Site icon Jernih.co

Serangan Tentara Zionis Israel Tewaskan Tiga Jurnalis di Gaza

Dari kiri Mohammad Qeshta, Abdul Ra'ouf Shaath dan Anas Ghunaim (Foto: Handout/eye.on.palestine via Al Jazeera)

JERNIH – Sebuah serangan udara Israel menewaskan tiga jurnalis di Gaza pada hari Rabu (21/1/2026). Kematian mereka terjadi bersamaan dengan sebuah laporan yang mengungkapkan bahwa jumlah jurnalis yang dipenjara di seluruh dunia tetap mendekati rekor tertinggi.

Badan Pertahanan Sipil Gaza, mengatakan jenazah Mohammed Salah Qashta, Abdul Raouf Shaat, dan Anas Ghneim dibawa ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir Al-Balah setelah serangan udara di Al-Zahra, barat daya Kota Gaza. Shaat secara teratur menyumbangkan foto dan rekaman video ke Agence France-Presse, meskipun dia tidak sedang menjalankan tugas pada saat itu, kata kantor berita tersebut.

Militer Israel mengatakan pasukannya telah mengidentifikasi beberapa tersangka yang mengoperasikan pesawat tak berawak yang berafiliasi dengan Hamas di Gaza tengah dan menyerang mereka karena ancaman yang mereka timbulkan. Rinciannya sedang ditinjau, tambah militer Israel.

Seorang saksi mata mengatakan bahwa para jurnalis menggunakan drone untuk mendokumentasikan distribusi bantuan oleh Komite Bantuan Mesir di Jalur Gaza ketika sebuah serangan menghantam salah satu kendaraan komite tersebut.

“Sebuah kendaraan milik Komite Mesir menjadi sasaran serangan selama misi kemanusiaan, yang mengakibatkan gugurnya tiga orang,” kata Mohammed Mansour, juru bicara Komite Bantuan Mesir tersebut. Semua kendaraan milik komite tersebut menggunakan logo komite, tambahnya, dan dia menuduh tentara Israel secara “kriminal” menargetkan kendaraan tersebut.

Sementara itu, sebuah laporan yang baru diterbitkan oleh Komite Perlindungan Jurnalis menyatakan hingga 1 Desember 2025, terdapat 330 jurnalis yang dipenjara di seluruh dunia, turun dari rekor 384 pada akhir tahun 2024 tetapi masih mendekati angka tertinggi sepanjang sejarah.

Israel, yang menahan 29 jurnalis, semuanya warga Palestina, menempati peringkat ketiga dalam daftar negara dengan jumlah pekerja media yang ditahan terbanyak, setelah China (50) dan Myanmar (30). Hampir satu dari lima jurnalis yang dipenjara melaporkan bahwa mereka telah mengalami penyiksaan atau pemukulan.

“Baik rezim otokrasi maupun demokrasi memenjarakan jurnalis untuk membungkam perbedaan pendapat dan membungkam pelaporan independen,” kata CEO komite tersebut, Jodie Ginsberg.

Kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza mengatakan pasukan Israel telah membunuh setidaknya 466 warga Palestina sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada bulan November. Komite Perlindungan Jurnalis melaporkan bahwa 127 jurnalis dan pekerja media lainnya tewas dalam menjalankan tugas mereka selama tahun 2025, sebagian besar di Gaza.

Exit mobile version