Site icon Jernih.co

Pemimpin Hizbullah Tegaskan Israel Harus Angkat Kaki dari Lebanon dengan Cara Terhina

Sheikh Naim Qassem

JERNIH — Pemimpin tertinggi Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, mengirimkan pesan hulu ledak politik yang sangat keras kepada Tel Aviv. Dalam pidato memperingati hari suci 10 Muharram (Hari Asyura) di pinggiran selatan Beirut, Jumat (26/6/2026), Sekjen Hizbullah tersebut menegaskan bahwa Israel tidak punya pilihan lain selain angkat kaki total dari setiap jengkal tanah Lebanon.

Dengan narasi yang membakar semangat para pengikutnya, Sheikh Qassem menyatakan bahwa perlawanan tidak akan memberikan ruang bagi negosiasi yang merugikan kedaulatan negara.

“Israel tidak punya pilihan selain mundur sepenuhnya. Israel harus angkat kaki dalam kondisi dipermalukan dan kalah telak! Dan itulah yang pasti akan terjadi,” seru Sheikh Qassem lantang di hadapan lautan massa.

Mengaitkan momentum sejarah dengan peta geopolitik hari ini, ia menganalogikan perjuangan saat ini sebagai ekstensi dari spirit Karbala. “Cahaya Karbala telah mulai memancar, dan pembebasan raksasa sedang mendekat,” cetusnya.

Sheikh Qassem membeberkan bahwa perang yang terjadi belakangan ini sebenarnya dirancang oleh poros AS-Israel untuk menghapus eksistensi Hizbullah, menghancurkan basis sosialnya, serta memuluskan ambisi penjajahan jangka panjang demi mewujudkan proyek geopolitik “Greater Israel” (Israel Raya).

Oleh karena itu, Hizbullah memasang harga mati bagi berhentinya konfrontasi. Militer Israel wajib menghentikan seluruh serangan baik dari matra udara, darat, maupun laut dan tidak ada ruang bagi kehadiran parsial tentara Israel di wilayah Lebanon. Hizbullah juga menolak keras segala bentuk pengakhiran status permusuhan atau konsesi politik yang menguntungkan entitas penjajah.

Ia menegaskan kedaulatan Lebanon hanya bisa dijamin jika semua pihak patuh pada cetak biru kesepakatan tertanggal 27 November 2024, dengan penegasan mutlak bahwa fokus pengamanan wilayah berada di area Lebanon Selatan, tepatnya di sepanjang selatan Sungai Litani.

Dalam pidatonya, Sheikh Qassem juga menyelipkan peringatan bernada ancaman kepada otoritas domestik di Beirut. Ia mengingatkan pemerintah Lebanon bahwa mereka tidak akan bisa menjalankan roda pemerintahan dengan normal jika terus-menerus memusuhi lebih dari separuh rakyatnya sendiri.

Ia mendesak elite politik Lebanon untuk berhenti mendengarkan dikte asing, terutama kepentingan Amerika Serikat dan Israel. “Kami selalu siap, dan kami mengulurkan tangan kami. Tangkap peluang ini! Perlawanan (Al-Muqawamah) saat ini sangat kuat, dan kami akan berdiri di belakang kalian jika kalian berjalan di atas rute kedaulatan Lebanon,” tantang Sheikh Qassem.

Ia menjanjikan, begitu tentara Israel berhasil diusir sepenuhnya, Hizbullah siap duduk bersama seluruh elemen bangsa untuk merumuskan strategi keamanan nasional yang komprehensif, sembari fokus menyelesaikan krisis ekonomi, menyelamatkan dana nasabah di bank, dan melakukan rekonstruksi pascaperang.

Di panggung internasional, Sheikh Qassem mengeklaim bahwa Poros Perlawanan (Axis of Resistance) telah berhasil mematahkan cetak biru rancangan AS-Israel di Timur Tengah. Ia memuji keteguhan Iran yang tetap berdiri kokoh sepanjang agresi hingga tercapainya nota kesepahaman terbaru.

“Nota kesepahaman itu adalah deklarasi resmi atas kekalahan Amerika Serikat dan Israel. Iran kini memegang pena untuk melukis masa depan kawasan ini, dan perlawanan di Lebanon bersama Iran telah bergerak sebagai Satu Poros yang padu,” urainya.

Menutup pidato kolosalnya, Sheikh Qassem menyampaikan salam hormat khusus kepada para pejuang di Gaza dan Palestina yang menjadi kompas perjuangan mereka.

Ia juga melayangkan apresiasi setinggi-tingginya kepada rakyat dan angkatan bersenjata Yaman yang berani pasang badan di saat dunia mengisolasi Palestina, serta kepada rakyat dan faksi militer Irak (PMF/Mobilisasi Populer) yang tanpa henti menyalurkan bantuan logistik dan dukungan moral sepanjang berkecamuknya perang.

Exit mobile version