Delapan tahun setelah Radiohead menuai kritik karena tampil di Tel Aviv, sang vokalis kini mengambil sikap tegas terhadap pemerintahan Israel.
JERNIH – Sudah hampir satu dekade sejak Radiohead memicu badai dengan keputusan mereka tampil di Tel Aviv. Tapi kali ini, Thom Yorke tak ingin ada ruang abu-abu lagi.
“Sama sekali tidak. Saya tidak ingin berada 8.000 kilometer di dekat rezim Netanyahu,” katanya menyinggung pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Komentar itu datang menjelang tur pertama Radiohead dalam tujuh tahun dimana 20 pertunjukan di lima kota Eropa yang dijadwalkan dimulai bulan depan. Tapi bahkan sebelum tur itu resmi diumumkan, Kampanye Palestina untuk Boikot Akademik dan Budaya Israel (PACBI) sudah menyerukan boikot, lantaran gitaris Jonny Greenwood sempat tampil di Tel Aviv tahun lalu.
Bagi penggemar lama, ini terasa seperti perubahan besar dari Yorke yang dulu dikenal keras menolak politisasi musik. Saat Radiohead manggung di Israel pada tur A Moon Shaped Pool (2016–2018), Yorke dengan blak-blakan menepis kritik dari sutradara Inggris Ken Loach.
“Bermain di suatu negara tidak sama dengan mendukung pemerintah,” tulisnya di X (dulu Twitter).
“Kami sudah main di Israel selama 20 tahun, di bawah pemerintahan yang berbeda-beda. Kami tidak mendukung Netanyahu — sama seperti kami tidak mendukung Trump — tapi kami tetap main di Amerika.”
Kala itu, Yorke bahkan menyebut gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) sebagai sesuatu yang “menyinggung” dan “merendahkan”. Tapi dalam wawancara barunya, nada suaranya berubah. Ia mengaku “ngeri” ketika seorang Israel yang “jelas punya koneksi di tingkat atas” datang ke hotel mereka untuk berterima kasih setelah konser di Tel Aviv.
Sejak itu, bayangan konser 2017 tampaknya masih membekas.

Insiden serupa menghantui Yorke tahun lalu saat konser solonya di Australia. Seorang penonton berteriak menuduhnya diam terhadap genosida di Gaza. Yorke langsung meninggalkan panggung.
Beberapa hari kemudian, ia menulis pernyataan emosional: “Saya terkejut karena kebisuan saya dianggap sebagai bentuk keterlibatan.”
Ia juga menyebut pemerintahan Netanyahu sebagai “ekstremis” yang “perlu dihentikan”.
Sementara itu, gitaris Jonny Greenwood — yang menikah dengan seniman asal Israel — terus berada di tengah pusaran perdebatan. Kolaborasinya dengan musisi rock Israel Dudu Tassa sering jadi sasaran kritik dari pendukung boikot. Tapi Greenwood tampaknya tetap nyaman dengan posisinya.
“Saya banyak menghabiskan waktu di Israel bersama keluarga, dan saya tidak malu bekerja dengan musisi Arab maupun Yahudi,” ujarnya. Menariknya, pada 2024 ia bahkan ikut dalam protes di Israel menentang Netanyahu.
Bagi banyak penggemar, komentar terbaru Yorke ini bukan sekadar pernyataan politik. Namun bentuk refleksi pribadi yang sudah lama ditunggu. Setelah bertahun-tahun menolak tekanan publik, sang frontman kini justru berdiri di sisi yang lebih jelas.
Mungkin Yorke akhirnya lelah mencoba memisahkan musik dari dunia yang ia nyanyikan. Mungkin juga nuraninya mengetuk-ngetuk realita, bahwa di Israel tengah dipimpin oleh seorang ekstrimis. Dan kali ini, sikapnya keras dan tanpa kompromi: “Tak ada konser, tak ada panggung, tak ada Radiohead — selama masih ada Netanyahu.” (*)
BACA JUGA: Genosida Gaza Picu Perpecahan dan Tekanan di Industri Musik Global