Jernih.co

Terapi Bekam, dari Warisan Pengobatan Kuno hingga Bukti Ilmiah Modern

Seiring berkembangnya riset medis modern, metode ini mulai dipahami secara ilmiah—mulai dari perbaikan sirkulasi darah, dukungan metabolisme, hingga penguatan sistem imun.

WWW.JERNIH.CO – Terapi bekam (cupping therapy) merupakan salah satu bentuk pengobatan komplementer tertua di dunia yang kini kembali mendapat perhatian serius dalam ranah medis modern.

Praktik ini telah dikenal sejak ribuan tahun lalu dalam pengobatan Tiongkok, Timur Tengah, dan Yunani kuno. Dalam tradisi  Islam, bekam disebut dengan istilah Al-Hijamah, yang berasal dari kata al-hajm (menyedot). Bekam dipandang sebagai salah satu pengobatan terbaik yang dianjurkan langsung oleh Rasulullah SAW.

Menariknya, di tengah kemajuan teknologi medis, bekam justru semakin banyak diteliti secara ilmiah, khususnya terkait pengaruhnya terhadap metabolisme tubuh, sirkulasi darah, dan sistem imun.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Traditional Medicine Strategy mengakui bekam sebagai bagian dari pengobatan tradisional yang memiliki potensi manfaat klinis, selama dilakukan secara aman dan berbasis standar medis. Hal ini menegaskan bahwa bekam tidak lagi dipandang semata sebagai praktik alternatif, melainkan sebagai terapi komplementer yang dapat berjalan berdampingan dengan pengobatan konvensional.

Secara fisiologis, bekam bekerja melalui mekanisme tekanan negatif (vakum) yang menarik kulit dan jaringan di bawahnya. Tekanan ini memicu serangkaian respon biologis yang kompleks. Salah satu mekanisme utama yang banyak dibahas dalam literatur medis adalah proses detoksifikasi darah perifer melalui pengeluaran Chronic Pathological Substances (CPSPs). Zat ini mencakup sel darah merah yang telah rusak, kelebihan zat besi, serta sisa metabolisme dan toksin lingkungan.

Dr. Ahmed Al-Bedah, peneliti terapi bekam dari National Center for Complementary and Integrative Medicine Arab Saudi, menjelaskan bahwa darah yang keluar saat bekam basah berbeda karakteristiknya dari darah vena biasa, karena lebih banyak mengandung zat sisa metabolisme. Dengan berkurangnya beban zat toksik ini, kerja organ detoksifikasi seperti hati dan ginjal menjadi lebih efisien.

Selain itu, tekanan vakum pada bekam menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan peningkatan mikrosirkulasi. Efek ini memperbaiki distribusi oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh yang sebelumnya mengalami stagnasi aliran darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini mendukung metabolisme sel yang lebih optimal dan mempercepat proses regenerasi jaringan.

Bekam juga memicu respon imun melalui luka mikro yang terkontrol, khususnya pada bekam basah. Respon ini mendorong pelepasan leukosit dan sitokin, yang berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh. Menurut Journal of Traditional and Complementary Medicine, mekanisme ini serupa dengan “latihan” ringan bagi sistem imun agar tetap responsif tanpa memicu peradangan berlebihan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa terapi bekam berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah dan kolesterol LDL. Perbaikan aliran darah ke organ endokrin seperti pankreas dan kelenjar adrenal diyakini berkontribusi pada regulasi hormon yang lebih seimbang, termasuk hormon stres kortisol. Dengan kadar kortisol yang lebih stabil, tubuh menjadi lebih efektif dalam mengatur metabolisme energi dan respon stres.

Profesor Edzard Ernst,  seorang dokter dan akademisi Jerman-Inggris yang dikenal luas sebagai pakar paling berpengaruh di dunia dalam bidang evaluasi ilmiah pengobatan alternatif dan komplementer , meskipun dikenal kritis terhadap pengobatan alternatif, mengakui bahwa efek relaksasi dan peningkatan sirkulasi pada bekam dapat memberikan manfaat fisiologis nyata, terutama pada kondisi nyeri dan gangguan metabolik ringan.

Dalam praktik tradisional, waktu pelaksanaan bekam memiliki peran penting. Tanggal 17, 19, dan 21 bulan Hijriah sering disebut sebagai waktu optimal karena diyakini berkaitan dengan dinamika cairan tubuh. Secara medis, pada tanggal-tanggal ini, cairan tubuh dan darah sedang dalam kondisi stabil setelah mengalami gejolak saat bulan purnama, sehingga pengeluaran toksin menjadi lebih maksimal dan aman bagi tekanan darah.

Dari sudut pandang medis modern, waktu pagi hari—ketika tekanan darah dan suhu tubuh relatif stabil—memang dianggap lebih aman dan nyaman untuk prosedur terapi ringan.

Frekuensi bekam harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan individu. Untuk tujuan pemeliharaan kesehatan, satu kali bekam setiap satu hingga dua bulan sudah memadai. Sementara pada kondisi kronis seperti kolesterol tinggi atau asam urat, terapi rutin bulanan dengan pengawasan praktisi profesional lebih dianjurkan.

Penting dicatat bahwa bekam tidak disarankan dilakukan terlalu sering karena tubuh memerlukan waktu untuk regenerasi sel darah dan pemulihan jaringan.

Selain efek metabolik, bekam terbukti efektif dalam meredakan nyeri otot dan sendi, termasuk nyeri punggung, leher kaku, dan migrain. Efek relaksasi pada jaringan myofascial membantu mengurangi ketegangan otot yang sering menjadi sumber nyeri kronis. Di sisi lain, perbaikan drainase limfatik juga berdampak positif pada kesehatan kulit dan pengurangan peradangan.

Dari aspek kesehatan mental, bekam memberikan efek relaksasi yang signifikan. Banyak pasien melaporkan kualitas tidur yang lebih baik dan penurunan tingkat kecemasan setelah terapi. Hal ini sejalan dengan pandangan National Institutes of Health (NIH) bahwa terapi komplementer yang menurunkan stres memiliki kontribusi tidak langsung terhadap kesehatan metabolik dan kardiovaskular.(*)

BACA JUGA: Penyakit Lyme: Antara Infeksi, Perdebatan, dan Tantangan Kesehatan Global

Exit mobile version