Sementara mobil konvensional sering kali mati mesin akibat kegagalan sistem pembakaran atau kepanikan pengemudi, mobil listrik menghadapi ancaman yang lebih canggih. Mulai dari sistem komputer yang mengaktifkan Emergency Shutdown akibat guncangan rel, hingga risiko total blackout.
WWW.JERNIH.CO – Kejadian mobil tersangkut atau mogok di atas rel memiliki pola yang berbeda antara mobil bensin konvensional (ICE) dan mobil listrik (EV). Meskipun hasilnya sama-sama berbahaya, pemicu dan mekanismenya memiliki karakteristik teknis yang berbeda.
Pada mobil biasa (bahan bakar bensin atau diesel, mogok biasanya disebabkan oleh kegagalan sistem pembakaran. Pada mobil tua, koil atau dinamo bisa terpengaruh medan magnet kuat dari lokomotif yang mendekat (induksi), menyebabkan percikan api busi hilang dan mesin mati. Jika pengemudi panik dan salah mengoperasikan kopling/gigi saat melewati rel yang tidak rata, mesin juga mudah mati.
Mobil listrik atau EV tidak memiliki sistem pembakaran, sehingga tidak akan “mati mesin” dalam arti konvensional. Namun, EV sangat bergantung pada sistem manajemen elektronik (ECU).
Mobil listrik seperti taksi Green tersebut bisa terhenti karena kerja sistem proteksi (fail-safe). Jika sensor mendeteksi guncangan keras atau gangguan arus listrik (misalnya saat melewati rel yang sangat kasar atau bergetar), sistem komputer mobil mungkin mengaktifkan mode Emergency Shutdown untuk melindungi baterai tegangan tinggi.
Atau bila sistem mendeteksi kesalahan fatal, rem parkir elektronik (Electronic Parking Brake) bisa terkunci secara otomatis, membuat mobil tidak bisa didorong secara manual.

Jalur kereta api, terutama yang menggunakan kabel listrik aliran atas (KAA) seperti jalur KRL Bekasi, memiliki medan elektromagnetik yang sangat besar. Hal ini dapat menyebabkan radiasi voltase tinggi, sementara komponen mobil listrik penuh dengan kabel transmisi tegangan tinggi. Secara teoritis, radiasi elektromagnetik dari infrastruktur kereta atau kereta yang mendekat dapat “meloncat” atau mengganggu sinyal komunikasi internal mobil (Controller Area Network atau CAN bus).
Jika gangguan ini menyerang otak kendaraan (ECU), mobil bisa mengalami total blackout di mana seluruh sistem operasi mati, termasuk kendali kemudi dan penggerak.
Jika mobil biasa mogok, warga sekitar sering kali bisa membantu mendorongnya keluar dari rel dengan cepat. Namun, pada mobil listrik bobot mobil jauh lebih berat karena baterai yang sangat besar. Mobil listrik rata-rata 25%–30% lebih berat daripada mobil bensin seukurannya. Ini membuat evakuasi manual (didorong warga) menjadi sangat sulit di tengah situasi darurat.
Pada banyak model EV, jika daya utama mati, memindahkan transmisi ke posisi Netral (N) untuk didorong memerlukan prosedur digital di layar sentuh. Jika sistem listriknya mati total, roda akan terkunci (Neutral Disengagement) dan mustahil didorong tanpa alat khusus.(*)
BACA JUGA: Tragedi Kereta Bekasi Timur, Misteri Macetnya Taksi Listrik dan Bungkamnya Sinyal