JERNIH — Rentetan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran telah mengagalkan berbagai sistem surveilans dan merusak pos-pos intelijen strategis Amerika Serikat di Asia Barat. Kerusakan yang dialami lembaga intelijen AS ini dicatat sebagai yang terparah sepanjang sejarah, dengan estimasi biaya pemulihan mencapai miliaran dolar AS.
Mengutip laporan NBC News dari empat sumber dalam yang memahami isu tersebut, kehancuran infrastruktur mata-mata ini memaksa Kongres AS memutar otak guna mengalokasikan anggaran darurat demi merestorasi fasilitas yang hancur, sekaligus menyusun ulang strategi penempatan personel militer di kawasan.
Tragedi ini memicu gelombang kritik dari para pengamat militer dan mantan pejabat AS. Mereka mempertanyakan kesiapan serta kelemahan sistem pertahanan Pentagon, komunitas intelijen, dan Kementerian Luar Negeri AS yang gagal melindungi fasilitas vital dari gempuran rudal dan drone Teheran.
“Serangan Iran sejak dimulainya konflik pada 28 Februari telah menghantam lebih dari 100 target di sedikitnya 11 instalasi militer AS yang tersebar di tujuh negara, termasuk Qatar, UEA, Bahrain, Yordania, Kuwait, Irak, dan Arab Saudi,” tulis laporan penilaian tersebut.
Lembaga American Enterprise Institute memperkirakan biaya perbaikan infrastruktur yang rusak saja bisa menembus lebih dari 5 miliar dolar AS, belum termasuk nilai kerusakan pada sistem persenjataan dan perangkat canggih yang hancur.
Menanggapi krisis stok amunisi yang kian mengkhawatirkan, Pentagon pada akhir Juli lalu telah mengajukan permohonan dana darurat sebesar 67 miliar dolar AS kepada Kongres. Dari total dana tersebut, sekitar 18,2 miliar dolar AS dialokasikan khusus untuk mengganti pasokan rudal pencegat (interceptor) yang terkuras habis.
| Jenis Rudal / Amunisi | Alokasi Anggaran Penggantian |
| Pencegat THAAD (Army) | US$ 5,75 Miliar |
| Patriot MSE (Missile Segment Enhancement) | US$ 5,57 Miliar |
| Keluarga Rudal Standar RTX Corp (Navy) | US$ 3,28 Miliar |
| Rudal SM-6 (Navy) | US$ 1,90 Miliar |
| Joint Advanced Tactical Missile (Lockheed Martin) | US$ 100 Juta |
Menurut data yang dihimpun Bloomberg, militer AS telah melepaskan sebanyak 13.629 amunisi ke berbagai sasaran di Iran sejak pecahnya perang pada 28 Februari hingga gencatan senjata dicapai pada April.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, secara tertutup telah memperingatkan para pejabat tinggi bahwa jika operasi tempur skala besar melawan Iran kembali meletus, komando militer AS di Timur Tengah (USCENTCOM) berisiko mengalami kelangkaan rudal pencegat pada tingkat yang sangat membahayakan.
