Site icon Jernih.co

Serangan Iran Hantam Lebih dari 20 Fasilitas Militer AS di Delapan Negara, Kontradiktif dengan Narasi Washington

Iran dikepung oleh pangkalan Militer AS.

Di saat para pejabat AS berulang kali mengeklaim bahwa kemampuan militer Iran telah menurun drastis, para analis menilai bahwa skala kerusakan yang didokumentasikan justru menunjukkan fakta yang sebaliknya.

JERNIH — Analisis citra satelit dan rekaman video mengindikasikan bahwa serangan-serangan yang dilancarkan Iran telah merusak sedikitnya 20 fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di delapan negara sejak pecahnya perang. Temuan ini mengisyaratkan dampak yang jauh lebih luas terhadap infrastruktur militer Amerika daripada yang diakui secara terbuka oleh Washington selama ini.

Temuan tersebut merupakan hasil investigasi dari BBC Verify dengan menggunakan citra satelit komersial. Data yang diperoleh menunjukkan adanya kerusakan di delapan negara sekaligus mempertegas meningkatnya efektivitas kampanye balasan Iran, setelah berbulan-bulan mengalami serangan dari AS dan Israel ke wilayah Iran serta pasukan Perlawanan sekutunya di kawasan tersebut.

Menurut analisis BBC, operasi militer Iran berhasil menghantam pangkalan-pangkalan AS dan fasilitas militer gabungan yang berada di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Irak, Yordania, Bahrain, dan Oman. Investigasi tersebut berhasil mengidentifikasi kerusakan fisik di 20 titik lokasi, meskipun beberapa analis militer yang dikutip dalam laporan itu memperkirakan jumlah sebenarnya dari fasilitas yang terdampak bisa mencapai 28 lokasi.

Serangan-serangan ini merupakan bagian dari respons Teheran terhadap agresi AS-Israel yang diluncurkan awal tahun ini terhadap Iran. Di saat para pejabat AS berulang kali mengeklaim bahwa kemampuan militer Iran telah menurun drastis, para analis menilai bahwa skala kerusakan yang didokumentasikan justru menunjukkan fakta yang sebaliknya. Terkait temuan ini, seorang pejabat pertahanan AS menolak untuk memberikan komentar dengan alasan menjaga keamanan operasional.

Di antara fasilitas yang dilaporkan rusak merupakan instalasi militer utama AS yang menampung sistem pertahanan rudal canggih, aset pengawasan (surveilan), infrastruktur logistik, serta barak penampungan pasukan.

Laporan tersebut menyatakan bahwa serangan Iran menghantam pangkalan udara Al Ruwais dan Al Sader di UEA, serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, di mana sistem pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dilaporkan mengalami kerusakan. Baterai THAAD merupakan salah satu platform pertahanan rudal paling canggih dalam arsenal persenjataan AS yang penempatannya sangat terbatas di lokasi-lokasi strategis di seluruh dunia.

Mantan Kepala Pasukan Pertahanan Irlandia, Wakil Laksamana Mark Mellett, dalam komentarnya kepada BBC, menggambarkan sistem THAAD sebagai komponen inti dari arsitektur pertahanan regional yang sangat terintegrasi dan tidak dapat diganti atau diperbaiki dalam waktu cepat.

Analisis yang dikutip dalam laporan tersebut juga menunjuk adanya kerusakan signifikan di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi. Citra satelit dilaporkan memperlihatkan pesawat yang rusak, kawah bekas hantaman, serta kehancuran infrastruktur. Para ahli mengidentifikasi salah satu pesawat yang terdampak adalah platform pengawasan udara E-3 Sentry, sebuah sistem radar terbang yang bernilai ratusan juta dolar.

Di lokasi lain, Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan di Kuwait mengalami kerusakan pada fasilitas bahan bakar, hangar pesawat, akomodasi pasukan, serta infrastruktur komunikasi.

Lebih lanjut, laporan itu menyatakan bahwa sedikitnya 42 pesawat telah rusak atau hancur sejak Februari lalu, termasuk jet tempur F-15 dan F-35, drone MQ-9 Reaper, serta pesawat serang darat A-10. Estimasi menunjukkan bahwa operasi bertajuk “Operation Epic Fury” ini telah merugikan Pentagon hingga lebih dari $98 miliar, di mana biaya perbaikan dan penggantian aset diperkirakan menyerap sebagian besar dari total dana tersebut.

Analis Pertanyakan Narasi Washington

Temuan-temuan ini kembali memicu perdebatan sengit mengenai penilaian resmi yang dikeluarkan AS terkait perang dengan Iran. Ketika para pejabat Amerika terus menekankan keberhasilan operasi militer mereka terhadap Iran, para analis yang dikutip dalam laporan justru berargumen bahwa Teheran telah menunjukkan tingkat akurasi dan adaptabilitas yang terus meningkat sepanjang perang.

Dr. Kelly Grieco dari Stimson Center mengatakan bahwa Iran telah mengubah taktiknya, dari yang semula mengandalkan rentetan rudal skala besar menjadi serangan yang lebih terfokus pada target militer bernilai tinggi.

“Gelombang serangan pembuka Iran dioptimalkan untuk volume—serangan massal yang dirancang untuk membuat sistem pertahanan udara dan rudal musuh kewalahan melalui jumlah yang sangat banyak,” ujarnya.

“Namun, dalam hitungan hari, Iran beralih ke gelombang serangan yang lebih kecil namun dengan target yang lebih presisi. Langkah ini menghemat sisa rudal dan drone mereka untuk target spesifik bernilai tinggi, serta memusatkan tembakan di area di mana dampak meleset yang tipis sekalipun tetap mampu menimbulkan kerusakan signifikan.”

Para analis juga mencatat bahwa ketergantungan Iran pada drone dan rudal yang relatif murah telah berhasil menantang aset militer AS yang bernilai jauh lebih mahal di seluruh kawasan.

Laporan ini muncul di tengah ketegangan baru yang menyelimuti rapuhnya kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran. Para pejabat Iran terus menyoroti semakin rentannya instalasi militer AS di seluruh Asia Barat. Pihak Iran menyatakan bahwa pangkalan-pangkalan AS kini tidak bisa lagi mengandalkan negara-negara kawasan untuk perlindungan mereka.

“Bangsa-bangsa dan tanah di kawasan ini tidak akan lagi berfungsi sebagai perisai bagi pangkalan-pangkalan Amerika,” tegas Pemimpin Revolusi Islam, Sayyid Mojtaba Khamenei, pada 16 Mei. “Amerika Serikat tidak hanya tidak akan lagi memiliki tempat yang aman untuk tindakan jahatnya dan untuk mendirikan pangkalan militer di kawasan ini, tetapi hari demi hari status mereka yang dulu akan semakin menjauh.”

Pernyataan tersebut disusul oleh laporan adanya kontak tembak baru antara pasukan AS dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, memicu kekhawatiran bahwa kondisi gencatan senjata bisa semakin memburuk.

Para analis memperingatkan bahwa setiap kegagalan gencatan senjata yang berujung pada kembalinya permusuhan skala besar dapat membuat fasilitas-fasilitas AS terbuka terhadap serangan baru, terlebih di saat stok rudal pencegat pertahanan udara mereka sudah sangat terkuras.

Exit mobile version