Pesta Pernikahan di Iran Berubah Jadi ‘Lautan Darah’ Akibat Hantaman Rudal AS dekat Selat Hormuz

JERNIH — Pesta pernikahan yang riuh gembira di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, seketika berubah menjadi mimpi buruk mencekam pada Selasa malam. Hantaman rudal militer Amerika Serikat (AS) mengirimkan ledakan dan serpihan maut (shrapnel) ke sebuah rumah warga, menewaskan lima orang—termasuk bocah laki-laki berusia enam tahun—dan melukai lebih dari 50 orang.
Insiden berdarah ini terjadi di Kuhestak, Kabupaten Sirik, wilayah pesisir strategis yang berhadapan langsung dengan Selat Hormuz.
Laporan Bulan Sabit Merah Iran menyebutkan bahwa korban tewas termuda teridentifikasi bernama Amir Mohammad Karimi (6 tahun). Puluhan korban luka-luka yang didominasi wanita dan anak-anak langsung dilarikan secara darurat ke rumah sakit terdekat di Kota Minab.
“Serpihan rudal AS menghantam pemukiman warga saat pesta pernikahan berlangsung. Data terkini mencatat 63 hingga 68 orang mengalami luka-luka, di mana 50 di antaranya adalah wanita dan anak-anak,” tegas Gubernur Kabupaten Sirik, Reza Shahidiyan.
Video yang dirilis petugas penyelamat memperlihatkan puing-puing bangunan berserakan, tembok rumah yang hancur berhamburan, hingga lubang menganga di atap pemukiman akibat hantaman proyektil.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya melancarkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran. CENTCOM mengklaim serangan tersebut menyasar fasilitas Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai balasan atas gangguan perlintasan kapal komersial di Selat Hormuz.
Kendati demikian, Washington enggan merinci mengapa sasaran rudal mereka berada di area pemukiman padat warga yang tengah menggelar pesta pernikahan. Laporan lokal menduga rudal AS sebenarnya menyasar menara telekomunikasi di sekitar Kuhestak hingga merusak jaringan listrik dan komunikasi warga.
| Indikator Dampak Serangan | Data & Fakta di Lapangan |
| Lokasi Kejadian | Kuhestak, Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan (Pesisir Selat Hormuz) |
| Dampak Kemanusiaan | 5 orang tewas (termasuk anak 6 tahun), >50 orang luka-luka |
| Fasilitas Terdampak | Pemukiman warga, jaringan listrik, & menara telekomunikasi lokal |
| Eskalasi Lanjutan | Iran balasan tembakkan rudal/drone ke pangkalan AS di Bahrain, Kuwait, UEA, & Yordania |
Juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai korban sipil dari media pemerintah Iran. “Militer AS tidak pernah menjadikan warga sipil sebagai sasaran, berbeda dengan IRGC,” ujar Hawkins, tanpa memberikan penjelasan apakah AS bakal menggelar investigasi internal terkait dugaan salah sasaran ini.
Tragedi pernikahan di Kuhestak ini kian menumpuk rekam jejak jatuhnya korban sipil akibat operasi militer AS di Iran. Pada 28 Februari lalu, serangan udara AS ke sebuah sekolah putri di Minab juga menewaskan lebih dari 150 orang yang mayoritas adalah siswi sekolah.
Dalam peninjauan awal kala itu, militer AS mengakui kemungkinan besar bertanggung jawab atas serangan di sekolah tersebut akibat intelijen usang (outdated intelligence).
Atas insiden di acara pernikahan ini, Ketua Bulan Sabit Merah Iran resmi melayangkan surat ke Jaksa Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) pada Rabu untuk menuntut penyelidikan independen atas dugaan kejahatan perang.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf mengutuk keras serangan tersebut dan berjanji bakal memberikan balasan setimpal secara tegas. Tak berselang lama, serangan balasan berupa gelombang drone dan rudal Iran dilaporkan langsung mengincar pangkalan serta sekutu AS di Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, hingga Yordania.






