Jernih.co

Tiga Kendaraan Angkut Produk India Bakal “Temani” Koperasi Merah Putih

Implementasi pengadaan 105.000 kendaraan ini diharapkan dapat mengubah wajah ekonomi pedesaan secara permanen. Jika dikelola dengan transparan dan profesional, Koperasi Merah Putih bisa menjadi kekuatan ekonomi baru yang memandirikan masyarakat desa.

WWW.JERNIH.CO – Pemerintah, melalui PT Agrinas Pangan Nusantara, telah meresmikan pengadaan kendaraan niaga dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebanyak 105.000 unit kendaraan operasional telah dipesan untuk mendukung mobilitas Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Langkah ambisius ini didukung oleh pendanaan fantastis mencapai Rp24,66 triliun, sebuah investasi yang diarahkan untuk memotong rantai distribusi pangan yang selama ini dianggap terlalu panjang dan mahal di tingkat pedesaan.

Tujuan utama dari mobilisasi armada ini adalah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dengan cara memberdayakan petani, peternak, dan nelayan secara langsung. Dengan adanya kendaraan operasional di tiap koperasi, diharapkan biaya logistik dapat ditekan secara signifikan. Program ini adalah  upaya sistematis untuk memastikan hasil bumi dari pelosok daerah dapat mencapai gudang penyimpanan (first-mile aggregation) dengan cepat dan dalam kondisi segar, sehingga nilai jual di tingkat produsen tetap terjaga.

Dalam kontrak pengadaan ini, dua raksasa otomotif asal India, Mahindra dan Tata Motors, menjadi penyedia utama. Pemilihan merek-merek ini didasarkan pada rekam jejak ketangguhan mesin diesel mereka yang mampu beroperasi di medan ekstrem dengan biaya perawatan yang relatif rendah. Berikut adalah profil singkat dari ketiga tipe kendaraan yang akan menghiasi jalanan pedesaan Indonesia:

Mahindra Scorpio Pikap (35.000 Unit)

Mahindra Scorpio Pikap diposisikan sebagai “kuda beban” utama untuk medan berat. Kendaraan ini dibekali dengan mesin diesel mHawk 2.2 liter yang mampu menghasilkan tenaga 140 hp dan torsi melimpah sebesar 320 Nm. Fitur utamanya adalah sistem penggerak 4×4 (4WD) yang sangat krusial untuk daerah perkebunan atau wilayah dengan infrastruktur jalan yang belum memadai.

Scorpio memiliki kapasitas angkut hingga 1,2 ton dan dikenal memiliki sasis ladder frame yang sangat tebal, menjadikannya pilihan ideal untuk mengangkut hasil panen dari area yang sulit dijangkau oleh truk biasa.

Mobil ini diposisikan sebagai varian premium di kelasnya karena memiliki kemampuan off-road yang mumpuni. Harga retail berada di kisaran Rp278.000.000 hingga Rp318.000.000. Harga terendah biasanya untuk tipe Single Cab, sedangkan harga tertinggi untuk tipe Double Cab dengan fitur penggerak 4×4.

Tata Yodha (35.000 Unit)

Tata Yodha merupakan pikap ringan yang dirancang untuk efisiensi maksimal dan kemudahan operasional harian. Dibekali mesin diesel 2.2 liter bertenaga 100 hp, Yodha menawarkan keseimbangan antara konsumsi bahan bakar yang irit dan daya angkut yang mumpuni.

Keunggulan utama Yodha terletak pada desain bak yang luas dan ground clearance yang tinggi di kelasnya. Mobil ini akan difungsikan sebagai kendaraan distribusi antara desa ke pusat pengumpulan kecamatan, memudahkan petani kecil dalam memindahkan komoditas mereka tanpa harus menyewa kendaraan mahal.

Tata Yodha adalah pemain baru di segmen pikap ringan Indonesia yang didatangkan khusus untuk proyek ini. Karena belum dijual secara umum di dealer retail biasa, harganya mengacu pada estimasi nilai impor dan pasar asalnya. Estimasi harga sekitar Rp240.000.000 hingga Rp250.000.000.

Harga ini sangat kompetitif untuk menyaingi dominasi pikap Jepang seperti Mitsubishi L300 atau Suzuki Carry di pedesaan.

Tata Ultra T.7 (35.000 Unit)

Berbeda dengan dua tipe sebelumnya, Tata Ultra T.7 masuk dalam kategori light truck atau truk ringan. Kendaraan ini dirancang untuk pengangkutan jarak menengah dengan volume yang lebih besar. Mengusung konsep kabin modern yang ergonomis dan aman, Ultra T.7 dilengkapi dengan pengereman udara (air brakes) untuk aspek keselamatan ekstra.

Truk ini akan menjadi tulang punggung koperasi dalam mendistribusikan barang dari gudang-gudang desa menuju pusat distribusi kota atau pelabuhan. Dengan kapasitas angkut yang lebih besar, Ultra T.7 memastikan efisiensi biaya per kilogram muatan tetap optimal.

Sebagai truk ringan, Ultra T.7 memiliki kategori harga yang berbeda karena dimensi dan kapasitas angkutnya yang jauh lebih besar dibanding pikap.

Berada di kisaran Rp380.000.000 hingga Rp420.000.000 (tergantung pada jenis karoseri/bak yang dipasang). Di harga ini, Tata Ultra T.7 bersaing langsung dengan pemain mapan seperti Mitsubishi Canter atau Hino Dutro.

Target Operasional dan Mekanisme Koperasi

Pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 80.000 unit koperasi di seluruh penjuru Indonesia. Hingga pertengahan tahun 2026, ditargetkan sebanyak 30.000 unit koperasi sudah mulai beroperasi penuh dengan dukungan fasilitas dari negara.

Setiap Koperasi Merah Putih dilaporkan mendapatkan plafon dana sekitar Rp3 miliar. Anggaran ini bersifat komprehensif, mencakup biaya pembangunan gedung kantor, fasilitas gudang penyimpanan yang layak, serta pengadaan kendaraan operasional sesuai dengan kebutuhan spesifik daerah masing-masing.

Kendaraan-kendaraan ini tidak akan menjadi milik pribadi, melainkan aset koperasi yang dikelola secara profesional untuk melayani anggota. Petani tidak lagi harus bergantung pada tengkulak yang seringkali membebankan biaya transportasi tinggi. Dengan adanya armada ini, koperasi dapat menjemput bola, mengambil hasil panen langsung di lahan, dan membawanya ke gudang penyimpanan yang memiliki fasilitas kontrol suhu jika diperlukan.

Kendati program ini memiliki tujuan mulia bagi kesejahteraan petani, besarnya nilai kontrak dan pemilihan unit impor sempat memicu perdebatan hangat di gedung DPR, khususnya pada Komisi VII. Kritikan utama muncul terkait dampak pengadaan ini terhadap industri manufaktur otomotif nasional.

Para legislator mempertanyakan mengapa pemerintah tidak memprioritaskan merek yang sudah memiliki basis perakitan lokal yang kuat atau mendorong penggunaan kendaraan produksi dalam negeri untuk nilai kontrak sebesar Rp24,6 triliun tersebut.

Namun, PT Agrinas Pangan Nusantara memberikan klarifikasi bahwa pemilihan unit Mahindra dan Tata didasarkan pada ketersediaan unit dalam volume besar dalam waktu singkat (kecepatan delivery) serta spesifikasi teknis yang paling sesuai dengan kebutuhan ekstrem di pelosok.

Selain itu, aspek kemudahan perbaikan mandiri oleh mekanik lokal di desa-desa menjadi pertimbangan pragmatis agar operasional tidak terhenti hanya karena masalah teknis sederhana.(*)

BACA JUGA: Menakar Ide Koperasi Merah Putih Presiden Prabowo

Exit mobile version