Dari puncak tertinggi Eropa hingga perut bumi Jawa, Pataka Oranye IMPALA UB telah sakti menjelajah. Hari ini, dalam rangka ulang tahun emas ke-50, bendera kebesaran itu diarak sejauh 50 km mengelilingi kampus Universitas Brawijaya.
WWW.JERNIH.CO – Hari ini 29 Mei merupakan momentum yang amat sakral bagi keluarga besar Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Brawijaya (IMPALA UB). Namun, perayaan kali ini membawa atmosfer yang jauh berbeda, penuh peluh, dan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah organisasi.
Menandai hari jadi yang ke-50 tahun—sebuah pencapaian emas yang melambangkan kematangan, ketangguhan, dan konsistensi—sebuah aksi monumental sekaligus fisik yang luar biasa digelar: berlari sejauh 50 kilometer mengelilingi seluruh area kampus Universitas Brawijaya, Malang.

Suasana haru sekaligus bangga menyelimuti sepanjang jalannya agenda. Acara ini diikuti oleh puluhan anggota IMPALA UB yang datang dari berbagai generasi. Ikatan persaudaraan yang kuat begitu terasa saat para anggota senior yang telah lama lulus, kembali turun ke lapangan untuk berlari berdampingan dengan para anggota junior yang masih aktif di bangku kuliah.
Keteguhan para kader ini kian membakar semangat ketika Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. turut hadir langsung di lokasi acara untuk memberikan dukungan moral. Kehadiran orang nomor satu di UB tersebut menjadi bukti nyata sinergi dan pengakuan pihak universitas terhadap dedikasi serta kontribusi positif yang selama ini diukir oleh IMPALA.
Pataka IMPALA UB
Senior dan para kader IMPALA UB secara bergantian membawa dan mengibarkan Pataka (bendera kebesaran) IMPALA UB secara estafet sepanjang lintasan. Jarak 50 kilometer yang ditempuh secara presisi mencerminkan setiap tahun langkah perjuangan yang telah dilewati organisasi ini sejak pertama kali didirikan.
Mengitari ruang-ruang akademis UB tempat mereka bernaung, derap langkah para pelari ini disaksikan langsung oleh jajaran rektorat dan sivitas akademika sebagai bentuk penghormatan mendalam terhadap akar sejarah mereka.
Pataka orange itu sendiri sudah pernah pergi ke mana-mana. Setidaknya dua kali menancap di dataran tertinggi Asean-Oseania yakni Carstensz Pyramid pada 1986 dan 1995. Pada 2017 malah mengelana ke dataran paling tinggi di benua Eropa alias di puncak Elbrus (Rusia).
Ia seakan menjadi saksi setiap aksi anak-anak IMPALA UB ke mana pun pergi. Tak hanya di gunung. Dalam sejumlah ekspedisi seperti saat eksplorasi Luweng Ombo, Pacitan, sang bendera menjadi penanda bahwa caver-caver Impala pernah menjelajah perut bumi yang merupakan gua terdalam di Pulau Jawa.
Di Balik Derap Langkah
Aksi berlari 50 km dengan membawa Pataka kebesaran serta keterlibatan lintas generasi ini memiliki kedalaman makna yang membedakannya dari perayaan seremonial biasa.
Olahraga lari jarak jauh menuntut konsistensi, pengelolaan energi, dan kekuatan mental untuk melawan rasa lelah. Jarak 50 km adalah simbolisasi konkrit bahwa selama setengah abad, IMPALA UB mampu bertahan melewati berbagai pergantian zaman, dinamika organisasi, dan tantangan alam, karena ditopang oleh kader-kader yang tangguh dan tak mudah menyerah.
Pataka bukan sekadar kain berlogo belaka. Ia adalah simbol kehormatan, jati diri, dan marwah organisasi. Membawa pataka secara terus-menerus tanpa membiarkannya terjatuh bermakna bahwa setiap generasi IMPALA UB memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga nama baik dan meneruskan amanah para pendiri, seberat apa pun medan yang harus dihadapi.
Kehadiran bersama antara senior dan junior lintas generasi menunjukkan bahwa rantai persaudaraan di dalam IMPALA UB tidak pernah terputus oleh waktu. Ditambah dengan kehadiran Rektor UB, momen ini menegaskan bahwa IMPALA adalah bagian integral yang tak terpisahkan dari denyut nadi perkembangan universitas.
Dengan memilih rute keliling kampus UB, IMPALA menegaskan kembali fitrahnya sebagai organisasi mahasiswa yang tumbuh bersama almamaternya. Ini adalah bentuk pengabdian, bahwa petualangan dan penjelajahan yang mereka lakukan di alam bebas, ujungnya adalah untuk mengharumkan nama Universitas Brawijaya.(*)
BACA JUGA: Dua Pendaki Putri Indonesia Kibarkan Merah Putih di Ama Dablam di Waktu Berbeda