Tokoh Papa Zola di serial BoBoiBoy ditampilkan sendiri sebagai pemeran utama. Sudah diputar di biskop di Indonesia bisa jadi tontonan keluarga.
WWW.JERNIH.CO – Siapa yang tidak kenal dengan tokoh ikonik berbaju hijau-merah dengan gaya bicara yang menggelegar? Papa Zola, yang awalnya merupakan karakter pendukung sekaligus guru matematika di serial BoBoiBoy, akhirnya mendapatkan panggung utamanya sendiri.
Film ini bukan spin-off biasa, melainkan sebuah surat cinta bagi para penggemar yang merindukan humor slapstik khas Monsta namun dengan kedalaman emosi yang tak terduga.
Film ini membawa kita keluar dari bayang-bayang pertarungan galaksi BoBoiBoy dan lebih fokus pada sisi kemanusiaan—atau lebih tepatnya, sisi “Papa”—dari seorang Papa Zola. Di sini, perannya tak terlalu dominan sebagai pelawak yang sering membuat situasi menjadi kacau, melainkan seorang protagonis yang harus menghadapi tantangan nyata yang menguji integritas dan kasih sayangnya sebagai seorang ayah.

Cerita bermula ketika Papa Zola merasa bahwa perannya sebagai “Pahlawan Kebenaran” mulai terlupakan di dunia yang semakin modern dan serius. Secara tidak sengaja, sebuah eksperimen teknologi atau benda magis (tergantung pada plot spesifik filmnya) menarik Papa Zola dan putrinya, Pipi Zola, ke dalam sebuah dimensi permainan video kuno yang pernah ia kuasai di masa muda.
Namun, dunia tersebut tidak lagi sama. Mereka terjebak dalam labirin emosi di mana setiap level mewakili ketakutan terbesar Papa Zola: kegagalan menjadi orang tua yang baik. Sambil berusaha mencari jalan pulang, Papa Zola harus bertarung melawan musuh-musuh konyol namun berbahaya.
Di sisi lain, Pipi Zola menjadi kompas moral bagi ayahnya, membuktikan bahwa keberanian sejati bukan berasal dari otot atau slogan yang diteriakkan, melainkan dari kejujuran untuk mengakui kesalahan.
Ketegangan memuncak saat mereka menyadari bahwa jika mereka tidak bisa menyelesaikan “level terakhir” sebelum waktu habis, mereka akan terjebak selamanya sebagai piksel di dunia digital.
Film ini diproduksi oleh Monsta (Animonsta Studios), studio animasi ternama asal Malaysia yang telah membawa standar animasi Asia Tenggara ke level internasional. Di bawah kepemimpinan Nizam Razak sebagai produser eksekutif dan kreator utama, film Papa Zola tetap mempertahankan kualitas visual yang memanjakan mata dengan render yang lebih halus dan detail ekspresi wajah yang lebih kaya dibandingkan versi serial televisinya.
Monsta dikenal sangat teliti dalam menjaga kesinambungan semesta (universe) mereka, sehingga penonton tetap bisa menemukan easter eggs yang berkaitan dengan karakter lain seperti Gopal atau Tok Aba.
Meskipun dikemas dengan komedi yang mengocok perut, film Papa Zola membawa pesan yang sangat dalam mengenai tanggung jawab dan harga diri. Inti dari film ini adalah hubungan antara Papa Zola dan Pipi. Film ini mengajarkan bahwa seorang ayah tidak perlu menjadi sempurna atau memiliki kekuatan super untuk menjadi pahlawan di mata anaknya; cukup dengan hadir dan jujur.
Sesuai slogan “Kebenaran”, film ini menekankan pentingnya kejujuran pada diri sendiri. Seringkali kita memakai “topeng” untuk terlihat hebat di depan orang lain, padahal kekuatan sejati muncul saat kita berani menunjukkan kerentanan.
Hadirnya Papa Zola di bioskop pada bulan Ramadan terasa ada relevansi. Ramadan adalah momen untuk mempererat silaturahmi. Tema film yang fokus pada hubungan keluarga sangat cocok dinikmati sebagai sarana quality time saat menanti waktu berbuka (ngabuburit).
Tanpa menggurui, karakter Papa Zola seringkali menyelipkan nasihat tentang kebaikan, kesabaran, dan kejujuran—nilai-nilai inti yang dijunjung tinggi selama bulan suci.
Di bulan yang penuh berkah, keluarga mencari hiburan yang aman untuk anak-anak namun tetap menarik bagi orang dewasa. Film ini memberikan keseimbangan tersebut tanpa unsur kekerasan yang berlebihan.
Di balik kesuksesannya, ada beberapa fakta menarik yang mungkin tidak diketahui penonton. Misalnya suara khas Papa Zola diisi oleh sang kreator sendiri, Nizam Razak. Ia seringkali harus melakukan improvisasi spontan di bilik suara untuk menciptakan reaksi lucu yang tidak ada dalam naskah awal.
Tim animator menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk menyempurnakan gerakan jubah Papa Zola agar terlihat dramatis namun tetap konyol secara fisik.
Jika Anda memperhatikan dengan teliti, latar belakang dunia digital dalam film ini penuh dengan referensi game-game retro tahun 80-an dan 90-an, yang merupakan bentuk penghormatan para desainer Monsta terhadap masa kecil mereka.
Kabarnya, sebelum adegan komedi difinalisasi, tim produksi melakukan “tes tawa” kepada anak-anak di kantor mereka. Jika anak-anak tidak tertawa, adegan tersebut akan dirombak total. (*)
BACA JUGA: Film Jumbo Sudah Mendarat di Netflix