safety, menggunakan data dari Basis Data Penembakan Sekolah K-12 untuk memetakan dan menganalisis insiden pelepasan senjata api di lingkungan sekolah. Everytown mencatat insiden senjata api yang mengakibatkan seseorang tewas atau terluka, serta insiden di mana senjata api ditembakkan namun tidak ada yang tertembak.
Insiden di mana senjata api dibawa ke sekolah tetapi tidak ditembakkan tidak termasuk. Menurut definisi ini, telah terjadi 91 insiden penembakan di lingkungan sekolah tahun ini.
Definisi Paling Ketat dengan 8 Insiden
Basis data ketiga, Education Week, menggunakan definisi yang paling ketat. Kasusnya dihitung hanya penembakan yang menyebabkan cedera atau kematian di lingkungan sekolah atau bus selama jam sekolah atau acara sekolah. Menurut definisi ini, telah terjadi delapan penembakan di sekolah tahun ini yang mengakibatkan korban jiwa.