Site icon Jernih.co

Militan Tentara Merah Jepang Kozo Okamoto Meninggal di Lebanon pada Usia 78 Tahun

Kozo Okamoto (kiri) adalah satu-satunya anggota yang masih hidup dari unit Tentara Merah Jepang yang melakukan serangan Lod (Foto: Getty)

JERNIH – Kozo Okamoto, militan Tentara Merah Jepang (Japanese Red Army/JRA) yang menjadi satu-satunya pelaku selamat dalam serangan Bandara Lod di Israel pada 1972 yang menewaskan 26 orang, meninggal dunia di Lebanon pada usia 78 tahun.

Kabar kematian Okamoto diumumkan oleh Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP), kelompok Palestina yang menyatakan ia meninggal pada 23 Juli 2026 di kawasan pinggiran selatan Beirut, tempat ia tinggal selama beberapa dekade setelah memperoleh suaka politik dari pemerintah Lebanon.

Okamoto merupakan satu dari tiga anggota JRA yang melancarkan serangan di Bandara Lod—kini bernama Bandara Ben Gurion—pada 30 Mei 1972 atas nama PFLP. Aksi tersebut tercatat sebagai salah satu serangan paling mematikan dalam sejarah Israel.

Ketiga pelaku tiba di Israel menggunakan penerbangan dari Paris. Setelah mengambil senjata api dan granat dari bagasi mereka, mereka melepaskan tembakan di area kedatangan bandara.

Serangan itu menewaskan 26 orang, termasuk warga sipil Israel dan pengunjung asing, di antaranya rombongan peziarah Kristen asal Puerto Rico, serta melukai puluhan orang lainnya. Dua rekan Okamoto tewas dalam serangan tersebut, sementara Okamoto sendiri terluka dan ditangkap aparat Israel.

Di pengadilan militer Israel, Okamoto mengaku bersalah dan dijatuhi hukuman tiga kali penjara seumur hidup. Pengacaranya sempat berargumen bahwa kliennya mengalami gangguan mental saat melakukan serangan, namun klaim itu ditolak pengadilan.

Ia mendekam di penjara hingga 1985, ketika Israel membebaskannya dalam Perjanjian Jibril, sebuah pertukaran tahanan dengan Popular Front for the Liberation of Palestine-General Command (PFLP-GC) yang menghasilkan pembebasan tiga tentara Israel yang ditawan.

Setelah dibebaskan, Okamoto sempat berpindah melalui Libya dan Suriah sebelum akhirnya menetap di Lebanon.

Diberi suaka politik Lebanon

Pada 1997, otoritas Lebanon menangkap Okamoto bersama beberapa anggota JRA lainnya karena tinggal secara ilegal menggunakan dokumen palsu. Empat anggota lainnya dideportasi ke Jepang, tetapi Lebanon menolak permintaan ekstradisi dari Tokyo dan memberikan suaka politik kepada Okamoto pada tahun 2000. Saat itu ia menyatakan, “Saya adalah pejuang perlawanan Arab. Saya melakukan ini untuk rakyat Palestina.”

Lahir pada 1947, Okamoto bergabung dengan Japanese Red Army, organisasi militan revolusioner berhaluan Marxis-Leninis yang menjalin hubungan erat dengan PFLP di Lebanon pada awal 1970-an.

Aliansi tersebut membuat para militan Jepang ikut terlibat dalam operasi bersama faksi-faksi Palestina, termasuk serangan Bandara Lod. Dalam tahun-tahun berikutnya, JRA juga melakukan serangkaian pembajakan pesawat dan serangan terhadap misi diplomatik di Eropa, Timur Tengah, dan Asia.

Meski Japanese Red Army secara resmi dibubarkan pada 2001 setelah pendirinya, Fusako Shigenobu, ditangkap, Okamoto tetap tinggal di Lebanon. Di kalangan PFLP dan sebagian pendukung perjuangan Palestina, ia dipandang sebagai revolusioner internasional yang berjuang bersama rakyat Palestina.

Ia beberapa kali muncul di hadapan publik, termasuk pada upacara di Beirut tahun 2022 untuk memperingati 50 tahun serangan Bandara Lod, ketika ia mengenakan bendera Palestina dan lambang PFLP. PFLP mengumumkan kematiannya dengan menyebut Okamoto sebagai “kawan seperjuangan dalam perjuangan Palestina.”

Exit mobile version