Site icon Jernih.co

Skandal Perselingkuhan Bos FIFA Gianni Infantino Terungkap, Mosi tak Percaya Menguat

JERNIH — Presiden FIFA Gianni Infantino mempromosikan wanita selingkuhannya ke posisi manajerial untuk menaikan gajinya sebesar 30 persen menjadi 160 ribu franc Swiss, atau Rp 3,5 miliar per tahun.

Surat kabar The Telegraph, Jumat 7 Agustus, melaporkan — dengan mengutip rekan kerja dan tokoh senior FIFA — Infantino telah menikah dan memiliki empat anak. Ia berselingkuh dengan perempuan yang saat itu berstatus karyawan junior FIFA.

Surat kabar itu tak menyebut kapan perselingkuhan, tapi menulis bahwa Michel Platini — saat menjabat presiden UEFA 2007-2016 — sempat mengkonfrontasi hubungan ini. Akhirnya disepakati wanita itu meninggalkan FIFA dengan menerima pesangon ratusan ribu dolar dari UEFA.

UEFA juga diduga membiayai wanita itu untuk mengikuti program MBA di sebuah perguruan tinggi bisnis dengan biaya 60 ribu dolar AS per tahun. Sayangnya, identitas wanita itu tak disebutkan. Namun, UEFA mengkonfirmasi adanya pembayaran pesangon dan biaya sekolah untuk wanita itu, yang disebut sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Juru bicara FIFA mengatakan Infantino membantah tuduhan itu, dengan menyebutnya sama sekali tidak benar. Ia juga menyebut tuduhan perselingkuhan itu fitnah.

Pengungkapan skandal ini tampaknya merupakan tekanan terbaru dari UEFA. Sebelumnya, Infantino menghadapi kecaman keras sehubungan rencana pembentukan anak perusahaan senilai 20 miliar dolar AS yang akan menyelenggarakan seluruh acara sepak bola FIFA.

Anak perusahaan itu akan menjual saham, yang dipastikan akan dibeli sejumlah investor. Salah satu investor, diperkiraan akan membeli lebih banyak saham perusahaan itu, adalah Joshua Kushner — saudara laki-laki Jared Kushner, menanti Presiden Donald Trump.

Sebanyak 55 anggota UEFA mengancam akan memboikot semua kompetisi FIFA jika rencana itu tak dicabut. Concacaf dan AFC, atau konfederai sepak bola Amerika Utara dan Asia, juga mengajuktn mosi tak percaya terhadap Infantino.

FIFA, setelah pertemuan di Maroko, secara resmi membatalkan rencana itu dan mengatakan masalah itu seharusnya ditangani dengan cara berbeda. Namun UEFA melanjutkan boikotnya, karena tidak yakin Infantino tidak yakin mengubur rencana itu selamanya.

Perselisihan mengenai tata kelola kali pertama muncul di tengah gelaran Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko. Masalah paling menjengkelkan muncul di AS dengan kontroversi politik, larangan visa, harga tiket sangat mahal, dan keputusan VAR yang menguntungkan Argentina.

Infantino meghadapi kritik ketika membatalkan kartu merah Folarin Balogun, bintang AS, agar bis tampil pada laga berikut. Infantino melakukan semua itu setelah ditelepon Presiden AS Donald Trump.

Trump membalas kebaikan Infantino mengatakan mengatakan Infantino layak menjadi sekretasis jenderal PBB berikut.

Exit mobile version