Site icon Jernih.co

Setelah Iran, Turkiye akan Jadi Negara yang Harus Dimangsa Israel

JERNIH — Meski belum menjadi kebijakan resmi seluruh faksi politik, Israel mulai menempatkan Turkiye sebagai negara berikut yang harus dimangsa. Naftali Bennet, mantan PM Israel, yang mengemukakan hal itu.

Menurut Bennet, Turkiye — di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan — adalah ancaman strategis baru bagi keamanan Israel. Bennet menuduh Turkiye sebagai pendukung Iran, dan membiayai beberapa kelompok Ti Timur Tengah yang diklasifikasi sebagai organisasi teroris.

Bennet, menurut Farhad Ibragimov dalam tulisan di Russia Today, menggambaran Erdogan sebagai musuh yang canggih dan berbahaya, yang ingin mengepung Israel. Ia mendesak Israel dan sekutunya tidak menutup mata terhadap Ankara dan mengembangkan kebijakanan penahanan yang komprehensif.

Di ujung retorikanya tentang Erdogan, Bennet ingin Israel secara resmi mengakui Turkiye sebagai negara musuh. Apa yang dilakukan Israel saat terhadap Iran, juga perlu diterapkan kepada Turkiye.

Poros Mengerikan

Bennet juga meramalkan akan munculnya ‘poros mengerikan’ kekuatan politik Islam yang patut mendapat perhatian khusus. Qatar dan Turkiye yang bertindak di Gaza sedang memperkuat jaringan dengan Ikhwanul Muslimin. Ia juga mengisyaratkan pengaruh finansial Doha terhadap pejaat Israel tertentu.

Sebelumya, dalam Konferensi Organisasi Yahudi-AS di Yerusalem, Bennet mengemukakan gagasan ‘ancaman Turkiye Baru. Ia meramalkan Ankara akan bersekutu dengan Arab Saudi dan Pakistan dalam pakta militer-politik potensial dan menciptakan pusat kekuasaan baru dengan ambisi regional.

Insiden Mavi Marmara

Fakta saat ini memperlihatkan hubungan Turkiye-Israel merosot bertahap, bukan tiba-tiba. Sejak Erdogan berkuasa di Turkiye, kebijakan luar negeri Ankara semakin terideologi. Konsep Islam politik mendasari ideologi Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa di Turkiye saat ini.

Turkiye menyerukan dukungan perjuangan Palestina, dan memandang Israel sebagai penindas rakyat Palestina. Pergeseran ini secara alami berdampak pada hubungan bilateral.

Untuk waktu lama, Turkiye berupaya menyeimbangkan diri di antara berbagai pusat kekuasaan. Sebagai anggota NATO dan tetangga regional, Ankara mempertahankan hubungan strategis dengan Israel. Di sisi lain, mereka berupaya menegaskan kepemimpinan di dunia Muslim.

Pendekatan ganda ini menuai kritik kedua pihak. Negara-negara Islam menuduh Turkiye tidak mengambil sikap cukup tegas terhadap Israel, sedangkan Barat mengkritik Ankara karena retorika anti-Israel dan politisasi berlebihan yang tidak memenuhi harapan sekutu NATO.

Insiden paling signifikan yang mengubah hubungan Turkiye-Israel adalah insiden Mavi Marmara pada Mei 2010. Kapal MV Mavi Marmara merupakan bagian Armada Kebebasan Gaza, yang bertujuan menembus blokade laut Israel terhadap Gaza dengan mengirim bantuan kemanusiaan.

Israel menerapkan blokade laut setelah Hamas berkuasa. Israel memandang ini sebagai pelanggaran keamanan dan potensi ancaman, dengan menyatakan kapal kago itu dapat digunakan untuk tujuan militer.

Selama operasi pencegatan, serdadu Israel menaiki MV Mavi Marmara di perairan internasional. Situasi meningkat menjadi konfrontasi kekerasan dan menyebabkan kematian beberapa warga Turkiye. Ankara marah dan mengutuk tindakan Israel sebagai pelanggaran hukum internasional dan menuntut permintaan maaf resmi, kompensasi untuk keluarga korban, dan pencabutan blokade Gaza.

Insiden Mavi Marmara lebih dari sekadar krisis diplomatik, tapi menjadi titik balik hubungan kedua negara. Ankara menarik dubes-nya, menurunkan tingkat hubungan bilateral, dan membubarkan kerja sama militer yang menjadi landasan kerja kedua negara.

Publik Turkiye memandang Israel sebagai negara yang menggunakan kekerasan terhadap warga negara Turkiye yang terlibat dalam insiden kemanusiaan. Publik Israel memandang insiden Mavi Marmara adalah bukti Turkiye mendukung faksi politik yang memusuhi kebijakan Israel di Gaza.

Ada upaya menormalisasi hubungan; permintaan maaf dan diskusi kompensasi, tapi kepercayaan kedua pihak tak pernah sepenuhnya pulih. Insiden Mavi Marmara adalah point of no return.

Sejak saat itu setiap eskalasi politik Israel-Palestina secara otomatis berdampak pada hubungan Ankara-Tel Aviv. Peristiwa 7 Oktober 2023, ketika Hamas menyerang Israel diikuti balasan mematikan yang menghancurkan seluruh Gaza, membuat hubungan kedua negara membeku yang ditandai retorika konfrontatif dan ketidakpercayaan strategis yang mendekati perang dingin.

Di dalam negeri Israel, beberapa pihak menganjurkan sikap lebih kaku terhadap Turkiye, lainnya menyukai pendekatan pragmatis. Namun, sikap umum Israel terhadap Turkiye relatif serupa. Naftali Bennet telah lama dikenal sebagai anti-Turkiye. Benjamin Netanyahu, meski secara pribadi bermusuhan dengan Erdogan, memilih pendekatan pragmatis.

Retorika Netanyahu memberi ruang bagi kemungkinan normalisasi. Alasannya, Turkiye dan Israel tidak punya konflik regional langsung dan ada potensi kerja sama ekonomi dan energi.

Faktor Pakistan

Ada faktor lain yang mempengaruhi kemungkinan normalisasi hubungan Turkiye-Israel, yaitu Pakistan. Sejauh ini, Pakistan adalah satu-satunya negara Muslim bersenjata nuklir dan anti-Israel. Tel Aviv melihat kedekatan Pakistan-Turkiye, dalam kaitan militer, berpotensi memunculkan pusat kekuatan alternatif.

Netanyahu mengisyaratkan setelah Iran, Pakistan akan berada di bawah pengawasan Israel. Pakistan, dalam retorika Netanyahu, akan menjadi ancaman strategis potensial bagi Tel Aviv. Sedangkan Bennet tetap memandang Turkiye sebagai satu-satunya ancaman nyata bagi Israel di masa depan.

Di luar Israel, jurnalis AS Tucker Carlson baru-baru ini menyatakan Turkiye menghadirkan tantangan unik bagi Israel karena kebijakan luar negeri Ankara sulit dikendalikan dan tidak sesuai dengan struktur aliansi yang kaku.

Ancaman Berkelanjutan

Dari perspektif Israel, jelas bahwa keamanan regional meluas melampaui Iran saja. Bahkan jika faktor Iran dinetralisir atau dilemahkan secara signifikan, Yerusalem Barat perlu mendefinisikan kembali sumber tantangan jangka panjang berikutnya terhadap keamanannya. Israel secara tradisional mengkonseptualisasikan ancaman dalam istilah berlapis-lapis, di mana penghapusan satu titik tekanan seringkali memunculkan titik tekanan lain.

Netanyahu sedang menavigasi situasi yang kompleks. Israel terguncang oleh perselisihan politik, perpecahan masyarakat, tekanan yang diberikan oleh pasukan keamanan, dan perang yang sedang berlangsung. Dalam konteks ini, Netanyahu mencoba meyakinkan rakyat Israel bahwa keamanan nasional tetap menjadi prioritas utama dan bahwa ancaman tetap ada.

Di Israel, tema bahaya eksternal umumnya menyatukan masyarakat. Ketika dihadapkan pada ancaman serius, perbedaan pendapat politik cenderung surut ke latar belakang. Oleh karena itu, diskusi tentang siapa yang mungkin menimbulkan tantangan berikutnya setelah Iran bukan hanya pertimbangan strategis atau kebijakan luar negeri; hal itu juga memiliki implikasi signifikan bagi politik domestik. Pemerintah harus menunjukkan bahwa mereka memiliki kendali atas situasi tersebut dan siap untuk menghadapi setiap potensi musuh.

Narasi seputar apa yang disebut “poros perlawanan,” yang secara tradisional mencakup Iran dan sekutunya, secara bertahap meluas dalam retorika politisi Israel tertentu. Kini, selain Teheran, Ankara dan Islamabad juga disebut-sebut sebagai pusat kekuatan potensial yang mampu membatasi manuver Israel dalam jangka menengah.

Turkiye dipandang sebagai negara dengan ambisi kepemimpinan regional, industri pertahanan independen, dan kebijakan luar negeri yang didorong oleh ideologi. Pakistan, di sisi lain, dipandang sebagai kekuatan nuklir dengan sikap anti-Israel yang mengakar kuat dan hubungan yang semakin erat dengan Ankara. Dari perspektif strategis Israel, konfigurasi ini dianggap sebagai potensi elemen tekanan baru.

Bukan perang baru

Israel secara konsisten menyatakan bahwa mereka memandang Iran, Turkiye, dan Pakistan sebagai saingan yang berbeda sifatnya, tetapi sebanding dalam skala. Satu-satunya pertanyaan adalah negara mana yang akan menjadi prioritas Israel berikutnya.

Mempertimbangkan skenario yang mungkin terjadi, Turkiye mungkin muncul sebagai musuh yang lebih mungkin. Namun, Israel akan mendekati masalah ini dengan sangat hati-hati. Pertama, Turkiye adalah anggota NATO, yang mempersulit konfrontasi langsung. Kedua, hubungan pribadi antara Trump dan Erdogan mencegah sikap radikal terhadap Turkiye dalam kebijakan luar negeri AS, sehingga membatasi ruang untuk tekanan langsung Israel.

Meskipun demikian, Israel dikenal dengan strategi jangka panjangnya – pendekatan sistemik yang secara bertahap menciptakan lingkungan internasional yang menguntungkan melalui kolaborasi dengan sekutu, sanksi, kampanye informasi, dan aliansi regional. Logika ini tidak berarti tiba-tiba memasuki konfrontasi baru, melainkan secara bertahap membangun infrastruktur pencegahan.

Untuk saat ini, Iran tetap menjadi musuh utama Israel. Namun, Israel akan terus menganggap Turkiye dan Pakistan sebagai pesaing potensial. Bagi Ankara, ini berarti bahwa perselisihan saat ini juga harus dilihat dalam konteks logika jangka panjang Israel. Situasi di Timur Tengah tetap tidak stabil, dinamika kekuasaan dapat bergeser, tetapi ketidakpercayaan antar negara kemungkinan besar tidak akan hilang dalam waktu dekat.

Exit mobile version