JERNIH — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menginstruksikan Kementerian Pertahanan (Pentagon) untuk memangkas secara signifikan latihan militer bersama dengan Korea Selatan. Keputusan sepihak ini memicu ketegangan baru dalam aliansi pertahanan Washington-Seoul, sekaligus menegaskan kehangatan hubungan pribadinya dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump terang-terangan mengaku tidak senang dengan digelarnya latihan militer rutin yang dinilainya memakan biaya besar serta mengirimkan sinyal provokatif ke Pyongyang.
“Berdasarkan hubungan saya yang sangat baik dengan Kim Jong Un dari Korea Selatan [maksudnya Korea Utara], saya tidak senang dengan kenyataan bahwa Amerika Serikat telah lama menyetujui untuk berpartisipasi dalam Latihan Militer Bersama dengan Korea Selatan,” tulis Trump.
Ia menambahkan bahwa karena waktu yang mendesak tidak memungkinkan pembatalan total, ia telah memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk “menurunkan skalanya secara substansial.”
Selain menyinggung hubungan pribadinya dengan Kim Jong Un, Trump juga menyentil sikap politik Seoul yang menolak terlibat dalam manuver konfrontatif AS terhadap Iran.v”Saya baru-baru ini bertanya kepada Presiden Korea Selatan apakah mereka ingin bergabung dengan kami dalam Denuklirisasi Republik Islam Iran, dan mereka menjawab, ‘Tidak, terima kasih!'” ungkap Trump.
Langkah Trump menekan sekutunya sendiri ini mengulang pola kepemimpinannya pada periode pertama. Pasca-kTT Singapura 2018 bersama Kim Jong Un, Trump kerap mengkritik simulasi tempur dengan Seoul sebagai agenda yang “mahal” dan “provokatif.”
Menanggapi penyataan keras Trump, Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengambil sikap bertahan dengan mengonfirmasi bahwa Latihan Ulchi Freedom Shield akan tetap berjalan sesuai pemberitahuan dan jadwal yang telah ditetapkan.
Latihan tahunan ini dirancang khusus untuk memperkuat daya tangkal gabungan terhadap ancaman senjata nuklir Korea Utara—terlebih setelah pasukan Pyongyang makin berpengalaman lewat keterlibatan militer mereka dalam konflik Rusia-Ukraina.
Di sisi lain, Pyongyang menyambut retorika Trump dengan tetap mengutuk skema pertahanan gabungan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan bahwa kerja sama militer AS, Jepang, dan Korea Selatan telah bergeser menjadi ‘aliansi nuklir’. “Pyongyang akan merespons tingkat ancaman baru ini dengan tingkat pencegahan (deterrent) yang baru pula,” tegas perwakilan Kemlu Korea Utara.
