Site icon Jernih.co

“Skenario Catur” Profesor Jiang Xueqin: Mengurai Teori Tiga Periode Trump hingga Kompromi Rahasia AS-Tiongkok

Foto: Getty

JERNIH – Di mata akademisi Tiongkok jebolan Yale University, Profesor Jiang Xueqin, dinamika geopolitik hari ini bukanlah serangkaian kebetulan yang acak. Menurutnya, panggung politik dunia bergerak bagai papan catur yang langkah-langkah utamanya telah terpetakan.

Pandangan Jiang mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah tiga prediksinya pada 2024 lalu—mulai dari kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih hingga eskalasi AS di Timur Tengah—terbukti presisi. Kini, ia kembali melontarkan seperangkat proyeksi berani yang merombak cara pandang awam terhadap masa depan global.

Gagasan tentang kepemimpinan tiga periode di Amerika Serikat kerap dianggap mustahil secara hukum. Namun, Jiang menilai celah kekuasaan selalu bisa ditembus lewat dua taktik politik yang diperhitungkan secara matang. Trump diproyeksikan mendorong putranya, Donald Trump Jr., sebagai calon presiden pada Pemilu 2028 dengan dirinya sendiri berada di posisi wakil presiden. Pasca-kemenangan, skenario pengunduran diri sang putra bakal membuka jalan bagi Trump untuk kembali memegang kendali penuh.

Ada juga klausul darurat nasional dengan memanfaatkan situasi konflik global, pengaktifan emergency powers dapat dijadikan dasar penundaan pemilu—taktik yang secara empiris pernah diterapkan Volodymyr Zelensky di Ukraina.

Guna menopang kesiapan militer dalam menghadapi ketegangan global tersebut, Jiang memperkirakan Washington akan memberlakukan kembali sistem wajib militer (national draft) secara otomatis.

Berbeda dengan narasi Perang Dingin baru yang sering didengungkan, Jiang meyakini Amerika Serikat dan Tiongkok tidak akan pernah terlibat dalam bentrokan militer secara terbuka. Kedua kekuatan besar ini diramal akan memilih jalur diplomasi belakang layar untuk membagi zona pengaruh dan kepentingan ekonomi global.

Sementara itu, peta konflik di wilayah lain diproyeksikan mengalami pergeseran signifikan. Di Timur Tengah, pelonggaran kehadiran militer AS akan dimanfaatkan Israel untuk memperluas ekspansi territorial secara lebih agresif.

Sementara Rusia diprediksi mengunci kendali atas pelabuhan strategis Odessa guna menguasai jalur distribusi pangan dunia sebelum menyepakati penghentian bentrokan dengan syarat yang menguntungkan Moskow.

Sedangkan prediksinya di Asia Timur, usai tensi di Eropa dan Middle East akan memindahkan poros gesekan global ke tiga titik rawan Asia Timur: Laut Tiongkok Selatan, Selat Taiwan, dan Semenanjung Korea.

Sebagai mantan akademisi Peking University yang kerap menulis untuk The Wall Street Journal dan The New York Times, Jiang dikenal kerap membongkar cara pandang konvensional dalam melihat sejarah dan politik. Bagi Jiang, publik sering kali terkecoh oleh drama permukaan tanpa menyadari penggerak utama di balik layar.

“Mayoritas orang terjebak merespons aksi para aktor di panggung,” tegas Jiang. “Padahal, kunci memahami dunia adalah mencari tahu siapa yang menulis skenarionya.”

Exit mobile version