Site icon Jernih.co

Serangan ke Iran Agenda Netanyahu, AS dan Trump Hanya Antek-antek Israel

Pesawat AF/A-18 Super Hornet lepas landas dari kapal induk (Foto: US CENTCOM di X)

JERNIH – Di panggung dunia, Donald Trump kerap mencitrakan dirinya sebagai “Presiden Perdamaian” yang membenci intervensi militer dan kebijakan regime change (penggantian rezim). Namun, awal tahun 2026 mencatat sejarah yang kontradiktif. Trump memerintahkan serangan besar-besaran terhadap Iran dengan narasi “membawa kebebasan”—bahasa yang dulu ia kritik keras saat digunakan oleh George W. Bush dalam Perang Irak.

Para analis dan pakar Timur Tengah kini melontarkan pertanyaan tajam: Untuk siapa perang ini sebenarnya dikobarkan? Banyak yang menyimpulkan bahwa agresi ini bukan demi kepentingan nasional AS, melainkan hadiah strategis bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Negar Mortazavi, peneliti senior di Center for International Policy, menyebut serangan ini sebagai “perang pilihan” yang dipicu oleh dorongan kuat Israel. “Ini adalah perang Israel lainnya yang diluncurkan oleh AS. Israel telah mendorong AS untuk menyerang Iran selama dua dekade, dan akhirnya mereka mendapatkannya,” ujarnya mengutip laporan Al Jazeera.

Padahal, dalam National Security Strategy yang dirilis tahun lalu, pemerintahan Trump sendiri menyerukan untuk mendeprioritaskan Timur Tengah dan fokus pada keamanan di Belahan Bumi Barat (Amerika). Namun, di lapangan, Trump justru terseret ke dalam konflik yang mengancam akan menelan sumber daya AS selama bertahun-tahun.

Netanyahu telah memperingatkan dunia tentang “bom nuklir” Iran selama lebih dari 20 tahun. Menariknya, pejabat pemerintahan Trump sendiri mengakui tidak memiliki bukti kuat bahwa Teheran sedang memproduksi senjata nuklir.

Setelah fasilitas pengayaan Iran “dilumpuhkan” dalam perang singkat 12 hari pada Juni 2025 lalu, Netanyahu dengan cepat mengubah narasi ancaman. Ia kini menuding Iran sedang mengembangkan rudal balistik antarbenua yang mampu mencapai Pantai Timur Amerika Serikat—sebuah klaim yang dibantah keras oleh Teheran dan tidak didukung oleh bukti publik atau uji coba radar mana pun.

Meski begitu, Trump tetap mengadopsi klaim tersebut dalam pidato State of the Union baru-baru ini, membangun justifikasi untuk perang yang lebih luas.

Salah satu aspek yang paling mencolok dari konflik ini adalah momen serangannya. Sebelum serangan diluncurkan, negosiator AS dan Iran telah mengadakan tiga putaran pembicaraan yang disebut “positif” oleh mediator Oman. Teheran bahkan menyatakan kesediaan untuk menerima inspeksi nuklir yang lebih ketat.

“Agenda Netanyahu adalah mencegah solusi diplomatik,” kata Jamal Abdi, Presiden National Iranian American Council (NIAC). “Ia takut Trump benar-benar serius untuk mencapai kesepakatan damai. Memulai perang di tengah negosiasi adalah kesuksesan besar bagi Netanyahu, persis seperti yang ia lakukan pada Juni tahun lalu.”

Rakyat AS: “No More Wars”

Kontradiksi terbesar muncul dari dalam negeri Amerika Serikat. Survei dari Universitas Maryland menunjukkan hanya 21 persen warga AS yang setuju dengan perang melawan Iran. Kelelahan akibat perang panjang di Irak dan Afghanistan membuat publik Amerika skeptis terhadap keterlibatan militer baru.

Tokoh-tokoh dari sayap kanan hingga progresif mulai bersuara keras, termasuk beberapa pendukung gerakan “America First” Trump, berpendapat bahwa Iran – yang berjarak lebih dari 10.000 km (6.000 mil) – tidak menimbulkan ancaman bagi AS.

Tucker Carlson, mengkritik argumen bahwa ancaman di perbatasan Lebanon (Hezbollah) adalah masalah warga Amerika di Maine atau negara bagian AS lainnya. Sementara Anggota Kongres Rashida Tlaib menyebut Trump sedang menjalankan “fantasi kekerasan elit politik Amerika dan pemerintah apartheid Israel” sambil mengabaikan aspirasi mayoritas rakyat AS yang menolak perang.

Meskipun Trump mengakui bahwa tentara AS mungkin akan menjadi korban dalam konflik ini, ia tetap menyebutnya sebagai “misi mulia untuk masa depan.” Namun, bagi banyak pengamat, masa depan yang dimaksud bukanlah masa depan Amerika yang damai, melainkan dominasi regional Israel yang kini ditopang penuh oleh kekuatan militer Paman Sam.

Dengan Iran yang mulai membalas melalui serangan ke pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah, kawasan ini kembali masuk ke dalam lubang ketidakpastian. Yang jelas, sementara debu peperangan mulai naik, pemenang terbesar dalam babak ini bukanlah mereka yang berada di Washington, melainkan mereka yang berada di Yerusalem.

Exit mobile version