Site icon Jernih.co

Skandal Spionase di Takhta Suci: Intelijen AS Pantau Vatikan, Paus Leo XIV Jadi ‘Target Prioritas’ Trump

Paus Leo XIV. (Foto: Riccardo De Luca/Anadolu via Getty Images)

JERNIH – Hubungan diplomatik Washington dan Vatikan dilaporkan memanas menyusul laporan investigasi yang mengungkap bahwa badan intelijen Amerika Serikat telah memantau Takhta Suci selama bertahun-tahun. Pengawasan ini dikabarkan meningkat drastis menjadi “prioritas utama” setelah Presiden Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap Paus Leo XIV.

Laporan yang dirilis oleh jurnalis investigasi independen, Ken Klippenstein, menyebutkan bahwa meskipun aktivitas surveilans ini sudah ada sejak lama, intensitasnya melonjak setelah 12 April 2026. Saat itu, Trump secara terbuka menyebut Paus Leo XIV sebagai sosok yang “mengerikan bagi kebijakan luar negeri.”

Badan intelijen seperti CIA dan NSA dilaporkan berupaya memantau komunikasi yang terkait dengan Takhta Suci, mulai dari email hingga telekomunikasi. Tidak hanya itu, laporan tersebut mengeklaim AS mempertahankan sumber intelijen manusia (HUMINT) di dalam struktur administratif Vatikan.

Yang menarik, badan pemerintah AS disebut rutin menyusun ringkasan intelijen terkait urusan Vatikan dan memiliki tim ahli bahasa khusus, termasuk pakar Bahasa Latin Gerejawi, untuk mendukung analisis komunikasi rahasia mereka.

Ketegangan ini dipicu oleh sikap Paus Leo XIV yang vokal mengkritik kebijakan luar negeri AS, terutama terkait perang dengan Iran. Menanggapi kritik Trump, Paus Leo XIV memberikan jawaban singkat namun menantang: “Saya tidak takut.”

Trump sendiri secara terang-terangan mengaku bukan penggemar Paus Leo XIV. Ia menjuluki pemimpin umat Katolik tersebut sebagai “sosok yang sangat liberal”, “lemah terhadap kejahatan”, dan “mengerikan dalam kebijakan luar negeri”. Meski begitu, Trump berkelit dengan mengatakan, “Paus boleh bicara apa saja yang dia mau, tapi saya berhak tidak setuju.”

Berbeda dengan pendahulunya seperti Paus Fransiskus atau Benediktus XVI yang sering bergantung pada penerjemah, Paus Leo XIV berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang sangat fasih dan bernuansa budaya Amerika. Hal ini membuat pernyataannya sangat jernih dan tidak menyisakan ruang bagi para pejabat Vatikan untuk “menghaluskan” nada bicaranya jika terjadi kontroversi.

“Karena tumbuh besar di AS, Leo memiliki kompetensi bahasa dan wawasan budaya Amerika yang murni,” ujar Vincent J. Miller, pakar teologi dari University of Dayton.

Leo dianggap lebih berani terlibat langsung dalam isu politik Amerika daripada sekadar memberikan panduan moral umum. Ia bahkan secara tersirat membalas penggunaan Alkitab untuk tujuan militeristik oleh Menteri Perang AS, Pete Hegseth, dalam khotbah Minggu Palma-nya pada 26 Maret lalu.

Laporan Klippenstein menempatkan aktivitas spionase ini dalam konteks sejarah yang lebih luas. Selama Perang Dingin, Washington dan Vatikan sebenarnya sering bekerja sama secara erat dalam isu keamanan dan pertukaran intelijen, terutama untuk urusan di Eropa Timur. Namun, kini dinamika tersebut bergeser menjadi kecurigaan dan pengawasan ketat.

Hingga saat ini, otoritas AS belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim surveilans tersebut. Namun, laporan ini telah menarik perhatian dunia tentang betapa kompleksnya hubungan antara operasi intelijen, diplomasi, dan lembaga keagamaan di tengah ketegangan geopolitik saat ini.

Exit mobile version