Dunia merayakan tahun baru secara estafet, namun ada dua titik ekstrem yang menjadi awal dan akhirnya. Dari desa bernama “London” di tengah Pasifik hingga landasan pacu Amelia Earhart yang terlupakan.
WWW.JERNIH.CO – Secara geografis dan temporal, bumi terbagi ke dalam zona waktu yang membuat perayaan ini menjadi estafet panjang selama 26 jam. Dari pulau kecil di tengah Pasifik hingga kepulauan terpencil di dekat Alaska.

Sesuai dengan rotas bumi, ada titik yang pertama merayakan tahun baru, dan ada titik terakhir. Kedua titik atau wilayah tersebut saling berdekatan dan berada di Samudra Pasifik.
Titik Pertama: Kiribati (Pulau Natal)
Negara pertama yang menyapa fajar tahun baru adalah Kiribati, khususnya di Kiritimati (Pulau Natal). Terletak di garis waktu UTC+14, wilayah ini berada paling jauh di depan dibandingkan bagian dunia lainnya.
Perayaan di Kiribati cenderung bersifat komunal dan religius. Karena lokasinya yang tropis dan terpencil, Anda tidak akan menemukan kemegahan kembang api seperti di Sydney atau New York. Sebaliknya, penduduk setempat berkumpul di Maneaba (rumah pertemuan tradisional) untuk menari, menyanyi, dan menikmati pesta makan besar.
Sebelum tahun 1995, Kiribati terbagi oleh Garis Waktu Internasional, membuat bagian timur dan barat negara ini memiliki perbedaan hari yang berbeda. Pemerintah kemudian “menggeser” garis tersebut ke timur agar seluruh negara berada di hari yang sama, menciptakan zona waktu UTC+14.
Tahun baru di sini sering dimulai dengan ibadah gereja tengah malam, menekankan rasa syukur atas kelangsungan hidup di tengah tantangan perubahan iklim dan kenaikan air laut yang mengancam pulau-pulau atol mereka.
Kiribati bukan sekadar negara kepulauan biasa di Samudra Pasifik. Negara yang terdiri dari 33 atol ini memegang predikat geografis yang tidak dimiliki bangsa lain: Kiribati adalah satu-satunya negara di dunia yang wilayahnya tersebar di empat belahan bumi sekaligus, yakni Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Hal ini dimungkinkan karena letak geografisnya yang unik, melintasi garis khatulistiwa dan garis bujur 180 derajat (Garis Waktu Internasional), menjadikannya titik pertemuan global yang sesungguhnya.
Keunikan Kiribati semakin terasa saat kita menilik nama-nama pemukiman di Pulau Kiritimati atau Pulau Natal. Alih-alih hanya menggunakan nama lokal, pengunjung akan menjumpai desa-desa dengan nama internasional seperti London, Paris, dan Poland.
Nama-nama ini menyimpan sejarah panjang; London berfungsi sebagai pusat administrasi, sementara Poland dinamai untuk menghormati Stanisław Pełczyński, penjelajah Polandia yang membantu sistem irigasi warga lokal. Bahkan, terdapat wilayah bernama Banana yang terletak di dekat bandara, menambah warna eksentrik pada peta wilayah ini.
Sebagai negara yang terletak paling timur secara kronologis, Kiribati dijuluki sebagai “Pemilik Waktu Tercepat” di dunia. Saat warga London, Inggris, masih terjebak di jam 10 pagi tanggal 31 Desember, masyarakat Kiribati sudah merayakan pesta kembang api pada tengah malam tanggal 1 Januari. Secara harfiah, mereka hidup di masa depan dibandingkan penduduk bumi lainnya.
Namun, di balik keunikan tersebut, Kiribati menghadapi tantangan eksistensial yang serius. Dengan rata-rata ketinggian daratan hanya dua meter di atas permukaan laut, negara ini menjadi garis depan terdampak perubahan iklim.
Ancaman tenggelamnya pulau-pulau atol akibat kenaikan air laut memaksa pemerintah Kiribati melakukan langkah ekstrem, termasuk membeli tanah di Fiji sebagai cadangan wilayah evakuasi di masa depan. Hal ini menjadikan Kiribati sebagai pengingat nyata bagi dunia akan kerentanan lingkungan global.
Titik Terakhir: Kepulauan Terluar Kecil AS (Baker & Howland Island)
Saat penduduk Kiribati sudah mulai menjalani aktivitas siang hari di tanggal 1 Januari, ada tempat yang masih berada di tanggal 31 Desember. Titik terakhir yang mengalami pergantian tahun adalah wilayah Pulau Baker dan Pulau Howland, yang berada di zona waktu UTC-12.
Secara teknis, tidak ada perayaan sama sekali. Mengapa? Karena kedua pulau ini adalah suaka margasatwa nasional yang tidak berpenghuni. Tidak ada manusia, musik, atau kembang api; yang ada hanyalah deburan ombak dan koloni burung laut.
Jika kita berbicara tentang wilayah berpenghuni terakhir, kehormatan itu jatuh kepada Samoa Amerika, yang merayakan tahun baru 25 jam setelah Kiribati. Di sini, perayaan berlangsung meriah dengan pesta pantai, tarian tradisional Polinesia, dan hidangan babi guling.
Keunikan paling mencolok terjadi antara Samoa Amerika dan Samoa Independen. Meski hanya berjarak penerbangan 20 menit, keduanya terpisahkan oleh Garis Waktu Internasional. Jika Anda terbang dari Samoa (yang merayakan tahun baru lebih awal) ke Samoa Amerika, Anda secara teknis “melompati waktu” kembali ke masa lalu.
Pulau Baker dan Howland berfungsi sebagai “kapsul waktu” ekologi di mana alam beralih tahun tanpa campur tangan manusia sedikit pun.
Pulau Baker dan Pulau Howland mungkin kini hanya berupa daratan sunyi di tengah Samudra Pasifik, namun sejarah kepemilikannya berakar kuat pada ambisi ekonomi Amerika Serikat di abad ke-19. Melalui Guano Islands Act 1856, Amerika Serikat secara resmi mengklaim Pulau Baker pada 28 Oktober 1856 dan Pulau Howland pada 3 Desember 1858.
Undang-undang ini mengizinkan warga AS menguasai pulau-pulau tak berpenghuni demi mengambil deposit guano—kotoran burung laut yang kala itu menjadi komoditas pupuk sangat berharga. Selama beberapa dekade, perusahaan-perusahaan asal AS dan Inggris mengeksploitasi sumber daya ini hingga akhirnya pulau-pulau tersebut ditinggalkan begitu cadangannya habis.
Memasuki abad ke-20, kedua pulau ini kembali memainkan peran penting dalam geopolitik dan sejarah penerbangan dunia. Pada tahun 1935, AS meluncurkan proyek kolonisasi rahasia dengan mendatangkan sekelompok pemuda dari Hawaii untuk menghuni pulau tersebut demi memperkuat klaim wilayah udara di Pasifik.
Di Pulau Baker, mereka mendirikan pemukiman Meyerton, sementara di Howland berdiri Itascatown. Namun, Pulau Howland paling dikenal dunia karena tragedi Amelia Earhart pada tahun 1937. Pilot legendaris tersebut direncanakan mendarat di landasan pacu yang baru dibangun di Howland dalam misi terbang keliling dunianya, namun ia menghilang secara misterius sebelum sampai ke tujuan.
Gejolak Perang Dunia II turut mengubah wajah kedua pulau ini secara drastis. Hanya berselang sehari setelah serangan Pearl Harbor pada tahun 1941, militer Jepang membombardir Howland dan Baker, yang mengakibatkan gugurnya dua kolonis di Howland.
Konflik ini memaksa dilakukannya evakuasi seluruh penduduk sipil pada tahun 1942, dan sejak saat itu, kedua pulau tersebut murni digunakan untuk kepentingan militer hingga perang berakhir. Peristiwa ini menandai berakhirnya era pemukiman manusia secara permanen di titik paling barat khatulistiwa ini.
Kini, sejak tahun 1974, Pulau Baker dan Howland telah bertransformasi menjadi laboratorium alam yang tenang di bawah pengelolaan U.S. Fish and Wildlife Service sebagai Suaka Margasatwa Nasional. Tanpa adanya penduduk tetap, pulau-pulau ini menjadi surga bagi ribuan koloni burung laut dan ekosistem laut tropis yang masih murni.
Meski secara administratif berada di bawah otoritas Washington D.C., Baker dan Howland tetap mengemban peran uniknya sebagai “penjaga gerbang terakhir” waktu. Di sinilah kalender dunia berakhir, tempat di mana tahun baru baru akan menyapa saat seluruh penduduk bumi lainnya sudah mulai melangkah jauh di hari pertama bulan Januari.(*)
BACA JUGA: Ragam Ritual dan Ucapan Selamat Tahun Baru di Berbagai Negara