JERNIH — Gelombang kebencian terhadap umat Islam di Inggris Raya dilaporkan terus melonjak tajam. Sebuah laporan terbaru mengungkapkan fakta mengkhawatirkan: satu masjid di Inggris menjadi sasaran aksi penyerangan setiap lima hari sekali.
Laporan yang dirilis oleh British Muslim Trust (BMT)—lembaga independen mitra resmi Pemerintah Inggris dalam memantau kejahatan kebencian anti-Muslim—mencatat lebih dari 70 aksi penyerangan terhadap masjid sepanjang tahun lalu. Bentuk kejahatan tersebut mencakup tindakan kekerasan, intimidasi, perusakan fasilitas, hingga ujaran kebencian (hate speech).
Direktur Eksekutif BMT, Akeela Ahmed, mengonfirmasi peningkatan konsisten dari angka kekerasan tersebut dan mendesak pemerintah untuk bertindak lebih cepat.
“Kami melihat peningkatan berkesinambungan pada jumlah serangan terhadap masjid. Kami percaya Pemerintah Inggris seharusnya melakukan segala upaya untuk membantu tempat ibadah melindungi diri mereka,” tegas Akeela Ahmed.
Birokrasi Rumit dan Penolakan Tanpa Alasan
Awal tahun ini, Pemerintah Inggris sebenarnya telah mengumumkan alokasi anggaran keamanan sebesar £40 juta (sekitar Rp830 miliar) untuk memperketat pengamanan di masjid, sekolah Islam, dan pusat komunitas Muslim.
Namun, BMT membeberkan fakta di lapangan bahwa banyak pengurus masjid yang harus menunggu hingga bertan-tahun atau “berbulan-bulan” tanpa kejelasan. Tak sedikit pula permohonan dana bantuan keamanan yang ditolak mentah-mentah oleh pemerintah tanpa penjelasan memadai.
Kritik tajam turut disayangkan terkait syarat administratif Kementerian Dalam Negeri (Home Office) yang mewajibkan masjid menyerahkan “bukti kuat ancaman” agar permohonannya disetujui.
“Meminta bukti bahwa sebuah masjid sedang ditargetkan itu ibarat mengunci pintu kandang setelah kudanya kabur. Sebuah masjid itu rentan menjadi sasaran justru murni karena statusnya sebagai masjid,” sindir Ahmed.
Angka Kejahatan Kebencian Capai Level Darurat
Peringatan BMT selaras dengan temuan Amnesty International yang pada Juni lalu menetapkan bahwa tingkat kejahatan berbasis Islamofobia di Inggris telah menyentuh “level darurat” (emergency levels).
Data resmi Kementerian Dalam Negeri Inggris mencatat kejahatan kebencian anti-Muslim di Inggris dan Wales naik 19% hingga Maret 2025 dengan total hampir 4.500 kasus. Angka tersebut menyumbang hampir separuh (50%) dari seluruh total kejahatan berbasis motif keagamaan di negara tersebut.
Rangkaian aksi kekerasan berlanjut sepanjang kurun waktu belakangan, termasuk percobaan pembunuhan terhadap tiga pria Muslim di Edinburgh pada Juni lalu serta dugaan aksi pembakaran sengaja di Masjid Peacehaven, Sussex.
Menanggapi kritik atas lambatnya pencairan dana, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Inggris (Home Office) menyatakan komitmennya untuk mempercepat proses birokrasi dan menegaskan bahwa anggaran keamanan telah ditingkatkan ke rekor tertinggi untuk periode 2026–2027.
“Umat Islam di Inggris menghadapi tingkat kejahatan kebencian keagamaan yang sangat mengerikan. Sangat krusial bagi mereka untuk tidak hanya merasa aman, tetapi benar-benar terlindungi. Kami sedang bekerja keras untuk memproses seluruh permohonan dana secepat mungkin,” tulis pernyataan resmi Home Office.
