Site icon Jernih.co

Otak Kolonialisme Senator AS Lindsey Graham: Perang Iran Adalah Investasi, Kita Akan Cetak Banyak Uang

Lindsey Graham (Foto: AFP)

JERNIH – Senator senior Partai Republik, Lindsey Graham, memicu gelombang kecaman internasional setelah secara terbuka menyebut perang melawan Iran sebagai sebuah investasi besar untuk menguasai cadangan minyak dunia.

Dalam sebuah wawancara blak-blakan dengan Fox News, Graham menyatakan bahwa kejatuhan rezim Teheran akan membuka jalan bagi kemakmuran ekonomi Amerika Serikat yang tak terbayangkan. “Ketika rezim ini jatuh, kita akan memiliki Timur Tengah yang baru, dan kita akan mencetak berton-ton uang,” ujar Graham pada hari Minggu (8/6/2026).

Graham, yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling agresif (hawkish) di Washington, secara terang-terangan menghubungkan operasi militer di Iran dengan penangkapan pemimpin sayap kiri Venezuela, Nicolas Maduro. Menurutnya, kedua negara tersebut adalah kunci dominasi energi global.

“Venezuela dan Iran memiliki 31 persen cadangan minyak dunia. Kita akan menjalin kemitraan dengan pemegang 31 persen cadangan yang diketahui ini. Ini adalah mimpi buruk bagi China. Ini adalah investasi yang bagus,” tegas Graham.

Pernyataan ini seolah mengonfirmasi tuduhan Teheran selama ini bahwa agresi militer AS-Israel bukan didasari oleh ancaman keamanan, melainkan ambisi ekonomi untuk merampas kekayaan sumber daya alam.

Merespons pernyataan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuduh Washington sedang menjalankan skenario kolonialisme modern.

“Desain mereka jelas: mereka bertujuan mempartisi (memecah belah) negara kami untuk mengambil kepemilikan ilegal atas kekayaan minyak kami,” ujar Baghaei pada Senin (9/3/2026). Ia menambahkan bahwa tujuan akhir AS adalah melanggar kedaulatan dan merendahkan martabat rakyat Iran.

Graham juga mengungkap perannya dalam “melatih” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melobi Presiden Donald Trump agar meluncurkan serangan gabungan pada 28 Februari lalu. Graham mengaku sering melakukan perjalanan ke Israel untuk bertemu badan intelijen Mossad.

“Mereka memberitahu saya hal-hal yang bahkan pemerintah kami sendiri tidak memberitahukannya,” klaim Graham. Menurut laporan The Wall Street Journal, Netanyahu kemudian mempresentasikan data intelijen tersebut yang akhirnya “meyakinkan” Trump bahwa Iran adalah ancaman mendesak—klaim yang dibantah oleh para ahli hukum internasional dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Komentar Graham muncul saat ekonomi global mulai merasakan dampak destruktif perang. Harga minyak dunia telah melonjak melampaui US$111 per barel, menyebabkan gangguan logistik di seluruh dunia.

Sebagai balasan atas serangan AS-Israel, Iran meluncurkan rentetan rudal ke negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Kuwait. Hal ini memaksa penutupan wilayah udara dan melumpuhkan pengiriman tanker bahan bakar di jalur vital global.

Tidak berhenti di Timur Tengah, Graham memberikan isyarat bahwa pemerintahan Trump mungkin akan segera mengalihkan moncong senjatanya ke arah Amerika Latin. Sambil mengenakan topi bertuliskan “Free Cuba”, Graham memberikan peringatan keras.

“Lihat topi ini? ‘Bebaskan Kuba’. Tetaplah pantau. Pembebasan Kuba sudah di depan mata. Kita sedang berbaris melalui dunia. Kita sedang membersihkan orang-orang jahat. Kuba adalah berikutnya,” seru Graham.

Pernyataan ini selaras dengan keinginan Presiden Trump dan Sekretaris Negara Marco Rubio untuk memaksakan perubahan rezim di Havana, yang telah berada di bawah embargo perdagangan AS selama puluhan tahun.

Jejak Intervensi Lindsey Graham

Lindsey Graham tercatat mendukung hampir seluruh intervensi militer AS yang berakhir dengan kehancuran di Timur Tengah dalam dua dekade terakhir. Seperti di Irak (2003) yang menewaskan lebih dari 270.000 warga sipil dan memicu lahirnya kelompok radikal ISIS.

Ia juga mendukung serangan yang menyebabkan jutaan orang mengungsi dan negara terpecah dalam perang saudara di Libya dan Suriah. Di perang Iran yang saat ini tengah berlangsung ia juga mendorong Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi untuk ikut bertempur secara langsung guna menghancurkan kekuatan Teheran.

Pernyataan Graham juga diprediksi akan memperkeruh situasi di Selat Hormuz. Dengan klaim bahwa AS akan “menghancurkan” siapa pun yang mengancam jalur tersebut, risiko bentrokan laut skala besar antara Angkatan Laut AS dan Garda Revolusi Iran (IRGC) kini berada pada titik tertinggi.

Exit mobile version