Site icon Jernih.co

Perdagangan Seks Anak di Balik Tembok Kincora, Intelijen dan Kaum Bangsawan Inggris Terseret Skandal Tak Tersentuh

Foto: Getty

JERNIH – Selama puluhan tahun, sebuah rahasia kelam terkunci rapat di balik dinding bata Kincora Boys’ Home di Belfast, Irlandia Utara. Namun, seiring terkuaknya jejaring hitam Jeffrey Epstein di Amerika, tabir yang menutupi skandal pelecehan sistematis di jantung kekuasaan Inggris kini kembali tersibak.

Investigasi terbaru dari The Grayzone mengungkap sebuah teori yang mengerikan: lembaga pendidikan anak laki-laki tersebut diduga bukan sekadar tempat bernaung, melainkan “ring” pemerasan yang dipantau oleh badan intelijen Inggris.

Sorotan kini tertuju pada arsip-arsip lama yang kembali mencuat bersamaan dengan terbongkarnya dokumen Departemen Kehakiman AS terkait skandal Pangeran Andrew. Fokus utama dalam narasi ini adalah sosok Lord Mountbatten, paman buyut Pangeran Andrew sekaligus figur berpengaruh dalam sejarah Kerajaan Inggris.

Jauh sebelum kasus Kincora meledak di media pada tahun 1980, otoritas Amerika Serikat rupanya sudah mengendus sesuatu yang tidak beres. Sejarawan Andrew Lownie mengungkapkan bahwa selama Perang Dunia II, FBI telah mengklasifikasikan Mountbatten sebagai sosok dengan “penyimpangan terhadap anak laki-laki”. Tragisnya, dokumen-dokumen ini diduga banyak yang dihancurkan atas permintaan pemerintah Inggris demi menjaga citra sang bangsawan.

Pertanyaan besarnya adalah: Sejauh mana MI5 dan MI6 terlibat? Di era konflik Irlandia Utara, badan intelijen Inggris tertanam kuat di berbagai kelompok paramiliter. Peneliti menduga bahwa penderitaan anak-anak di Kincora sengaja “dibiarkan” agar intelijen memiliki kartu as berupa bukti pelecehan untuk memeras tokoh-tokoh penting agar mau menjadi aset intelijen.

William McGrath, pengasuh di Kincora sejak 1971, adalah kuncinya. Ia memimpin kelompok loyalis Tara yang berada di bawah pengawasan tentara Inggris. Meski laporan pelecehan sudah muncul sejak 1958, polisi seolah “buta dan tuli”. McGrath merasa sangat terlindungi oleh koneksi intelijennya hingga akhirnya ia ditangkap pada 1980.

Misteri Berkas yang Hilang dan Suara yang Dibungkam

Upaya mengungkap kebenaran selalu menemui jalan buntu. Jurnalis veteran BBC, Chris Moore, dalam bukunya Kincora: Britain’s Shame, menceritakan betapa sulitnya menembus dinding tebal birokrasi. Pada tahun 1982, dokumen MI5 bahkan menunjukkan para pejabat senior sempat mempertimbangkan untuk membuat “berkas palsu” guna menyesatkan penyelidikan polisi.

Lebih mencurigakan lagi, pada tahun 2020, banyak catatan kepolisian terkait penyelidikan Kincora periode 1980-1983 ditemukan telah dihancurkan. MI5 berulang kali berdalih kepada tim pencari fakta bahwa mereka tidak memiliki catatan pasti soal peran McGrath sebagai agen, meski dokumen internal mereka sendiri mencatat perilaku menyimpang McGrath sejak awal 1970-an.

Cengkeraman kekuasaan juga terasa hingga ke ruang redaksi. Pada April 2021, BBC secara tiba-tiba membatalkan penayangan dokumenter Lost Boys yang menelusuri hilangnya anak-anak di Belfast yang terkait dengan jaringan Kincora. Kabarnya, para eksekutif khawatir dengan bukti-bukti yang mengarah pada keterlibatan MI5.

Chris Moore melaporkan adanya intimidasi terhadap tim produksi, termasuk dugaan pembobolan rumah, yang serupa dengan pola lama untuk membungkam skandal ini. Hingga saat ini, MI5 masih mengunci rapat berkas-berkas kunci Kincora. Publik diminta menunggu hingga tahun 2065 dan 2085—saat di mana sebagian besar saksi dan pelaku mungkin sudah tiada.

Bagi para penyintas seperti Arthur Smyth, yang dikirim ke Kincora saat berusia 11 tahun, keadilan tetap menjadi barang mewah yang belum terbayar. Di tengah gemerlap istana dan gedung intelijen yang megah, sejarah Kincora tetap menjadi luka menganga yang membuktikan betapa gelapnya sisi lain dari kekuasaan yang tak akuntabel.

Exit mobile version