Site icon Jernih.co

Sebut Pejabat Muslim ‘Jihadis’, Trump Dinilai Picu Gelombang Islamofobia

JERNIH – Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), organisasi hak sipil Muslim terbesar di Amerika Serikat, melayangkan peringatan keras terhadap Presiden Donald Trump. CAIR menilai retorika Trump yang menyebut pejabat Muslim terpilih sebagai “jihadis” telah menempatkan nyawa para pejabat publik Muslim dalam bahaya nyata di tengah melonjaknya rekor kebencian Islamofobia.

Pernyataan kontroversial Trump tersebut terlontar menyusul kemenangan bersejarah Abdul El-Sayed, politisi keturunan Mesir-Amerika, dalam pemilu sela (primary) Senat dari Partai Demokrat di Michigan.

Saat ditanya wartawan mengenai saran bagi kandidat Partai Republik yang bertarung di pemilu sela, Trump mengaku disarankan oleh seorang rekannya untuk menggunakan istilah “jihadis” dalam kosakata politiknya.

“Seorang teman menelpon saya dan berkata, ‘Kamu tahu, seharusnya kamu menggunakan kata jihadis karena itulah yang sedang terjadi.’ Kita mendapati para jihadis terpilih di mana-mana, baik itu komunisme maupun jihadisme,” klaim Trump.

Meski tidak menyebut nama secara spesifik, serangan tersebut meluncur hanya beberapa hari setelah Abdul El-Sayed memenangkan primary Senat Michigan—mengalahkan lawan politiknya yang didukung penuh oleh kelompok lobi pro-Israel, AIPAC. Usai kemenangan El-Sayed, Trump bahkan secara terbuka melabelinya sebagai “pecundang komunis yang membenci Yahudi dan Israel”.

Tanggapan keras langsung disuarakan oleh CAIR. Wakil Direktur Nasional CAIR, Edward Ahmed Mitchell, menegaskan bahwa retorika Trump sudah melampaui batas kritik politik biasa dan berpotensi memicu kekerasan di dunia nyata.

“Dengan menggambarkan pejabat publik Muslim Amerika sebagai ancaman bagi bangsa, Presiden Trump menaruh target tembak di punggung para pejabat Muslim terpilih di seluruh negeri,” tegas Mitchell.

CAIR mencatat terdapat 8.683 pengaduan diskriminasi dan fanatisme anti-Muslim sepanjang tahun 2025—angka tertinggi yang pernah didokumentasikan lembaga tersebut.

Mitchell menilai kebencian antimodalitas politik Muslim dipicu oleh para politisi yang tidak tahan melihat keberagaman dan keterlibatan aktif warga Muslim dalam proses demokrasi.

Pernyataan Trump kian memperkeruh narasi menyerang yang disuarakan oleh sejumlah figur senior Partai Republik lainnya pascakemenangan El-Sayed. Senator Tommy Tuberville (Alabama) menyebut lewat platform X bahwa Pemilih Demokrat telah “memilih untuk mengirim seorang TERORIS ke Senat” dan melabeli El-Sayed sebagai “Islamis radikal yang akan melakukan apa saja untuk menghancurkan Amerika.”

Sementara anggota DPR Nancy Mace (South Carolina) melontarkan tuduhan generalisasi yang lebih ekstrem. “Setiap Muslim yang memegang jabatan publik di Amerika adalah kuda troya, serta ancaman bagi keamanan nasional dan republik kita,” klaim Mace.

Kendati demikian, gelombang serangan Islamofobia ini tidak sepenuhnya diamini internal Partai Republik. Senator Bill Cassidy asal Louisiana secara terbuka mengecam narasi yang dibangun oleh rekan-rekan separtainya saat hadir di acara CBS Face the Nation.

“Saya mengecam bahasa seperti itu… Saya mengecam pernyataan-pernyataan tersebut, dan setiap orang harus diperlakukan sebagai individu,” ujar Cassidy menekankan prinsip kesetaraan.

Meskipun mendapat tekanan dan serangan verbal yang kian intensif, pihak CAIR menegaskan bahwa intimidasi semacam ini tidak akan menyurutkan langkah warga Muslim Amerika untuk terus mengabdi di ranah publik serta menyuarakan keadilan.

Exit mobile version