Site icon Jernih.co

Mumi Tertua di Dunia Berusia 12.000 Tahun Berasal dari Asia Tenggara Termasuk Indonesia

Foto yang disediakan Hirofumi Matsumura menunjukkan mumi yang berjongkok di Guangxi, Tiongkok, dengan bekas luka bakar di tengkoraknya. (Foto: AP)

JERNIH – Para peneliti menemukan sisa-sisa manusia yang dikubur dalam posisi berjongkok dengan beberapa luka sayat dan bekas terbakar di berbagai situs arkeologi di China dan Vietnam serta pada tingkat yang lebih rendah, di Filipina, Laos, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Para ilmuwan mengungkapkan temuan itu dianggap sebagai mumi tertua yang diketahui di dunia di Asia Tenggara yang berasal dari 12.000 tahun yang lalu. Mumifikasi mencegah pembusukan dengan mengawetkan mayat. Proses ini dapat terjadi secara alami di tempat-tempat seperti pasir Gurun Atacama Chili atau rawa-rawa Irlandia yang dapat menangkal pembusukan.

Manusia di berbagai budaya juga memumikan leluhur melalui pembalseman untuk menghormati atau mengirim jiwa mereka ke akhirat. Mumi Mesir mungkin yang paling terkenal, tetapi sampai sekarang beberapa mumi tertua yang disebut Chinchorro berasal dari sekitar 7.000 tahun lalu di tempat yang sekarang disebut Peru dan Chili.

Namun sebuah studi baru yang diterbitkan Senin (15/9/2025) dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences memundurkan garis waktu itu. Para peneliti menemukan sisa-sisa manusia yang dikubur dalam posisi berjongkok dengan beberapa luka sayatan dan bekas terbakar di berbagai situs arkeologi di Tiongkok dan Vietnam, dan pada tingkat yang lebih rendah, di Filipina, Laos, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Dengan mempelajari tulang-tulang tersebut lebih lanjut, para ilmuwan menemukan bahwa jasad-jasad tersebut kemungkinan terpapar panas. Hal ini menunjukkan bahwa jasad-jasad tersebut telah diasapi di atas api dan dimumikan oleh komunitas pemburu-pengumpul di daerah tersebut.

“Praktik ini memungkinkan orang untuk mempertahankan hubungan fisik dan spiritual dengan leluhur mereka, menjembatani waktu dan ingatan,” ujar penulis studi Hirofumi Matsumura dari Universitas Kedokteran Sapporo di Jepang dalam sebuah email.

“Metode penanggalan yang digunakan pada mumi-mumi tersebut mungkin lebih kuat dan belum jelas apakah mumi-mumi tersebut secara konsisten diasapi di semua lokasi ini di Asia Tenggara,” kata pakar evolusi manusia Rita Peyroteo Stjerna dari Universitas Uppsala di Swedia, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Temuan ini menawarkan “kontribusi penting bagi studi praktik pemakaman prasejarah,” ujarnya dalam sebuah email.

Exit mobile version