Taman Nasional Tesso Nilo berdiri di persimpangan jalan antara kepunahan dan pemulihan. Tanpa penegakan hukum yang tegas terhadap perambah dan solusi berkeadilan bagi warga (termasuk rencana relokasi), habitat Gajah Sumatera dan kekayaan hayati yang tersisa di hutan dataran rendah ini terancam hilang selamanya.
JERNIH – Gajah menangis bertambah ladi di Taman Nasional Tesso Nilo. Sudah jumlahnya kian menurun, habitatnya pun terus diserobot mahluk bernama manusia.
Meskipun beberapa sumber menyebutkan populasi Gajah Sumatera liar di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir, angka perkiraan terkini tetap menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan data awal. Berdasarkan pernyataan dari Balai TNTN dan pihak terkait, populasi gajah liar saat ini diperkirakan berkisar antara 140 hingga 150 ekor, menurun dari perkiraan sekitar 200 ekor pada tahun 2004.
Populasi ini terbagi ke dalam dua kantong utama atau metapopulasi: Kantung Tesso Utara diperkirakan dihuni oleh sekitar 30 hingga 33 ekor gajah, sementara Kantung Tesso Tenggara menampung populasi yang lebih besar, diperkirakan mencapai sekitar 117 ekor (berdasarkan data lama).

Penurunan jumlah ini sangat mengkhawatirkan karena kerusakan habitat yang masif di TNTN telah menyebabkan gajah kehilangan ruang hidup dan secara langsung memicu konflik fatal dengan manusia. Selain populasi liar, peran vital juga dimainkan oleh 17 ekor gajah jinak yang tergabung dalam Elephant Flying Squad (EFS), yang bertugas melakukan patroli dan menghalau gajah liar agar menjauhi area konflik dengan masyarakat.
Krisis Akut
Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Provinsi Riau saat ini menghadapi krisis akut akibat perusakan lingkungan yang masif, menjadikannya salah satu benteng konservasi yang paling vital namun paling terancam di Pulau Sumatera. Kawasan ini dikenal sebagai habitat kunci terakhir bagi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar, namun kini ekosistemnya terus tergerus.
Persoalan paling mendesak yang melanda TNTN adalah penyusutan habitat Gajah Sumatera yang drastis, memicu konflik berkepanjangan antara manusia dan satwa liar, di mana penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan ilegal menjadi perkebunan kelapa sawit dan pembalakan liar. Kondisi ini sudah terjadi secara kronis dan berulang kali, menyebabkan puluhan gajah mati tidak wajar.
Nama Tesso Nilo secara harfiah diambil dari gabungan nama dua sungai utama yang mengalir dan membelah kawasan taman nasional di Provinsi Riau, yaitu Sungai Tesso yang berada di bagian barat, dan Sungai Nilo yang berada di bagian timur. Nama ini dipilih karena kawasan hutan ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) vital yang menyuplai kedua sungai tersebut, serta Sungai Segati di bagian utara, menjadikannya penamaan yang sangat relevan dengan fungsi ekologisnya.
Hingga kini, sungai-sungai tersebut masih memegang peranan penting sebagai sarana transportasi dan sumber kehidupan bagi masyarakat lokal, terutama Suku Melayu, yang hidupnya bergantung pada hasil hutan dan sungai di kawasan tersebut.
Tesso Nilo memiliki nilai penting yang luar biasa sebagai perwakilan ekosistem Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah (lowland tropical rain forest), sebuah wilayah transisi dataran tinggi dan rendah yang unik. Secara geografis, Taman Nasional ini terletak di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu, Riau. Kawasan ini secara resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional pada 19 Juli 2004 dengan luas awal 38.576 hektar dan kemudian diperluas pada tahun 2009, mencapai luas total sekitar 83.069 hektar.
TNTN diakui secara global sebagai salah satu hutan dataran rendah dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Kekayaan hayati yang tersembunyi di dalamnya mencakup sekitar 360 jenis flora dari 57 suku, 114 jenis burung (mewakili 29% dari total jenis burung di Sumatera), dan 23 jenis mamalia kunci, termasuk Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera. Selain itu, kawasan ini juga menyimpan 50 jenis ikan, 18 jenis amfibi, dan 15 jenis reptil. Berdasarkan kekayaan ini, peran TNTN sangat vital sebagai kantong habitat kunci bagi populasi Gajah Sumatera liar.
Alih Fungsi Lahan
Isu paling mendesak di TNTN adalah fragmentasi dan penyusutan habitat, yang pemicu utamanya atau biang kerok kerusakan lingkungan adalah perambahan hutan secara ilegal dan alih fungsi lahan. Diperkirakan lebih dari 40.000 hektar, atau hampir setengah dari total luas taman nasional, telah diubah secara ilegal menjadi perkebunan kelapa sawit dan permukiman liar, diperparah oleh aktivitas pembalakan liar.
Apakah kerusakan ini sering terjadi? Ya, masalah ini bersifat kronis dan telah berlangsung selama lebih dari satu dekade, memicu penderitaan gajah yang berulang. Dampak fatal dari penyusutan ini adalah konflik manusia-gajah yang tidak terhindarkan karena gajah kehilangan jalur jelajah dan sumber pakan alaminya.
Data menunjukkan bahwa setidaknya 23 ekor Gajah Sumatera telah mati dalam kurun waktu 2015 hingga 2025 (Juni) akibat berbagai faktor, mulai dari keracunan yang disengaja, jerat pemburu, hingga penyakit, dengan kasus kematian tertinggi tercatat pada tahun 2015.
Kondisi TNTN saat ini berada dalam fase sangat kritis, di mana hutan alami yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 15% dari luas total taman nasional, sementara puluhan ribu warga telah bermukim secara ilegal di kawasan konservasi.
Namun, di tengah krisis ini, terdapat peristiwa memukau yang menunjukkan upaya heroik penyelamatan. Salah satunya adalah Aksi Penertiban dan Restorasi oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang gencar melakukan operasi penertiban dan penyitaan lahan ilegal, seperti operasi tahun 2023 yang berhasil menertibkan ratusan hektar kebun sawit ilegal.
Krisis ini juga memicu dukungan publik dan media sosial yang masif dengan tagar seperti #SaveTessoNilo, menyusul perusakan fasilitas posko taman nasional, yang menuntut penegakan hukum yang tegas dari berbagai kalangan. Namun, garis depan penyelamatan paling heroik adalah keberadaan Elephant Flying Squad. Tim ini menggunakan gajah jinak (gajah latih), seperti gajah bernama Domang, untuk berpatroli, menghalau gajah liar agar kembali ke kantong habitatnya, dan memitigasi konflik dengan masyarakat.(*)
BACA JUGA: Peristiwa Langka: Gajah di Thailand Melahirkan Bayi Kembar, Sang Induk Berusaha Bunuh Salah Satu