Site icon Jernih.co

Strategi Bakom Gandeng Homeless Media sebagai Corong Negara

Lewat strategi baru, Bakom RI menggandeng raksasa New Media untuk mengubah bahasa birokrasi jadi konten yang snackable.

WWW.JERNIH.CO –    Pilihan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI untuk menggandeng Homeless Media—atau yang kini secara formal disebut New Media—sebagai mitra komunikasi publik menandai pergeseran radikal dalam strategi diseminasi informasi negara.

Sebutan Homeless Media awalnya muncul sebagai istilah slang di industri karena media-media ini tidak memiliki “rumah” fisik seperti kantor redaksi formal. Juga tidak memiliki “rumah” digital, karena hanya bersandar pada  pihak ketiga seperti Meta, Google, ByteDance, atau X.

Langkah ini merupakan respons atas perubahan perilaku konsumsi informasi masyarakat yang semakin menjauh dari media konvensional.

Strategi utama Bakom melalui kemitraan ini adalah diseminasi informasi tanpa sekat (seamless dissemination). Selama ini, komunikasi pemerintah seringkali terjebak dalam bahasa birokrasi yang kaku dan kanal yang jarang diakses anak muda. Dengan merangkul homeless media, pemerintah melakukan Native Content Integration. Program pemerintah (seperti Makan Bergizi Gratis atau hilirisasi ekonomi) dikemas ulang menjadi konten yang sesuai dengan gaya bahasa media mitra, baik itu infografis pop, video pendek, maupun meme.

Alih-alih menyebarkan satu pesan untuk semua, Bakom memetakan isu ke media yang relevan. Isu ekonomi ke akun literasi keuangan, isu sosial ke akun berbasis humaniora, dan isu gaya hidup ke akun pop culture.

Strategi Bakom ini berupaya meningkatkan “derajat” media-media ini melalui sistem verifikasi agar memiliki akurasi setara media mainstream, sekaligus memberikan akses informasi tangan pertama dari istana.

Dalam konferensi persnya, Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menyebutkan sejumlah nama besar yang tergabung dalam New Media Forum. Nama-nama tersebut mencakup berbagai segmen. Di Gaya Hidup dan Pop Culture ada Folkative, USS Feed, Creativox, Indozone, dan Dagelan. Di segmen    Edukasi dan Humaniora: Kok Bisa?, Menjadi Manusia, GNFI (Good News From Indonesia), dan Big Alpha.

Sementara di Sosial dan Komunitas: Infipop, Muslimvlog, Taubaters, Kawan Hawa, dan Pandemic Talks. Juga beberapa lainnya.

Namun pasca pengumuman, beberapa entitas seperti Narasi, Bapak2ID, dan Ngomongin Uang sempat memberikan klarifikasi atau bantahan terkait keterlibatan resmi mereka, yang menunjukkan bahwa proses konsolidasi ini masih bersifat dinamis dan penuh tantangan independensi.

Potensi jangkauan dari kolaborasi ini sangat masif. Secara kolektif, akun-akun yang berada di bawah payung New Media Forum ini memiliki total pengikut mencapai puluhan hingga ratusan juta akun di lintas platform (Instagram, TikTok, X). Sementara engagement-nya total tayangan bulanan (monthly views) yang diklaim mencapai angka miliaran.

Mayoritas audiens adalah Gen Z dan Milenial, kelompok pemilih terbesar dan penggerak opini di media sosial saat ini.

Strategi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI dalam merangkul homeless media bukanlah sebuah anomali dalam lansekap komunikasi politik modern, melainkan bagian dari tren global yang telah diimplementasikan oleh beberapa negara maju dengan pendekatan yang sangat terstruktur.

Di Singapura, strategi ini dimotori oleh The Smart Nation & Digital Government Group (SNDGG) yang secara aktif berkolaborasi dengan platform media baru seperti Mothership.sg. Sebagai entitas yang sering dianggap sebagai “Homeless Media” yang telah bertransformasi menjadi raksasa digital, Mothership mendapatkan akses eksklusif dari pemerintah untuk mengolah isu kebijakan yang berat, seperti anggaran tahunan, menjadi konten yang snackable dan penuh meme.

Dengan teknik government-as-a-service, informasi publik disisipkan secara organik ke dalam narasi keseharian warga, sehingga pesan pemerintah terasa seperti percakapan antar teman di media sosial daripada pengumuman resmi yang kaku.

Bergeser ke Tiongkok, pemerintah setempat melalui Departemen Propagandanya telah menciptakan ekosistem komunikasi yang sangat masif yang dikenal dengan istilah “The Central Kitchen” atau Pusat Dapur Redaksi. Filosofi utamanya adalah “masak satu kali, sajikan di banyak meja,” di mana pemerintah memproduksi konten inti yang kemudian didistribusikan ke ribuan akun media sosial independen, komunitas di WeChat, hingga news aggregator seperti Toutiao.

 Meskipun akun-akun ini secara teknis merupakan media non-pemerintah tanpa badan redaksi tradisional, mereka berfungsi sebagai “corong” yang menyesuaikan nada bicara dengan audiens lokal di berbagai provinsi. Strategi orkestrasi narasi ini memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan visi “satu pesan, seribu akun” yang kini tengah diupayakan oleh Bakom di Indonesia.(*)

BACA JUGA: Hasan Nasbi Mundur: Gagalnya Komunikasi Istana dan Tantangan Era Prabowo

Exit mobile version