Site icon Jernih.co

Rahasia Dapur Jabar vs Jakarta, Mengapa Inflasi Tanah Pasundan Jauh Lebih Adem?

JERNIH – Pernah kepikiran tidak, kenapa dua daerah yang tetanggaan dekat seperti Jawa Barat dan DKI Jakarta bisa punya suasana dompet yang berbeda di bulan Juni 2026? Ibarat cuaca, saat suhu udara di Jakarta terasa sumpek dan bikin gerah karena harga-harga naik, di Jawa Barat udaranya justru terasa lebih sejuk.

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data kalau Jawa Barat sukses menjadi juara bertahan dengan angka inflasi bulanan terendah se-Pulau Jawa, yaitu cuma 0,28%. Sementara itu, Jakarta harus rela menahan napas karena inflasinya nangkring di angka 0,41%.

Padahal jaraknya cuma sepelemparan batu, tapi kok bisa Jabar menjinakkan harga barang jauh lebih lihai ketimbang ibu kota? Salah satu alasan utama kenapa Jawa Barat bisa menekan inflasi adalah karena mereka punya kontrol langsung di hulu (sumber makanan).

Jabar itu salah satu lumbung pangan nasional. Ketika harga-harga mulai bergejolak, Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jabar langsung tancap gas lewat strategi “Gerakan Tanam Serentak” dan mengoptimalkan panen lokal.

Ditambah lagi, sepanjang Juni 2026, Jabar menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) secara masif di 85 titik. Mereka juga langsung membagikan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) plus memberikan fasilitas subsidi ongkos angkut (Fasilitasi Distribusi Pangan). Jadi, makanan dari sawah bisa langsung meluncur ke pasar tanpa kemahalan di jalan.

Nah, bagaimana dengan Jakarta? Jakarta adalah kota konsumen. Hampir semua bahan pangan di Jakarta itu dikirim dari daerah lain (termasuk dari Jabar). Begitu ada sedikit gangguan di rantai pasokan atau ongkos angkut naik, harga di pasar Jakarta otomatis langsung melonjak.

Kalau kita bedah komponennya, musuh utama kedua daerah ini sebenarnya sama, yaitu BBM (terutama kenaikan harga Pertamax). Di Jabar, bensin menyumbang andil inflasi sebesar 0,21%. Di Jakarta, andil bensin bahkan lebih tinggi lagi, yaitu 0,29%.

Bedanya, di Jakarta, kenaikan harga bensin ini memicu efek domino yang parah di sektor transportasi. BPS DKI Jakarta mencatat bahwa kelompok transportasi di Jakarta mengalami inflasi gila-gilaan sebesar 2,54%—yang menjadi rekor tertinggi dalam 4 tahun terakhir!

Warga Jakarta tidak cuma pusing karena bensin, tapi juga dihantam kenaikan tarif angkutan udara, harga mobil baru, sampai harga spare part (suku cadang) impor yang lagi langka. Karena mobilitas warga Jakarta sangat bergantung pada sektor-sektor ini, inflasi di ibu kota langsung terkerek naik dengan cepat.

Penyelamat Berwujud Ayam dan Telur

Untungnya, baik Jabar maupun Jakarta sama-sama diselamatkan oleh “duo protein” andalan yakni daging ayam ras dan telur ayam ras. Di bulan Juni 2026, kedua komoditas ini justru mengalami deflasi alias turun harga. Di Jabar, harga ayam dan telur sukses meredam inflasi dengan andil masing-masing -0,07% dan -0,03%. Di Jakarta pun sama, harga ayam, telur, hingga ikan kembung ikut turun dan menahan agar inflasi Jakarta tidak melonjak lebih tinggi dari 0,41%.

Jawa Barat bisa bikin inflasinya adem karena mereka menerapkan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) langsung dari lumbung padinya sendiri. Sementara Jakarta, meski inflasinya masih tergolong aman dan terjaga, ruang geraknya agak terbatas karena gaya hidup kotanya yang sangat sensitif terhadap biaya transportasi, harga bensin, dan barang-barang impor.

Jadi, buat warga Depok yang mencatatkan inflasi tertinggi di Jabar (0,42%), jangan heran, karena secara psikologis dan ekonomi, memang dekat dengan ritme Jakarta.

Exit mobile version