
Dalam gempuran kultur barat yang terus menguat, penggiat seni dan akademisi menahannya lewat serangkaian seni tradisional berbaur modern. Digelar di kaki Gunung Muria semakin menyatukan nilai seni bersama alam.
WWW.JERNIH.CO – Suara terompet, saxophone, dan trombone melengking di udara Desa Menawan, Kudus, Jawa Tengah. Alunan musik barat ini terdengar harmonis saat berpadu dengan tabuhan gamelan dari musisi asal Prancis, sementara tiga penari Indonesia bergerak gemulai di antaranya.
Pemandangan ini menjadi pembuka Festival Muria Raya (FMR) #6, di mana kelompok gamelan asal Prancis, Compagnie Kotekan, menunjukkan daya pikat global tradisi lokal. Presiden Compagnie Kotekan, Sarah Andrieu, menuturkan bahwa gamelan membuka ruang bagi siapa saja untuk berkarya bersama. Namun, FMR #6 bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan gerakan kebudayaan yang hidup di tengah warga.

Mengusung tema Tepuk Gelang, FMR #6 yang berlangsung sepanjang 5–30 Agustus 2026 mengelilingi kawasan Gunung Muria dalam ritual perjalanan atau pradaksina untuk menyambungkan desa demi desa. Perjalanan ini dimulai dari Desa Menawan, berlanjut ke Desa Japan, dan bermuara di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo, Pati.
Brian Trinanda K. Adi, Ketua Yayasan Festival Muria Raya sekaligus kandidat doktor dari University of Amsterdam, menjelaskan bahwa Tepuk Gelang merefleksikan dua ujung yang bertemu membentuk lingkaran sebagai simbol ikatan persaudaraan antarmanusia dan elemen alam. Bagi Brian dan timnya, perjalanan mengelilingi kaki gunung ini adalah upaya spiritual untuk merajut silaturahmi masyarakat se-Muria Raya agar tak pernah putus.
Di Desa Japan, napas festival terasa makin nyata dalam keseharian warga karena seni lebur dalam interaksi langsung. Seniman lokal Rara Onky mengajar tembang macapat kepada para remaja, sementara M. Choirul Anam tergerak untuk mulai mengarsip sejarah desanya.
Di sisi lain, Cucu Khabib Yahya, seorang dalang wayang kulit lokal, mendapat sudut pandang baru setelah berkolaborasi dengan seniman residensi. Ia menyadari bahwa seni tidak semata-mata soal uang, melainkan ruang belajar, dialog, dan perjumpaan.
Bukti lain bahwa tradisi Muria terus bernapas adalah hadirnya Gatotkaca atau Gamelan Total Kaca. Berbeda dari gamelan umum yang terbuat dari perunggu atau besi, instrumen ini dibuat dari limbah kaca yang dilebur dalam tungku khusus dan dikembangkan melalui riset organologi.
Inovasi ini mematahkan stigma kuno bahwa menjaga tradisi berarti melarang perubahan, sekaligus membuktikan bahwa tradisi tetap hidup karena berani bereksperimen dan menyesuaikan zaman tanpa kehilangan rohnya.

Keseruan FMR #6 mencapai puncaknya pada 29–30 Agustus 2026 di Dukuh Dombyang melalui acara Gelar Cakra Manggilingan, di mana puluhan seniman dari berbagai daerah hingga mancanegara tampil membagikan karya mereka. Sebuah batu berukir Aksara Waja bernama Prasastu juga diboyong sepanjang rute festival sebagai simbol persaudaraan antara penyelenggara dan warga. Maliyana Nur Rahma dari Tim Media FMR menegaskan bahwa festival ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan yang memosisikan kebudayaan sebagai bekal hidup masyarakat.
Satu putaran FMR #6 kini telah resmi usai di Jepalo, selaras dengan makna Cakra Manggilingan tentang roda kehidupan yang terus berputar. Tantangan utamanya sekarang adalah menjaga agar dialog, pengarsipan sejarah desa, dan jejaring persaudaraan yang telah terbangun tidak ikut padam seiring berakhirnya festival.
Di kaki Gunung Muria, satu putaran telah genap, dan kini giliran warga beserta generasi penerus yang memutar roda tradisi tersebut selanjutnya.(*)
BACA JUGA: AKSI ESTETIK SENIMAN BANDUNG MENGGEDOR KESADARAN
