JERNIH – Sedikitnya 87 aktivis kapal kemanusiaan (flotilla) tujuan Gaza yang ditahan oleh Israel dilaporkan resmi meluncurkan aksi mogok makan. Langkah ini diambil sebagai bentuk protes atas aksi penculikan dan buruknya kondisi penahanan mereka. Di saat yang sama, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, justru memicu kecaman global setelah menyebarkan video dirinya sedang mengejek para aktivis yang ditahan dalam posisi terikat di atas tanah.
Para aktivis yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla ini mengumumkan aksi mogok makan pada Selasa malam, sesaat setelah pasukan Israel merebut Lina al-Nabulsi—kapal terakhir yang tersisa yang mencoba menembus blokade Gaza—dan menahan enam aktivis di dalamnya.
Rekaman video yang dipublikasikan oleh Ben-Gvir pada hari Rabu memperlihatkan dirinya sedang berjalan di antara para aktivis yang tangannya terikat dan dipaksa tiarap di tanah sembari berteriak: “Selamat datang di Israel, kamilah pemilik rumah ini.”
Klip video lainnya memperlihatkan seorang aktivis perempuan dibanting secara kasar ke tanah setelah ia meneriakkan slogan “Free Palestine”, sementara seorang petugas Israel terdengar membentaknya untuk “diam”.
“Mereka datang dengan keangkuhan yang besar. Lihat bagaimana rupa mereka sekarang. Sama sekali bukan pahlawan, melainkan para pendukung terorisme,” ujar Ben-Gvir dalam rekaman tersebut, seraya mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan para aktivis tersebut dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.
Pihak Global Sumud Flotilla menegaskan bahwa aksi mogok makan ini adalah bentuk perlawanan terhadap penculikan ilegal oleh militer Israel, sekaligus aksi solidaritas bagi lebih dari 9.500 warga Palestina yang saat ini disekap di dalam penjara-penjara Israel.
“Kami menuntut seluruh sandera rezim Israel dibebaskan. Kami mendesak pemerintah negara-negara dunia untuk bersuara menentang aksi bajak laut ini,” tulis pernyataan resmi pergerakan tersebut.
Kapal Lina al-Nabulsi sendiri merupakan armada terakhir dari total lebih dari 50 kapal yang berlayar dari kota pelabuhan Marmaris, Turki, pekan lalu. Kampanye besar ini bertujuan untuk menantang blokade ilegal Israel di Gaza sekaligus mengirimkan bantuan kemanusiaan simbolis.
Pasukan Israel dilaporkan mulai mencegat dan menyita kapal-kapal rombongan ini di perairan internasional lepas pantai Siprus sejak hari Senin. Penyelenggara menuduh pasukan Israel melakukan penggerebekan kasar, menembakkan peluru karet, hingga menculik para peserta.
Berdasarkan data dari pihak penyelenggara, sedikitnya 428 aktivis dari 44 kewarganegaraan yang ikut serta dalam misi kemanusiaan ini telah diculik oleh Israel. Di antara mereka yang ditahan, terdapat 15 warga negara Irlandia, termasuk Margaret Connolly yang merupakan seorang dokter sekaligus saudara perempuan dari Presiden Irlandia, Catherine Connolly.
Lembaga Hukum Hak-Hak Minoritas Arab di Israel (Adalah) menyatakan para aktivis dipindahkan secara paksa ke Ashdod setelah dicegat di perairan internasional. Tindakan mencegat kapal sipil dan memblokir bantuan kemanusiaan dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Israel sendiri mengonfirmasi telah menahan sekitar 430 peserta kapal kemanusiaan, namun mereka meremehkan misi tersebut dengan menyebutnya sebagai “tidak lebih dari sekadar aksi cari panggung (PR stunt)”.
Merespons tindakan represif tersebut, sejumlah negara di dunia—termasuk Turki, Spanyol, Yordania, Pakistan, Brasil, dan Indonesia—secara resmi melayangkan kecaman keras dan mengutuk aksi pencegatan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
