
Setelah lebih dari satu dekade menantang raksasa teknologi, sang “Flagship Killer” kini resmi menyerah dan melebur sepenuhnya ke dalam Oppo. Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar?
WWW.JERNIH.CO – Bagi para pencinta teknologi, nama OnePlus tentu memiliki tempat tersendiri. Dikenal dengan slogan “Never Settle”, perusahaan ini sempat mengguncang industri ponsel pintar global lewat produk-produk berspesifikasi tinggi namun dengan harga setengah dari kompetitornya. Namun, memasuki pertengahan tahun 2026, kabar mengejutkan datang: OnePlus dilaporkan akan segera menghentikan operasional globalnya secara bertahap dan kehilangan statusnya sebagai merek independen.
OnePlus tidak mendadak bangkrut atau lenyap dari muka bumi, melainkan sedang mengalami restrukturisasi besar-besaran di bawah induk perusahaannya, Oppo.
Laporan dari berbagai firma analis dan media teknologi global pada Juli 2026 mengungkapkan bahwa OnePlus bersiap menghentikan operasionalnya di pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa. Di wilayah-wilayah tersebut, situs resmi OnePlus bahkan mulai mengarahkan calon pembeli untuk melirik perangkat Oppo.
Sementara untuk pasar Asia seperti China dan India, OnePlus tidak ditutup total, melainkan dilebur sepenuhnya menjadi sekadar sub-brand atau lini produk segmen menengah ke bawah milik Oppo, kehilangan identitas mandirinya yang dulu begitu diagungkan.
Hubungan antara OnePlus dan Oppo sebenarnya sudah terikat sejak hari pertama. Didirikan pada Desember 2013 oleh Pete Lau dan Carl Pei, OnePlus lahir dari tangan para mantan petinggi Oppo. Sejak awal, kedua merek ini berada di bawah payung konglomerat elektronik yang sama, yaitu BBK Electronics (yang juga menaungi Vivo dan Realme).
Meskipun bertahun-tahun OnePlus beroperasi dan dipasarkan seolah-olah sebagai perusahaan startup independen yang mandiri, di balik layar mereka selalu berbagi fasilitas R&D (riset dan pengembangan) serta rantai pasokan dengan Oppo.
Keterikatan ini semakin terang-terangan pada tahun 2021 ketika OnePlus secara resmi melakukan merger operasional dengan Oppo. Di tahun 2026 ini, integrasi tersebut mencapai puncaknya hingga sistem operasi khas mereka, OxygenOS, kabarnya akan dipensiunkan demi keseragaman di bawah ColorOS milik Oppo.
Ada beberapa faktor utama yang memaksa Oppo untuk “menyuntik mati” kemandirian OnePlus di tahun 2026. Pertama karena kelangkaan memori (RAM) dan penyimpanan global meningkatkan biaya produksi secara drastis, sehingga formula “ponsel murah spek dewa” tidak lagi menguntungkan.
Di sisi lain angka penjualan OnePlus di pasar barat merosot tajam akibat kalah bersaing di kelas premium. Tentu jug alantaran strategi efisiensi Oppo. Dibandingkan membiayai dua tim pemasaran dan operasional yang saling memakan pasar satu sama lain, Oppo memilih mengonsolidasikan sumber daya mereka untuk memperkuat merek Oppo itu sendiri.
Selama perjalanannya lebih dari satu dekade, OnePlus telah melahirkan berbagai perangkat yang mengubah arah industri smartphone.
- OnePlus One (2014): Ponsel pertama mereka yang melahirkan istilah “Flagship Killer”. Dijual dengan sistem undangan yang sangat eksklusif, ponsel ini membawa spek setara Samsung Galaxy S5 namun dengan harga cuma sepertiganya.
- OnePlus 3 dan 3T (2016): Menjadi salah satu ponsel pertama di dunia yang mempopulerkan RAM sebesar 6GB dan pengisian daya super cepat Dash Charge.
- OnePlus 7 Pro (2019): Puncak kejayaan inovasi OnePlus. Ponsel ini menghadirkan layar mulus tanpa poni berkat kamera depan pop-up, serta mempopulerkan tren layar refresh rate 90Hz di industri global.
- Seri OnePlus Nord: Lini kelas menengah yang dihadirkan untuk menyasar pengguna yang menginginkan performa esensial OnePlus dengan harga yang jauh lebih terjangkau. (*)
BACA JUGA: OnePlus Watch 4 Sang Penakluk Medan Ekstrem dengan Standar Militer





