Saling Gertak di Selat Hormuz: Trump Ancam Gempur Iran ‘Lebih Keras’, Teheran Minta Dialog tapi Siap Membalas

JERNIH — Konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali meletus hebat pasca-gencatan senjata parsial selama lebih dari sebulan. Presiden AS Donald Trump bersama para penasihat seniornya dilaporkan tengah menimbang opsi serangan militer terbatas baru ke Iran guna mematahkan blokade dan ancaman terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Langkah ini diambil menyusul aksi saling tembak antara kedua negara pada Minggu lalu, di mana militer AS melancarkan gempuran ke Pulau Larak milik Iran di Selat Hormuz. Serangan tersebut langsung memicu balasan rudal balistik dan drone Teheran yang mengincar pangkalan militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA).
Merespons balasan Iran, Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan tinggal diam dan siap melayangkan serangan balasan lanjutan yang jauh lebih merusak. “Kami akan memukul mereka dengan sangat keras. Pasti akan ada aksi balasan,” tegas Trump saat berbicara kepada Fox News di Oval Office, Washington D.C.
Laporan dari media AS, Axios, menyebutkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah merancang skenario serangan baru. Ketimbang menggelar perang terbuka berskala penuh, Pentagon memilih strategi serangan udara terbatas yang menyasar situs-situs peluncur rudal dan instalasi radar vital Iran.
Seorang pejabat AS mengibaratkan operasi terukur ini sebagai taktik “mowing the lawn” (memotong rumput)—istilah militer yang kerap dipakai militer Israel untuk menggambarkan operasi pemboman berkala demi menekan kapasitas tempur lawan.
“Presiden memegang semua opsi di mejanya. Pihak Iran sebenarnya ingin membuat kesepakatan, tetapi mereka selalu terlambat dan tidak pernah sungguh-sungguh,” ungkap seorang pejabat Gedung Putih.
Perang yang telah berlangsung selama enam bulan—sejak gelombang serangan awal AS-Israel pada 28 Februari lalu—telah melumpuhkan Selat Hormuz, urat nadi perdagangan minyak dunia yang sebelumnya dilintasi seperlima pasokan minyak global.
| Poin Perbandingan Klaim | Posisi & Narasi Amerika Serikat (AS) | Posisi & Narasi Iran (Teheran) |
| Kondisi Selat Hormuz | Klaim pegang kendali penuh; kawal ~30 kapal melintas per malam. | Tegaskan Selat Hormuz ditutup; rutin cegat kapal asing melintas ilegal. |
| Penyebab Serangan Larak | Hancurkan peluncur roket Iran pembawa ranjau laut. | 2 Orang tewas; sebut AS lakukan agresi militer ilegal. |
| Serangan Balasan Yordania | Semua rudal Iran berhasil dijatuhkan sistem pertahanan. | Garda Revolusi klaim sebabkan kerusakan berat di 2 pangkalan AS. |
| Kondisi Dalam Negeri | Trump sebut Iran “Failed Nation” dengan inflasi 300%. | Presiden Pezeshkian imbau dialog demi stabilitas kawasan. |
Di tengah perselisihan, Garda Revolusi Iran mengklaim sebuah kapal tanker “ilegal” terbakar di dekat selat akibat menabrak dua ranjau laut. Namun, militer AS membantah keras klaim tersebut dan menyeburnya sebagai bentuk disinformasi. “Tidak ada satu pun kapal yang menabrak ranjau di Selat Hormuz,” jawab pihak militer AS.
Eskalasi militer ini diiringi pertempuran narasi yang kian tajam di media sosial. Melalui unggahannya, Trump menyebut Iran telah resmi menjadi Failed Nation (negara gagal) akibat hancurnya sektor ekonomi, jatuhnya nilai mata uang, hingga inflasi yang menembus angka 300%.
Trump bahkan menuding rezim Teheran melakukan kejahatan kemanusiaan dengan membunuh puluhan ribu demonstran di dalam negeri—sebuah klaim angka yang dibantah keras oleh pemerintah Iran yang mencatat korban tewas sebanyak 3.117 jiwa akibat kerusuhan yang disusupi pihak luar.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai dalang utama yang memanipulasi AS untuk terseret ke dalam perang destruktif ini.
“Dalam bahasa Ibrani, Netanyahu secara terbuka membual bahwa ia berhasil menipu pimpinan AS untuk memerangi Iran demi kepentingan Israel. Namun dalam bahasa Inggris, ia memuji kepemimpinan POTUS. Benar-benar ular,” kritik Araghchi pedas melalui akun X pribadinya.
Meski saling gertak, Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menghadiri KTT di Kirgistan menyerukan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi ketimbang konfrontasi militer berkepanjangan.
“Kami terus mengupayakan jalur kesepakatan dan pemahaman. Kami percaya bahwa melanjutkan perang tidak memberikan keuntungan bagi siapa pun, baik bagi Iran maupun kawasan,” ujar Pezeshkian.
Analis politik internasional sekaligus mantan Dubes AS, Joey Hood, menilai bahwa kebuntuan ini memerlukan terobosan diplomasi kreatif dari negara-negara kawasan guna memberikan ruang bagi kedua belah pihak untuk mundur tanpa kehilangan muka.
Hood mengusulkan pembentukan Koalisi Angkatan Laut Muslim yang dipimpin oleh Pakistan dan Turki untuk berpatroli serta memantau lalu lintas Selat Hormuz. Kehadiran koalisi ini diharapkan dapat meyakinkan Iran bahwa tidak ada muatan militer berbahaya yang melintas, sekaligus memberi jalan bagi Teheran untuk membuka kembali selat tersebut secara aman.






