- Dalam gelombang terbaru ini, IRGC mengerahkan alutsista paling mematikan dalam inventaris mereka untuk menembus sistem pertahanan udara lawan.
- Serangan rudal berat ini diluncurkan secara simultan dengan gelombang drone bunuh diri untuk menciptakan saturasi pada sistem radar pertahanan musuh.
JERNIH – Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan peluncuran Gelombang ke-41 Operasi Janji Sejati 4 (True Promise 4) pada Kamis (12/3/2026). Serangan masif ini melibatkan kombinasi rudal balistik berat dan drone bunuh diri yang menargetkan aset-aset vital Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
Operasi ini dinyatakan sebagai aksi balasan sekaligus penghormatan atas gugurnya Komandan IRGC Mohammad Bagher Pakpour dalam agresi AS-Israel pada 1 Maret lalu.
Dalam gelombang terbaru ini, IRGC mengerahkan alutsista paling mematikan dalam inventaris mereka untuk menembus sistem pertahanan udara lawan. Seperti rudal Fattah yakni rudal hipersonik dengan hulu ledak mencapai satu ton, juga rudal Khorramshahr yang dilengkapi teknologi hulu ledak ganda (multiple warheads) serta rudal Kheibar Shekan yang membawa hulu ledak destruktif seberat satu ton.
Serangan rudal berat ini diluncurkan secara simultan dengan gelombang drone bunuh diri untuk menciptakan saturasi pada sistem radar pertahanan musuh.
Militer Iran mengonfirmasi bahwa serangan beberapa jam terakhir telah menghantam situs-situs keamanan paling sensitif milik Israel.
- Pangkalan Udara Palmachim: Menara kontrol pangkalan dekat Tel Aviv ini dilaporkan terkena hantam. Fasilitas ini merupakan pusat peluncuran satelit, pengujian rudal, serta markas sistem pertahanan David’s Sling dan UAV Hermes 900.
- Pangkalan Udara Ovda: Situs pelatihan udara strategis yang dikenal sebagai tempat penempatan jet tempur F-22 AS.
- Markas Besar Shin Bet: Pusat operasional intelijen internal Israel yang bertanggung jawab atas perlindungan pejabat senior dan infrastruktur penting.
Untuk pertama kalinya, Iran secara terbuka menyatakan bahwa operasi ini dilakukan melalui koordinasi langsung dengan Perlawanan Islam di Lebanon (Hizbullah). Gelombang ke-40 yang dilancarkan sebelumnya menggunakan sandi “Ya Amir al-Mu’minin” dan berhasil menghantam lebih dari 50 lokasi di Tel Aviv, Al-Quds (Yerusalem), dan Haifa.
Pada saat yang sama, Hizbullah meluncurkan Operasi Devoured Straw dengan menembakkan lebih dari seratus roket ke wilayah utara Palestina yang diduduki, menambah tekanan psikologis bagi warga pemukim yang telah hidup di bawah bunyi sirene selama 11 hari berturut-turut.
Di tengah serangan udara, Angkatan Laut IRGC menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz. Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa militer AS dan sekutunya tidak memiliki hak untuk melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Pangkalan-pangkalan AS di wilayah Teluk, termasuk Al-Azraq dan Al-Kharj, dilaporkan juga menjadi sasaran rudal balistik jenis Qadr dan Emad dalam gelombang serangan ke-39.
Penggunaan rudal hipersonik Fattah dan koordinasi terbuka dengan Hizbullah menandakan pergeseran strategi Iran dari “perang bayangan” menjadi konfrontasi langsung yang sangat terbuka. Dengan Selat Hormuz yang terancam diblokade, konflik ini berpotensi memicu krisis energi global jika tidak segera diredam.
