JERNIH — Memasuki hari ke-12 gelombang serangan udara baru Amerika Serikat (AS) ke Iran, Washington kembali menuai kecaman usai menggempur perbatasan Shalamcheh yang menghubungkan Iran dan Irak pada Kamis dini hari. Serangan yang menargetkan terminal penumpang tersebut menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai 11 orang lainnya.
Aksi militer ini memperpanjang deretan fasilitas sipil dan kemanusiaan Iran yang dihantam rudal AS sejak eskalasi kembali memuncak. Rekaman video yang dirilis media lokal Iran memperlihatkan bangunan terminal penumpang yang berlokasi di sebelah timur Basrah terbakar hebat. Sebagian dinding dan atap gedung hancur, memicu kepanikan warga dan peziarah yang berhamburan menyelamatkan diri.
Wakil Gubernur Provinsi Khuzestan Bidang Keamanan dan Penegakan Hukum, Valiollah Hayati, membenarkan bahwa area di sekitar terminal utama menjadi sasaran tembak.
Meski demikian, kantor berita semi-pemerintah Iran, Mehr News Agency, melaporkan tim tanggap darurat telah mengendalikan situasi di lokasi. Arus lalu lintas penyeberangan kembali dibuka secara normal, terutama bagi ribuan peziarah yang memanfaatkan jalur tersebut menjelang peringatan tahunan Arbaeen.
Situs perbatasan Shalamcheh sendiri sebelumnya sempat diserang pada April lalu, yang menewaskan seorang peziarah asal Irak.
Kapal Penyelamat dan Objek Vital Dihantam
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa serangan pada Kamis dini hari tersebut merupakan gelombang serangan berturut-turut ke-12 yang dilancarkan militer AS ke wilayah Republik Islam Iran.
Selain perbatasan Shalamcheh, Otoritas Pelabuhan dan Maritim Hormozgan melaporkan dua kapal pencari dan penyelamat (search-and-rescue) milik mereka turut dihantam rudal AS di Selat Hormuz. Otoritas menegaskan kapal-kapal yang mengalami kerusakan berat tersebut murni digunakan untuk misi kemanusiaan dan pertolongan darurat di laut.
Ledakan dahsyat akibat serangan udara AS juga dilaporkan terdengar di dekat Eslamabad-e-Gharb (Provinsi Kermanshah) serta wilayah Andimeshk, sekitar 100 kilometer dari perbatasan Irak.
Gempuran AS di wilayah perbatasan ini terjadi pada momen yang sangat sensitif bagi Baghdad. Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, dijadwalkan tiba di Tehran pada Kamis untuk kunjungan kerja dua hari—hanya berselang beberapa hari setelah melangsungkan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Washington pada 13 Juli lalu.
Juru Bicaranya, Haider al-Aboudi, menyatakan kunjungan tersebut bertujuan untuk membahas kerja sama sektor gas. Namun, sumber internal pemerintah Irak membocorkan bahwa agenda sensitif terkait penataan dan perlucutan senjata faksi-faksi bersenjata di Irak akan menjadi topik utama pembicaraan.
Pertemuan ini diprediksi berlangsung alot mengingat sebagian faksi bersenjata di Irak memiliki ikatan erat serta dukungan dana dan pelatihan dari Tehran.
Sebelumnya, dalam kunjungannya ke Washington pekan lalu, PM al-Zaidi kembali menegaskan komitmen Baghdad untuk membatasi kepemilikan senjata hanya pada institusi resmi negara. Langkah ini diambil usai serangan bertubi-tubi yang dilancarkan kelompok Islamic Resistance in Iraq (IRI), seperti Saraya Awliya al-Dam, terhadap basis-basis militer AS di kawasan sejak meletusnya konflik Maret lalu.
