JERNIH – Sebuah puing roket SpaceX seberat empat ton—dengan dimensi sebesar bus sekolah—dilaporkan jatuh dan menghantam permukaan Bulan pada Rabu pagi. Benturan berkecepatan tinggi ini memicu ledakan kinetik setara tiga ton TNT, membentuk kawah baru di satelit alami Bumi sekaligus membuka ruang studi langka bagi para ilmuwan antariksa.
Objek tersebut diidentifikasi sebagai second stage (tingkat kedua) roket Falcon 9 yang diluncurkan pada awal 2025. Berdasarkan pemetaan trajektori orbital oleh astronom independen yang dikonfirmasi badan pelacak antariksa, sisa roket tersebut menghantam wilayah dekat Kawah Einstein dengan kecepatan dahsyat mencapai 8.700 kilometer per jam (5.400 mil per jam).
Sisa komponen roket tahap atas biasanya diarahkan kembali untuk terbakar di atmosfer Bumi atau dijatuhkan ke wilayah samudra terisolasi. Namun, akumulasi gaya gravitasi Matahari, Bumi, dan Bulan selama 18 bulan berturut-turut secara perlahan mengubah alur orbitnya hingga memicu tabrakan yang tak terelakkan.
Pihak SpaceX mengonfirmasi bahwa trajektori menuju Bulan tersebut tidak disengaja, namun mustahil dihindari mengingat sisa bahan bakar roket yang telah habis.
“Kombinasi antara aktivitas matahari dan gaya gravitasi telah menempatkan roket ini pada jalur menuju Bulan,” ungkap Julianna Scheiman, Direktur Program Sains NASA dan Dragon di SpaceX.
Sejumlah wahana antariksa pengorbit—termasuk Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA dan wahana Danuri milik Korea Selatan—langsung mengarahkan sensor mereka ke titik benturan.
Meski kilatan awal benturan tertutup oleh pencahayaan siang hari di permukaan Bulan, para ilmuwan memanfaatkan momentum ini untuk menganalisis semburan debu (ejected dust plume) serta mengambil citra resolusi tinggi sebelum dan sesudah pembentukan kawah baru.
Insiden ini menjadi kasus kedua dalam sejarah di mana sampah roket antariksa secara tidak sengaja menghantam Bulan. Peristiwa pertama terjadi pada 4 Maret 2022, ketika bagian dari roket Long March 3C milik China jatuh di sisi jauh Bulan (far side) dan membentuk kawah ganda yang unik.
Pakar pelacak antariksa, Bill Gray, menegaskan bahwa fenomena ini memperjelas ancaman akumulasi sampah antariksa yang kian tidak terkendali. “Kejadian ini tidak menimbulkan bahaya langsung, tetapi menyoroti kecerobohan dalam pembuangan sisa perangkat keras antariksa. Wilayah luar angkasa kita mulai terlalu padat,” ujar Gray.
