Terbang dari Bandara Nunukan, pesawat jenis AT-802 milik PAS berpenumpang 1 pilot dikabarkan jatuh. Pesawat ini terbang menuju Bandara Tarakan.
WWW.JERNIH.CO – Sebuah pesawat pengangkut bahan bakar milik maskapai Pelita Air Service dilaporkan mengalami kecelakaan fatal. Pesawat dengan registrasi PK-PAA tersebut merupakan jenis Air Tractor AT-802, sebuah pesawat turboprop bermesin tunggal yang dirancang khusus untuk operasional berat.
Corporate Secretary PT Pelita Air Service Patria Rhamadonna membenarkan jatuhnya pesawat kargo pengangkut bahan bakar milik PAS. “Pesawat tersebut merupakan armada khusus yang melayani misi pengantaran BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan,” ujarnya.

Pesawat Air Tractor AT-802 bukanlah pesawat penumpang biasa. Sebagaimana namanya, pesawat ini awalnya dirancang untuk keperluan pertanian (penyemprotan lahan) dan pemadam kebakaran hutan. Namun, di wilayah Kalimantan dan Papua, pesawat ini sering dimodifikasi menjadi “tanker BBM terbang” untuk mendukung program BBM Satu Harga ke wilayah terpencil.
Pesawat mungil ini memiliki struktur yang kokoh dan kemampuan lepas landas serta mendarat di landasan pendek (STOL), AT-802 ditenagai oleh mesin turboprop Pratt & Whitney PT6A.
Meskipun tangguh, pesawat ini memiliki karakteristik unik: ia dirancang sebagai pesawat single-pilot. Artinya, seluruh operasional penerbangan mulai dari navigasi hingga komunikasi dikendalikan oleh satu orang tanpa adanya kopilot (first officer). Inilah alasan mengapa dalam manifes PK-PAA hanya tercatat satu orang awak di atas pesawat.
Peristiwa ini bermula saat PK-PAA dijadwalkan melakukan penerbangan rutin mengangkut pasokan bahan bakar minyak (BBM). Berdasarkan data navigasi dan laporan otoritas penerbangan, berikut adalah urutan kejadiannya:
Lepas Landas dari Bandara Yuvai Semangi: Pesawat memulai perjalanannya dari Bandara Yuvai Semangi di Krayan, Kabupaten Nunukan. Bandara ini merupakan urat nadi logistik bagi warga perbatasan. Pesawat dalam kondisi layak terbang dan membawa muatan penuh menuju Tarakan.
Kondisi Cuaca dan Kontak Terakhir: Saat mengudara, kondisi cuaca di jalur penerbangan menuju Tarakan dilaporkan cukup dinamis. Sebagaimana karakteristik hutan tropis Kalimantan, tutupan awan tebal seringkali muncul secara tiba-tiba di antara lembah dan perbukitan. Pesawat sempat melakukan kontak rutin dengan petugas pengatur lalu lintas udara, namun komunikasi kemudian terputus saat pesawat berada di area yang sulit dijangkau radar secara konsisten.
Hilang Kontak dan Operasi SAR: Kekhawatiran muncul ketika pesawat tidak memberikan laporan posisi pada titik koordinat yang ditentukan. Setelah melampaui batas waktu bahan bakar (fuel exhaustion), otoritas bandara segera menyatakan status darurat. Tim Basarnas beserta bantuan dari TNI dan Polri segera dikerahkan untuk menyisir area yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat.(*)
BACA JUGA: Pesawat ATR 42-500 Milik IAT Hilang Kontak di Sulawesi Selatan