Site icon Jernih.co

Sinyal Perang Semesta, Iran Kibarkan Bendera Merah Balas Dendam di Masjid Jamkaran

JERNIH – Suasana duka nasional di Iran berubah menjadi seruan perang terbuka. Tak lama setelah pengumuman wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara AS-Israel, otoritas keagamaan Iran mengibarkan bendera merah di atas kubah suci Masjid Jamkaran, Kota Qom, Minggu (1/3/2026).

Pengibaran bendera ini dilakukan di tengah prosesi pemakaman Khamenei yang juga menewaskan putri, menantu, dan cucunya. Melalui akun media sosial resmi Masjid Jamkaran, pihak otoritas menegaskan bahwa simbol ini merupakan pesan langsung bagi Washington dan Tel Aviv.

“Pengibaran bendera ‘Ya Lazarat al-Hussein’ di atas kubah Masjid Jamkaran adalah simbol pencarian darah dan balas dendam terhadap penjahat Amerika dan Zionis,” tulis pernyataan resmi tersebut.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa intelijen AS dan militer Israel bekerja sama dalam operasi presisi pada Sabtu pagi (28/2/2026). Menggunakan sistem pelacak tercanggih, rudal menyasar target di Teheran yang melumpuhkan jantung kepemimpinan Iran.

Menanggapi tragedi ini, Pemerintah Iran telah menetapkan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari libur nasional. Namun, pengibaran bendera merah di Qom memberikan sinyal bahwa Iran tidak hanya akan berkabung, tetapi juga menyiapkan balasan militer yang masif.

Makna Bendera Merah “Ya Lazarat al-Hussein”

Dalam tradisi Islam Syiah, pengibaran bendera merah di atas tempat suci bukanlah peristiwa biasa. Berikut adalah latar belakang sosiopolitik dan religius dari simbol tersebut:

1. Simbol Darah yang Belum Terbalas. Bendera merah secara historis melambangkan “darah yang ditumpahkan secara tidak adil” dan belum dibalaskan. Dalam tradisi Arab kuno, bendera merah dikibarkan di atas tenda atau makam seseorang yang terbunuh untuk menunjukkan bahwa kerabatnya tidak akan berhenti hingga keadilan (balas dendam) ditegakkan.

2. Seruan “Ya Lazarat al-Hussein”. Kalimat yang tertera di bendera tersebut, “Ya Lazarat al-Hussein”, secara harfiah berarti “Wahai para penuntut balas dendam Hussein”. Ini merujuk pada Imam Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, yang gugur dalam Pertempuran Karbala tahun 680 Masehi. Bagi warga Iran, penggunaan kalimat ini mengubah konflik politik menjadi sebuah “perjuangan suci” atau jihad membela kehormatan pemimpin mereka.

3. Pesan Mobilisasi Perang. Sepanjang sejarah modern Republik Islam Iran, bendera merah sangat jarang dikibarkan. Terakhir kali bendera serupa menjadi perhatian dunia adalah saat tewasnya Jenderal Qasem Soleimani pada tahun 2020. Pengibarannya di Masjid Jamkaran—yang memiliki kedudukan teologis penting terkait kedatangan Imam Mahdi—dianggap sebagai instruksi bagi seluruh milisi pro-Iran (Poros Perlawanan) di Timur Tengah untuk mulai menyerang aset-aset AS dan Israel.

Exit mobile version