Crispy

Mukthara Air, Pendatang Baru di Langit Indonesia

Mukthara Air si pemain baru mencoba peruntungan di industri penerbangan nasional. Ratusan triliun digelontorkan. Siapa investor di belakang Mukhtara?

JERNIH –  Mukthara Air telah muncul sebagai nama baru yang siap meramaikan persaingan ketat di industri aviasi nasional Indonesia. Berdasarkan informasi yang ada, maskapai ini telah memproyeksikan jadwal penerbangan perdananya untuk awal Januari 2026.

Mengenai operasional dan armada, pesawat pertama yang telah disambut oleh Mukthara Air adalah jenis Airbus A320, yang dikenal sebagai pesawat lorong tunggal yang efisien. Meskipun demikian, rincian mengenai total jumlah armada yang dimiliki saat ini atau target penambahan armada hingga akhir tahun mendatang belum dipublikasikan secara spesifik oleh pihak maskapai.

Mengenai rute, detail penerbangan yang akan dilayani oleh Mukthara Air juga belum dirinci secara publik. Sejauh ini, kabar yang beredar menyebutkan bahwa penerbangan pertama (pengiriman pesawat) mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Nama maskapai ini merupakan bagian dari Manazil Al Mukhtara Company Holding, sebuah perusahaan berbasis di Madinah, yang semakin memperkuat indikasi bahwa nama tersebut diambil dari bahasa Arab dengan makna “pilihan” atau “terbaik”.

Dari sisi kepemilikan dan investasi, masih belum ada konfirmasi resmi mengenai siapa pemilik tunggal atau grup usaha yang menaungi Mukthara Air. Namun, berita-berita di pasar mengisyaratkan adanya keterlibatan investasi dari luar negeri.

Salah satu nama yang disebut-sebut adalah Ali Al Turki Holding Company, sebuah perusahaan yang berbasis di Arab Saudi, yang memiliki keterkaitan dengan entitas penerbangan di Indonesia. Meskipun jumlah investasi spesifik untuk Mukthara Air belum diumumkan, besarnya minat investor luar terhadap sektor ini tercermin dari data terpisah; entitas lain yang berafiliasi dengan penerbangan di Indonesia, yaitu Danantara, pernah mendapatkan kerja sama investasi dari ACWA Power (Arab Saudi) yang nilainya fantastis, mencapai US$10 miliar (sekitar Rp162 triliun).

Pasar penerbangan penumpang di Indonesia didominasi oleh beberapa grup besar. Meskipun sulit menentukan jumlah pasti maskapai yang beroperasi (karena kategori kargo, charter, dan full service), pasar utama dikuasai oleh     Lion Air Group (termasuk Lion Air, Batik Air, Super Air Jet, dan Wings Air). Di BUMN ada Garuda Indonesia Group (termasuk Garuda Indonesia dan Citilink) dan Pelita Air (maskapai milik BUMN).

Secara total, hingga Oktober 2025, Garuda Indonesia dan Citilink mengoperasikan total sekitar 142 armada (dengan mempertimbangkan yang siap terbang). Namun, jumlah ini masih jauh dari kebutuhan ideal.

Menteri BUMN pernah menyatakan bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan, idealnya membutuhkan sekitar 750 pesawat, sementara saat ini jumlah pesawat yang ada baru berkisar 400-an unit. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa kapasitas maskapai yang ada saat ini masih belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan konektivitas di seluruh Indonesia.

Peluang di industri penerbangan Indonesia masih sangat besar dan menjanjikan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia secara geografis sangat bergantung pada transportasi udara untuk menghubungkan wilayah yang luas, menciptakan pasar alami yang terus tumbuh.

Peluang bagi pendatang baru seperti Mukthara Air didorong oleh beberapa faktor kunci misalnya adanya kekurangan sekitar 350 pesawat dari kebutuhan ideal 750 unit menjadi ruang besar bagi maskapai baru untuk menambah kapasitas. Kebutuhan untuk menghubungkan lebih banyak kota-kota tier dua dan tier tiga di luar Jawa dan Sumatera sangat tinggi. Sektor ini menunjukkan pemulihan yang kuat, didorong oleh tingginya permintaan pariwisata domestik dan mobilitas masyarakat yang didukung oleh pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya jumlah kelas menengah.

Pemerintah terus mengembangkan destinasi wisata prioritas baru seperti Labuan Bajo, Danau Toba, dan Mandalika. Maskapai baru dapat mengambil kesempatan dengan membuka rute-rute strategis ke destinasi yang kurang terlayani (underserved). Masuknya investor asing dengan nilai besar, seperti yang ditunjukkan dalam kasus afiliasi yang mencapai US$10 miliar, menunjukkan kepercayaan global terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang sektor penerbangan Indonesia.(*)

BACA JUGA: Helikopter Militer AS dan Jet Penumpang PSA Airlines Tabrakan di Udara, 18 Tewas

Back to top button