JERNIH – Di tengah dentuman rudal dan serangan udara AS-Israel ke Iran, sebuah ancaman “sunyi” tengah melumpuhkan nadi perdagangan dunia. Lebih dari 1.000 kapal kargo dan tanker minyak kini dilaporkan terombang-ambing tanpa arah karena kehilangan sinyal GPS (Global Positioning System).
Ironisnya, para ahli menyebut teknologi navigasi pada kapal-kapal raksasa bernilai jutaan dolar ini ternyata jauh lebih buruk dan lebih rentan dibandingkan sistem GPS pada ponsel pintar yang Anda genggam.
Data dari firma intelijen pasar energi, Kpler, menyebutkan bahwa sekitar setengah dari total kapal yang berada di Teluk dan Teluk Oman saat ini tidak mampu menentukan lokasi mereka secara akurat. Gangguan ini terjadi secara terus-menerus maupun sesaat, terutama di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman. “Ini adalah angka yang sangat besar, mencakup sekitar 50% dari seluruh armada di area tersebut,” ujar Dimitris Ampatzidis, analis senior Kpler, kepada AFP.
Todd Humphreys, Profesor Teknik dari Universitas Texas, menjelaskan adanya kesenjangan teknologi yang fatal. Ponsel modern kini sudah mampu menangkap sinyal dari empat rasi satelit sekaligus: GPS (AS), Galileo (Eropa), GLONASS (Rusia), dan BeiDou (China).
Namun, sebagian besar kapal laut masih bergantung pada sinyal GPS sipil kuno yang disebut L1 C/A, teknologi peninggalan awal 1990-an. Saat sinyal GPS L1 C/A diganggu (jamming), kapal-kapal ini tidak memiliki kemampuan otomatis untuk pindah ke sistem BeiDou atau Galileo.
Nasib pesawat terbang malah lebih buruk. Regulasi penerbangan yang ketat membuat mayoritas pesawat di dunia saat ini masih menggunakan penerima GPS yang ketinggalan zaman selama 15 tahun. Gangguan ini tidak hanya membuat layar navigasi menjadi “blank” (jamming), tetapi juga memberikan informasi palsu yang berbahaya (spoofing).
Jamming menciptakan “dinding kebisingan” frekuensi radio sehingga perangkat tidak bisa menangkap sinyal satelit. Sementara spoofing lebih canggih dan mematikan. Penyerang mengirimkan sinyal palsu yang memanipulasi Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) kapal. Akibatnya, sebuah kapal bisa terlihat berada di daratan Iran atau Uni Emirat Arab (UEA) pada layar radar, padahal mereka berada di tengah laut.
Bahayanya, GPS saat ini tidak hanya digunakan untuk lokasi, tetapi juga menjadi jantung bagi jam di kapal, sistem radar, hingga alat pengukur kecepatan (speed log).
Seorang kapten kapal niaga mengungkapkan kepada AFP bahwa tanpa bantuan elektronik, mengemudikan kapal raksasa di jalur sempit seperti Selat Hormuz menjadi misi yang sangat berisiko. “Kru kapal terpaksa menggunakan instrumen dari abad ke-20—mengandalkan radar manual atau tanda-tanda alam yang terlihat secara visual untuk menentukan posisi,” ujarnya.
Gangguan sinyal ini diduga kuat digunakan secara defensif oleh negara-negara Teluk. Mereka sengaja mengarahkan pengacak sinyal ke arah pantai mereka sendiri untuk menangkal drone Shahed milik Iran yang menggunakan pemandu satelit.
Strategi ini dianggap sebagai pengorbanan yang bisa diterima (acceptable cost), meskipun harus mengacaukan lalu lintas laut, penerbangan sipil, bahkan aplikasi transportasi dan kencan penduduk setempat.
