Site icon Jernih.co

Pemukim Israel Bakar Dua Masjid di Utara Ramallah, Coret Dinding dengan Slogan Rasis

Foto: Getty

JERNIH — Eskalasi kekerasan kelompok pemukim (settlers) Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat kian tak terkendali. Kelompok pemukim ekstremis dilaporkan membakar sebagian bangunan dari dua masjid di desa Jiljilya dan Mazar’at al-Nubani, sebelah utara Ramallah.

Aksi teror pembakaran rumah ibadah yang berlangsung dalam semalam ini dikonfirmasi langsung oleh otoritas lokal dan tim Pertahanan Sipil Palestina (Palestinian Civil Defense).

Serangan tak berperikemanusiaan ini menyasar dua lokasi berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Kepala Desa Jiljilya, Osama Abdallah, mengungkapkan bahwa para pemukim awalnya berniat membakar habis seluruh area dalam masjid. Namun, karena pintu utama masjid dalam kondisi terkunci, mereka mengalihkan sasaran.

Para pelaku akhirnya membakar ruang tempat wudu yang berada di lantai dasar. Sebelum melarikan diri, mereka sempat mencoreti dinding luar masjid dengan berbagai slogan rasis anti-Palestina.

Direktur Humas Pertahanan Sipil Palestina, Kolonel Nael al-Izza, memastikan kebakaran berhasil dipadamkan berkat aksi cepat petugas dan sukarelawan pemuda setempat. Masjid mengalami kerusakan material parah, namun beruntung tidak ada korban jiwa.

Serangan bom molotov juga melanda Masjid Al-Farouq Omar ibn Al-Khattab. Sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat, kelompok pemukim melemparkan bom api (firebomb) ke arah masjid. Kepala Desa Mazar’at al-Nubani, Saad Dagher, menjelaskan bahwa kobaran api menghancurkan jaringan kabel listrik, memecahkan fasad aluminium bagian depan, serta melahap beberapa lemari kayu di dalam masjid.

Kepala Desa Mazar’at al-Nubani, Saad Dagher, secara terbuka melayangkan tudingan keras kepada militer Israel. Ia menegaskan bahwa tentara Israel (IDF) sengaja memberikan perlindungan dan ruang aman bagi para pemukim saat melancarkan aksi pembakaran tersebut.

Padahal, berdasarkan hukum internasional Perjanjian Oslo, Desa Mazar’at al-Nubani berada di dalam Area A—artinya wilayah tersebut secara penuh berada di bawah kendali keamanan otoritas Palestina dan sama sekali tidak dikelilingi oleh pemukim Israel.

Kolonel Nael al-Izza menambahkan bahwa tim pemadam kebakaran kerap mengalami hambatan besar saat hendak merespons teror pemukim. “Kami sering dihadang di pos pemeriksaan (checkpoints) militer, dan tidak jarang diadang langsung oleh kelompok pemukim maupun tentara Israel di lapangan,” ungkap al-Izza.

Sepanjang pekan ini saja, Pertahanan Sipil Palestina mencatat sedikitnya 22 serangan pemukim Israel yang terkonsentrasi di distrik Ramallah, Nablus, dan al-Khalil (Hebron). Polanya serupa: pembakaran lahan pertanian warga, perusakan kendaraan, dan penghancuran infrastruktur sipil. Tepat pada hari Minggu sebelumnya, upaya pembakaran masjid juga terjadi di Desa Burqa, timur Ramallah.

Aksi pembakaran masjid ini terjadi di tengah gelombang pengusiran paksa dan kekerasan masif yang meroket tajam di Tepi Barat. Data berdasarkan analisis terbaru Oxfam dab PBB (2023–2025) warga Palestina di Tepi Barat menewaskan 1.244 orang termasuk 268 anak-anak akibat kekerasan tentara dan pemukim. Akibar dari operasi militer, pembongkaran rumah sipil, dan pembakaran itu juga menyebabkan hampir 46.000 Orang kehilangan tempat tinggal akibat pengusiran massal.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) secara tegas telah memperingatkan dunia internasional bahwa kekerasan sistematis oleh pemukim Israel kini telah beralih fungsi menjadi alat utama (major driver) untuk mengusir komunitas Palestina secara perlahan dari tanah kelahiran mereka.

Exit mobile version