oleh : Emi Suy
Lucu juga ya, niatnya minta “dikata-katain” langsung di halaman tanda tangan buku, malah ditulis oleh penulisnya minta dikata-katain di Facebook. Ada semacam kekeliruan kecil yang justru terasa manusiawi dan hangat. Kadang yang terbalik seperti itu malah meninggalkan cerita.
Luka yang Tak Lelah Berdoa bukan sekadar kumpulan puisi tentang kesedihan. Buku ini berbicara tentang manusia yang mencoba tetap hidup di tengah reruntuhan batinnya sendiri. Tentang bagaimana luka tidak selalu ingin disembuhkan; kadang ia hanya ingin didengar, ditemani, lalu diajak pulang perlahan.
Armen Setiaji Untung menulis dengan cara yang kontemplatif dan filosofis, tetapi tetap dekat dengan keseharian manusia. Ia memadukan spiritualitas, sejarah, filsafat, kota, dan tubuh manusia menjadi lanskap puisi yang gelap namun hangat. Di dalamnya kita menemukan Rabiah, Aristoteles, Eratosthenes, hujan, sumur, malam, dan lorong-lorong sunyi yang terasa seperti cermin batin kita sendiri.
Yang menarik, buku ini tidak menawarkan jawaban pasti. Ia lebih seperti percakapan panjang dengan diri sendiri. Puisi-puisinya bergerak pelan, seperti seseorang yang duduk di depan jendela malam sambil mencoba memahami mengapa manusia tetap harus berjalan meski berkali-kali patah.
Tema terbesar buku ini adalah: bahwa doa bukan hanya ritual,
tetapi cara manusia bertahan dari kehancuran.
Luka dalam buku ini bukan luka yang dramatis. Ia hadir sebagai sesuatu yang diam-diam hidup bersama manusia: rasa kehilangan, kesepian, pencarian makna, kegagalan memahami diri sendiri, hingga kerinduan kepada Tuhan yang kadang terasa jauh.
Bahasa Armen penuh metafora dan citraan surealis. Kadang terasa seperti mimpi yang belum selesai diterjemahkan. Namun justru di situlah kekuatannya: ia menciptakan ruang bagi pembaca untuk masuk dan menemukan makna masing-masing.
Buku ini cocok dibaca perlahan. Tidak untuk dikejar selesai, tetapi untuk ditemani. Sebab beberapa puisi di dalamnya terasa seperti doa kecil yang ditulis seseorang pada pukul dua pagi ketika dunia terlalu sunyi dan manusia hanya memiliki dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Luka yang Tak Lelah Berdoa mengingatkan kita bahwa manusia mungkin bisa kehilangan banyak hal: arah, cinta, rumah, bahkan dirinya sendiri. Tetapi selama masih bisa berdoa dengan kata-kata, air mata, atau puisi, ia belum sepenuhnya kalah…
Ada buku-buku puisi yang datang seperti tamu sopan: mengetuk pelan, duduk sebentar, lalu pulang tanpa meninggalkan jejak apa pun di dada pembacanya. Tetapi Luka yang Tak Lelah Berdoa karya Armen Setiaji Untung bukan jenis buku seperti itu. Buku ini lebih mirip seseorang yang duduk lama di ruang tamu batin kita, membuka jendela perlahan, lalu membiarkan angin malam masuk bersama bau tanah, doa, dan kegelisahan manusia.
Saya membaca buku ini seperti mendengar seseorang berbicara kepada dirinya sendiri di tengah malam lirih, tetapi terus-menerus memantul di kepala. Ada semacam kesadaran bahwa puisi-puisi di dalamnya tidak sedang berusaha menjadi indah. Ia sedang berusaha jujur. Dan kejujuran, sering kali, jauh lebih menggetarkan daripada metafora yang terlalu rapi.
Armen menulis puisi seperti orang menyalakan lampu di rumah yang lama ditinggalkan. Kadang lampunya redup. Kadang berkedip. Kadang nyaris padam. Tetapi justru di situlah kita melihat bagaimana sunyi bekerja.
Dalam puisi Mata Rabiah, misalnya, Rabiah tidak hadir sebagai tokoh sejarah atau ikon spiritual yang jauh dari tubuh manusia modern. Ia hadir sebagai perempuan yang membakar dirinya sendiri demi menemukan bentuk cinta yang tak bisa dijelaskan akal. Ada larik yang terasa seperti desir doa:
“Ia menyiram neraka dengan air mawar,
dan menutup pintu surga dengan nafasnya.”
Saya membacanya lama sekali. Sebab di zaman ketika banyak orang beribadah demi transaksi keselamatan, Armen justru menghadirkan cinta yang nyaris gila: cinta yang tidak lagi menghitung pahala dan hukuman.
Puisi-puisi dalam buku ini bergerak di antara filsafat, spiritualitas, kota, tubuh, sejarah, dan luka sehari-hari. Kita akan bertemu Aristoteles, Eratosthenes, Rabiah, pasar, hujan, sumur, dan lorong-lorong batin manusia yang terasa akrab.
Tetapi menariknya, Armen tidak menjadikan nama-nama besar itu sebagai pajangan intelektual. Ia membumikan mereka. Membuat mereka duduk di warung kopi batin kita.
Pada puisi Surat dari Aristoteles di Malam Ketujuh, saya merasa sedang membaca seseorang yang lelah berpikir, tetapi tak bisa berhenti mencari makna. Ada kegamangan manusia modern di sana: manusia yang terlalu sadar akan hidupnya sendiri.
Lalu pada Eratosthenes Menulis di Atas Bayangan, ilmu pengetahuan berubah menjadi puisi kontemplatif. Bayangan matahari, tongkat, dan bumi tidak lagi sekadar teori geografi, tetapi menjadi cara manusia memahami dirinya sendiri. Armen tampaknya percaya bahwa pengetahuan dan spiritualitas tidak perlu saling membunuh. Keduanya bisa duduk semeja dalam puisi.
Yang juga menarik adalah cara Armen membangun suasana. Banyak puisinya terasa seperti mimpi yang belum selesai ditafsirkan. Ada gurun, lampu, hujan, daun, lorong, laut, dan malam yang terus muncul seperti simbol-simbol bawah sadar. Kadang absurd, kadang surealis, tetapi tetap memiliki denyut emosional.
Namun justru di beberapa bagian, saya merasa Armen terlalu jatuh cinta pada metafora. Ada puisi-puisi yang begitu penuh citraan sampai nyaris kehilangan ruang bernapas. Seolah semua benda ingin dijadikan simbol sekaligus. Pembaca perlu berhenti beberapa kali untuk mengurai kabut yang sengaja ditebalkan. Tetapi mungkin memang di sanalah watak buku ini: ia tidak ingin dibaca tergesa-gesa.
Buku ini juga memiliki napas spiritual yang kuat tanpa menjadi khotbah. Ia tidak menggurui. Ia lebih mirip seseorang yang duduk di samping kita sambil berkata:
“aku juga pernah hancur, mari kita diam sebentar.”
Dan mungkin itu sebabnya buku ini terasa hangat meski dipenuhi kesunyian.
Kalimat Armen di bagian biografi menjadi semacam kunci untuk membaca seluruh buku ini:
“Menulis puisi adalah cara menyelamatkan diri sendiri.”
Ya. Buku ini memang terasa seperti upaya menyelamatkan diri. Dari kebisingan. Dari kehilangan makna. Dari dunia yang terlalu cepat menertawakan luka.
Saya membayangkan Armen menulis puisi-puisi ini bukan di ruang sastra yang mewah, melainkan di sela-sela malam yang panjang, ketika sebagian besar orang memilih tidur dan hanya sedikit orang yang masih berani bercakap dengan dirinya sendiri.
Luka yang Tak Lelah Berdoa bukan buku puisi yang ingin memamerkan kecanggihan bahasa. Ia ingin menjadi ruang pulang bagi orang-orang yang diam-diam sedang retak.
Dan bukankah kadang kita memang membutuhkan puisi seperti itu?
Puisi yang tidak sibuk menjadi pintar.
Puisi yang mau duduk bersama luka.
Puisi yang tidak menyuruh kita kuat, tetapi menemani kita saat rapuh.
Menjahit Sunyi yang Tak Pernah Selesai. Pada akhirnya, manusia tidak benar-benar hidup dari jawaban. Kita hidup dari hal-hal kecil yang diam-diam membuat kita bertahan: secangkir kopi yang mulai dingin di meja malam, suara hujan di genting rumah, wajah ibu yang tiba-tiba muncul di kepala saat kota terlalu bising, atau satu puisi yang terasa seperti seseorang sedang memegang pundak kita pelan-pelan.
Barangkali itulah yang dilakukan buku ini.
Luka yang Tak Lelah Berdoa tidak sedang berusaha menjadi kitab kebijaksanaan. Ia hanya ingin menjadi teman duduk bagi orang-orang yang terlalu lama berbicara dengan dirinya sendiri. Orang-orang yang tampak baik-baik saja di siang hari, tetapi diam-diam runtuh ketika malam datang membawa suara-suara yang tak selesai.
Armen Setiaji Untung menulis puisi seperti seseorang menjahit kain robek dengan tangan gemetar. Tidak semua jahitannya rapi. Tidak semua lukanya tertutup sempurna. Tetapi justru di situlah kita melihat manusia bekerja: rapuh, gugup, namun tetap mencoba menyelamatkan dirinya sendiri dari kehancuran.
Ada banyak malam di buku ini. Ada banyak langit, hujan, sumur, bayangan, dan doa-doa yang seperti kehilangan alamat. Tetapi di balik semua itu, saya menemukan sesuatu yang lebih sunyi: seorang manusia yang sedang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.
Dan bukankah kita semua sedang melakukan hal yang sama?
Kita tumbuh sambil menyembunyikan retak.
Kita tertawa sambil memunguti reruntuhan batin sendiri.
Kita berjalan di tengah keramaian sambil membawa kuburan-kuburan kecil di dada.
Puisi-puisi dalam buku ini seperti lorong panjang yang remang-remang. Tidak selalu memberi jalan keluar, tetapi cukup memberi cahaya agar kita tidak tersesat sepenuhnya.
Saya percaya, setiap penyair sesungguhnya hanyalah penjahit sunyi.
Ia mengumpulkan sobekan ingatan, serpihan doa, kegagalan, cinta, kehilangan, lalu menjahitnya menjadi bahasa agar manusia lain merasa:
“aku tidak sendirian.”
Dan ketika buku ini selesai dibaca, mungkin tidak semua puisinya tinggal di kepala. Tetapi beberapa lariknya akan menetap diam-diam di tubuh kita seperti bau hujan yang tertinggal di pakaian.
Mungkin bertahun-tahun nanti, saat hidup terasa terlalu berat, seseorang akan membuka kembali halaman buku ini dan menemukan dirinya sendiri di sana.
Karena puisi yang baik tidak selesai ketika dibaca.
Ia hidup diam-diam di dalam luka manusia.
Dan beberapa luka, memang tidak pernah ingin sembuh sepenuhnya.
Ia hanya ingin ditemani.
Tabik,
Salam sukses selalu Mas Armen S Untung & Mbak Niken Aristianingrum 🙏
**bagi teman-teman yang tertarik dan ingin punya buku ini bisa hub Mas Aji ya Gaess ….WA atau Inbox FB Mas Aji…
atau kontak toko buku Tarebooks Taresia ya Gaess….
Salam puisi yang tak pernah lelah
Salam dari Emi Suy di Planet Cengkareng, 11 Mei 2026
