JERNIH — Agresi militer Israel di wilayah Lebanon Selatan menorehkan luka mendalam bagi sejarah peradaban dunia. Pemboman intensif yang dilancarkan pasukan Israel resmi menghancurkan sebagian kompleks kuno di kota Tyre (Sur), sebuah situs bersejarah berusia 5.000 tahun yang dilindungi oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.
Direktur Regional Situs Arkeologi Lebanon Selatan, Ali Badawi, mengonfirmasi kepada AFP bahwa serangan yang terjadi pada hari Minggu kemarin merupakan hantaman dengan dampak kerusakan paling fatal dan mengerikan bagi kota kuno tersebut sejak perang berkecamuk.
“Volume puing-puing dan tingkat kerusakan di situs ini sangat tinggi. Kantor administrasi situs hancur total dibom secara langsung. Reruntuhan beton jatuh dalam skala luas dan merusak artefak arkeologi berharga, termasuk pilar-pilar kuno, hiasan kepala tiang (capitals), fondasi kolom, hingga hamparan mosaik bersejarah,” ungkap Ali Badawi, Senin (12/06/2026).
Tyre merupakan salah satu kota tertua di pesisir Laut Mediterania yang terletak sekitar 20 kilometer dari perbatasan Lebanon. Kompleks warisan dunia di kota ini terbagi menjadi dua area utama, yakni situs kota yang menampung reruntuhan kuno era Kekaisaran Romawi, dan area Al-Bass.
Kondisi terkini di lapangan pasca-serangan meliputi beberapa poin krusial. Kompleks Al-Bass dikonfirmasi telah mengalami kerusakan parah akibat serangan udara sebelumnya. Sesaat sebelum bom dijatuhkan, militer Israel mengeluarkan perintah pengosongan paksa yang mencakup area situs kuno tersebut.
Pihak berwenang Lebanon menegaskan bahwa Tyre adalah situs sipil murni dan sama sekali tidak menampung aktivitas militer apa pun. Koresponden AFP di lokasi melaporkan pecahan logam, debu tebal, dan beton berserakan di tangga batu kuno. Investigasi mendalam belum bisa dilakukan karena para ahli arkeologi belum diizinkan masuk ke lokasi akibat bahaya serangan susulan. Pihak UNESCO pun kini telah resmi dinotifikasi.
Sejak tahun 2023, UNESCO sebenarnya telah memberikan status Provisional Enhanced Protection—tingkat perlindungan hukum tertinggi—kepada lebih dari 70 situs warisan di Lebanon, termasuk Tyre. Namun, status hukum internasional tersebut terbukti gagal membendung rudal-rudal Israel.
Tragedi yang menimpa Tyre bukanlah insiden tunggal. Sejak perang meluas pada tahun 2024, militer Israel tercatat telah merontokkan banyak sekali situs bersejarah dan religius di seantero Lebanon.
Pada Oktober 2024, Gereja St. George (abad ke-19) di Derdghaya dibom hingga menewaskan 8 warga sipil yang berlindung di dalamnya. Di bulan yang sama, Masjid Kfar Tibnit (abad ke-18) rata dengan tanah, disusul runtuhnya dinding Kastil Tibnin peninggalan era Perang Salib, serta hancurnya Pasar Tradisional Nabatieh yang telah berusia 200 tahun.
Di Lembah Baalbek, Qubbat Duris, situs peninggalan Dinasti Ayyubid dari abad ke-13 yang sempat rusak pada perang 2006, kembali menjadi sasaran bom udara. Pada Mei 2026, Benteng Al-Shaqif (Kastil Beaufort) peninggalan tentara salib abad ke-12 yang berada di bawah perlindungan tertinggi UNESCO, hancur setelah berkali-kali dihujani bom oleh jet tempur Israel.
Penghancuran sistematis terhadap identitas sejarah ini terpola persis dengan apa yang terjadi di Jalur Gaza. UNESCO memverifikasi sedikitnya 110 situs budaya di Gaza telah rusak, di mana Bank Dunia mengestimasi 53% aset budaya di Gaza telah hancur total sejak Oktober 2023.
Beberapa kehilangan terbesar di Gaza meliputi hancurnya Masjid Agung Omari (salah satu masjid tertua), Gereja Saint Porphyrius era Perang Salib, serta hilangnya lebih dari 17.000 artefak langka di istana Qasr al-Basha setelah pasukan darat Israel menduduki situs tersebut pada tahun 2025.
Menteri Kebudayaan Lebanon, Ghassan Salame, menyatakan tindakan Israel ini adalah sebuah kesengajaan yang terencana. Mengingat Israel memiliki teknologi rudal dengan akurasi sangat tinggi dalam operasi militer lainnya, klaim bahwa kehancuran tempat bersejarah ini sebagai “ketidaksengajaan” dinilai sebagai omong kosong. Beberapa kerusakan dipastikan bersifat permanen dan tidak akan pernah bisa dipulihkan kembali.
