Site icon Jernih.co

Siapa Saja yang Diizinkan Iran Melintasi Selat Hormuz di Tengah Desing Peluru?

JERNIH – Di saat Donald Trump sibuk meneriakkan seruan perang dan koalisi militer, Republik Islam Iran lebih memilih menggunakan “kartu as” ekonomi mereka di Selat Hormuz sebagai instrumen diplomasi mematikan. Jalur pelayaran yang melayani seperlima pasokan minyak dunia ini kini menjadi panggung bagi kebijakan Teheran.

Sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari 2025, harga minyak mentah Brent telah melonjak hingga US$105,70 per barel—naik lebih dari 40 persen. Di tengah ancaman Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk “membakar” kapal mana pun yang melintas, muncul satu pertanyaan besar: Siapa saja yang mendapatkan tiket emas jalur aman dari Iran?

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi kepada CBS bahwa sejumlah negara telah mendekati Teheran untuk meminta jalur aman. “Keputusan ada di tangan militer kami,” tegasnya.

Ada beberapa negara yang sejauh ini dilaporkan berhasil melobi Teheran. Pakistan melaporkan, kapal tanker Aframax bernama Karachi dilaporkan berhasil berlayar keluar dari Teluk melalui Hormuz pada hari Minggu (15/3), sebuah langkah langka yang dipantau ketat oleh pasar global.

New Delhi, yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan ini, berhasil mengamankan jalur bagi dua kapal tanker pengangkut LPG. Dubes Iran untuk India, Mohammad Fathali, menyebut ini sebagai “pengecualian langka” di tengah blokade total.

Sementara Menteri Transportasi Turki, Abdulkadir Uraloglu, mengonfirmasi bahwa setelah negosiasi alot, satu dari 15 kapal milik pengusaha Turki diizinkan melintas. “Kami memperoleh izin karena kapal tersebut menggunakan pelabuhan Iran,” jelasnya.

China, yang menerima 45 persen pasokan minyaknya melalui Hormuz, dilaporkan sedang dalam tekanan besar. Meskipun memiliki hubungan dekat dengan Iran, Beijing merasa sangat tidak nyaman dengan keputusan Teheran yang melumpuhkan perdagangan global. Menurut sumber diplomatik, China tengah mendesak Iran agar kapal tanker mereka dan pembawa LNG dari Qatar diberikan akses tanpa syarat.

Sementara itu, dua kekuatan Eropa, Prancis dan Italia, dikabarkan telah membuka jalur komunikasi rahasia dengan Teheran. Ironisnya, kedua negara ini secara formal adalah sekutu AS, namun mereka tampaknya lebih memilih jalur dialog ketimbang mengikuti seruan konfrontasi Trump.

Koalisi “Sepi Peminat” Donald Trump

Di seberang samudra, Presiden Donald Trump terus mempromosikan ide pembentukan koalisi angkatan laut internasional untuk “mengamankan” selat tersebut. Lewat akun Truth Social-nya, Trump berharap China, Prancis, Jepang, hingga Inggris akan mengirimkan kapal perang.

Namun, respons yang ia terima justru sangat dingin. Jerman secara tegas menolak keterlibatan militer. “Selama perang ini berlanjut, tidak akan ada partisipasi dalam upaya menjaga Selat Hormuz dengan cara militer,” tegas juru bicara pemerintah Jerman.

Yunani sebagai salah satu pemilik armada kapal komersial terbesar di dunia ini juga menyatakan tidak akan terlibat dalam operasi militer apa pun di Hormuz. Sedangkan Perdana Menteri Keir Starmer secara gamblang menyatakan, “Kami tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas.”

Analis keamanan Timur Tengah, Rodger Shanahan, menilai sikap dingin para sekutu AS adalah hal yang wajar. Sebagian besar negara tersebut sejak awal menentang perang ini, sehingga mereka merasa kurang termotivasi untuk membereskan kekacauan yang dimulai Washington.

“Ada masalah praktis juga. Membentuk koalisi angkatan laut tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh waktu lama untuk mengerahkan kapal perang ke area tersebut. Anda tidak bisa melakukannya secara mendadak sambil lalu,” ujar Shanahan mengutip Al Jazeera.

Iran berhasil mengubah Selat Hormuz menjadi instrumen politik yang sangat efektif. Dengan memberikan akses terbatas kepada negara-negara tertentu, Teheran mencoba memecah kesolidan sekutu Barat dan memperkuat posisinya di meja runding. Di sisi lain, Donald Trump kini mendapati dirinya berada dalam posisi sulit: memiliki militer terkuat di dunia, namun berjuang sendirian tanpa dukungan nyata dari kawan-kawannya di jalur pelayaran paling krusial di bumi.

Exit mobile version