Site icon Jernih.co

Pasukan Israel Hancurkan 17 Kamera Pengawas PBB, Markas UNIFIL di Lebanon Terancam Runtuh

Seorang pasukan penjaga perdamaian PBB berpatroli di dekat desa perbatasan Naqoura di Lebanon selatan pada 23 Februari 2026. (Foto: Getty)

JERNIH – Ketegangan di wilayah perbatasan Lebanon Selatan mencapai titik kritis. Pasukan militer Israel dilaporkan telah menghancurkan sedikitnya 17 kamera pengawas (surveilans) milik markas besar Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (UNIFIL) di kota pesisir Naqoura dalam waktu 24 jam terakhir.

Seorang pejabat keamanan PBB mengungkapkan kepada AFP, Sabtu (4/4/2026), bahwa penghancuran infrastruktur vital ini dilakukan secara sistematis saat militer Israel meratakan bangunan-bangunan di sekitar markas PBB.

Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menyatakan bahwa belasan kamera tersebut diduga kuat dihancurkan menggunakan teknologi laser. Selain hilangnya fungsi pengawasan, aktivitas militer Israel di Naqoura minggu ini juga meliputi penghancuran besar-besaran rumah warga sipil dan fasilitas bisnis.

“Kekuatan ledakan dari penghancuran bangunan tersebut tidak hanya merusak properti warga, tetapi juga menyebabkan kerusakan fisik pada struktur bangunan Markas Besar UNIFIL,” jelas Ardiel.

Kabar paling memprihatinkan datang dari kontingen Indonesia. Dalam satu pekan terakhir, tiga personel perdamaian asal Indonesia (TNI) dilaporkan gugur dalam dua insiden terpisah akibat eskalasi serangan di wilayah tersebut.

Selain korban gugur, ledakan misterius di salah satu pangkalan PBB dekat Odaisseh pada Jumat lalu juga melukai tiga personel lainnya. Kantor PBB di Jakarta telah mengonfirmasi pada Sabtu kemarin bahwa para korban luka tersebut juga merupakan warga negara Indonesia.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengutuk keras rentetan insiden ini. Jakarta menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian adalah tindakan yang “tidak dapat diterima” (unacceptable).

“Kejadian ini menegaskan kebutuhan mendesak untuk memperkuat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian PBB di tengah situasi konflik yang semakin berbahaya,” bunyi pernyataan resmi pemerintah RI.

Di sisi lain, militer Israel menuduh bahwa ledakan di pos terdepan UNIFIL disebabkan oleh roket nyasar milik Hizbullah. Namun, PBB masih terus melakukan investigasi mandiri untuk memastikan asal muasal ledakan tersebut.

Sejak didirikan pada 1978 untuk memantau penarikan pasukan Israel dari Lebanon, UNIFIL telah kehilangan 97 anggotanya akibat kekerasan di wilayah tersebut. Serangan sistematis terhadap kamera pengawas dan penghancuran bangunan di sekitar markas besar PBB dikhawatirkan akan membutakan pengawasan internasional terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan hukum perang di Lebanon Selatan.

Exit mobile version