Klaim Trump bahwa dirinya telah menghentikan “8 perang” juga menjadi bahan perdebatan sengit para analis. Beberapa konflik yang ia klaim telah usai faktanya masih membara, seperti perang di Gaza dan konflik di Republik Demokratik Kongo (DRC).
JERNIH – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kontroversi diplomatik setelah mengirimkan pesan penuh nada kebencian kepada Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Store. Trump menyatakan bahwa dirinya tidak lagi merasa berkewajiban untuk “berpikir murni tentang perdamaian” setelah merasa diremehkan oleh Komite Nobel Norwegia.
Pesan yang dikonfirmasi kebenarannya oleh kantor PM Norwegia pada Senin (19/1/2026) itu berbunyi: “Mengingat negara Anda memutuskan untuk tidak memberi saya Nobel Perdamaian atas keberhasilan saya menghentikan 8 Perang PLUS, saya tidak lagi merasa berkewajiban untuk berpikir murni tentang Perdamaian.”
Pesan Trump tersebut dinilai salah alamat oleh banyak pihak. Pasalnya, Hadiah Nobel Perdamaian diberikan oleh Komite Nobel Norwegia yang bersifat independen, bukan oleh pemerintah atau perdana menteri di Oslo.
PM Jonas Gahr Store dalam tanggapan tertulisnya kepada surat kabar VG menegaskan kembali fakta tersebut. “Saya telah menjelaskan dengan sangat jelas, termasuk kepada Presiden Trump, hal yang sudah diketahui umum: hadiah tersebut dianugerahkan oleh Komite Nobel yang independen,” ujarnya diplomatis.
Klaim Trump bahwa dirinya telah menghentikan “8 perang” juga menjadi bahan perdebatan sengit para analis. Beberapa konflik yang ia klaim telah usai faktanya masih membara, seperti perang di Gaza dan konflik di Republik Demokratik Kongo (DRC).
Misteri Medali Nobel dari Oposisi Venezuela
Obsesi Trump terhadap medali emas Nobel semakin terlihat saat ia menerima pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, di Gedung Putih pekan lalu. Machado, yang merupakan pemenang Nobel Perdamaian 2025, secara simbolis memberikan medalinya kepada Trump.
Pertemuan ini berlangsung tertutup tanpa kamera media, sebuah langkah yang sangat jarang dilakukan Trump. Namun, Gedung Putih kemudian merilis foto yang memperlihatkan Trump menerima medali tersebut dari Machado sebagai bentuk “pengakuan atas komitmen terhadap kebebasan Venezuela.”
Langkah ini segera mendapat teguran dari Institut Nobel Norwegia. Mereka menegaskan bahwa gelar dan medali Nobel bersifat eksklusif dan tidak dapat dipindahtangankan atau dibagikan kepada orang lain, meskipun fisiknya berpindah tangan.
Di tengah kegagalannya meraih Nobel, Trump mendapatkan “hadiah hiburan” berupa FIFA Peace Prize perdana yang diberikan langsung oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam upacara mewah Desember lalu.
Langkah FIFA ini memicu kecaman global. Organisasi hak asasi manusia FairSquare bahkan telah mengajukan pengaduan resmi ke komite etik FIFA. Mereka menuduh badan sepak bola dunia tersebut telah melanggar prinsip netralitas politik dengan memberikan penghargaan perdamaian kepada seorang pemimpin politik aktif yang sedang terlibat dalam berbagai kebijakan kontroversial.
Rentetan peristiwa ini menunjukkan betapa besarnya keinginan Trump untuk diakui sebagai “sang juru damai” di panggung internasional, meskipun langkah-langkah yang ia ambil sering kali justru memicu ketegangan baru.
