Jernih.co

Misi ‘Die Empty’ Nadhira Al Harthy di Puncak Dunia

Perjalanan hidupnya dari seorang guru geografi hingga menjadi perintis pendakian dunia berujung puitis di lereng Broad Peak, tempat ia menunaikan janji terbesarnya: gugur saat mengosongkan seluruh potensi dan inspirasi demi membakar semangat generasi muda.

WWW.JERNIH.CO – Di lanskap Jazirah Arab yang identik dengan hamparan gurun pasir nan luas, ternyata tersimpan jejak-jejak ketangguhan para penakluk puncak tertinggi dunia. Salah satu nama paling bersinar dari wilayah tersebut adalah Nadhira bint Ahmed Abdullah Al Harthy (Nadira Ahmed), srikandi perintis asal Kesultanan Oman.

Namun, sayang Nadhira Ahmed kini tinggal nama. Ketika ia tercantum sebagai salah satu korban bencana longsoran salju meluluhlantakkan Gunung Broad Peak (8.051 mdpl) di Karakoram, Pakistan, pada 30 Juli 2026.

Tragedi naas tersebut merenggut 10 korban jiwa pendaki papan atas dunia, termasuk figur legendaris asal Nepal, Nirmal “Nimsdai” Purja yang memimpin ekspedisi beserta pendaki lintas negara.

Lahir pada November 1978, Nadhira selain pendaki gunung profesional, juga seorang aparatur sipil negara yang mengabdi sebagai Direktur Kewarganegaraan di Kementerian Pendidikan Oman setelah sebelumnya empat tahun mengajar geografi. Sosoknya diakui secara luas di kawasan Timur Tengah sebagai pahlawan olahraga dan simbol keberanian wanita Arab yang berhasil menembus batasan tradisi demi mengejar mimpi di panggung dunia.

Latar belakang pendidikan Magister Geografi dari Rustaq College of Education memberikan Nadhira pemahaman teoretis yang kuat mengenai bentang alam dan medan ekstrem pegunungan tinggi. Dalam kehidupan pribadinya, Nadhira sangat menjaga privasi keluarganya; ia bahkan berlatih fisik secara ketat di gym dan trek lokal selama berbulan-bulan tanpa memberi tahu keluarganya, lalu baru mengungkapkan rencananya mendaki Everest dua bulan sebelum keberangkatan untuk menghemat kecemasan orang-orang tercinta.

Perjalanan pendakiannya dimulai pada 2015 ketika ia memimpin siswa Oman ke Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania. Meski sempat gagal akibat altitude sickness, kegagalan itu membakar semangatnya. Di bawah bimbingan mentor Khalid Al Siyabi, Nadhira mengukir sejarah sebagai wanita Oman pertama di Puncak Everest pada Mei 2019, wanita Arab pertama yang menaklukkan K2 dan Manaslu, hingga memimpin ekspedisi ke Nanga Parbat pada Juli 2024, sebelum akhirnya menargetkan Broad Peak dan Gasherbrum I dalam proyek 14 Puncak dunia pada musim panas 2026.

Takdir tak dapat ditolak, saat mendaki Broad Peak di musim yang bagus itu, avalanche merontokkan semua rencananya.

Di balik deretan rekor dan transformasi dunia pendakian Oman yang diusungnya, salah satu warisan paling mendalam dari Nadhira terletak pada filosofi hidupnya. Dalam sebuah wawancara, ia pernah melontarkan kalimat yang begitu membekas: “Saya ingin ‘die empty’ (meninggal dalam keadaan ‘kosong’)—artinya saya tidak ingin meninggalkan dunia ini dengan membawa ilmu, pengalaman, dan inspirasi yang masih tersimpan di dalam diri saya. Saya ingin membagikan semuanya kepada generasi muda sebelum ajal menjemput.”

Makna dari kutipan ini mencerminkan tekad kuat Nadhira untuk tidak menyisakan potensi, keberanian, atau pengetahuan geografisnya hanya untuk diri sendiri. Ia memilih untuk mencurahkan seluruh energi hidupnya guna memotivasi kaum muda dan meruntuhkan stigma gender di kawasan Teluk, memastikan bahwa jiwanya telah “dikosongkan” demi memberi manfaat bagi sesama.

Kepergian Nadhira di lereng Broad Peak memberikan makna yang sangat puitis dan monumental atas janji hidup yang diucapkannya. Wafat di tengah perjuangan menaklukkan puncak-puncak tertinggi bumi bersama para pendaki terbaik dunia menandakan bahwa ia telah benar-benar “mengosongkan” seluruh rasa takut, cita-cita, dan dedikasinya di tempat yang paling ia cintai.

Kematian Nadhira bukan berarti impiannya terhenti, melainkan penyempurnaan dari pengabdiannya; seluruh ilmu, keberanian, dan rekam jejaknya kini telah berpindah menjadi warisan abadi bagi tumbuh pesatnya komunitas trekking dan pendakian di Oman. (*)

BACA JUGA: Sinyal Terakhir di Broad Peak, Saat Data GPS  Nimsdai Purja Terdeteksi

Exit mobile version