Dulu dikenal sebagai penentang keras perang, kini JD Vance justru menjadi ‘pesuruh’ Donald Trump untuk membereskan kekacauan di Iran. Mungkinkah ia jadi tumbal yang siap dikambinghitamkan rakyat AS?
WWW.JERNIH.CO – Presiden Donald Trump kini memercayakan misi besar kepada Wakil Presiden JD Vance: menjadi perantara kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran. Langkah ini menarik perhatian, mengingat Vance dulunya adalah sosok yang skeptis terhadap keterlibatan Amerika dalam perang tersebut. Menurut tiga sumber internal, Trump memantau ketat perkembangan ini dan rutin bertanya kepada rekan serta penasihatnya mengenai penilaian mereka terhadap kinerja Vance.
Bahkan, Trump secara terbuka membandingkan performa Vance dengan Sekretaris Negara Marco Rubio—yang dianggap sebagai rival potensial Vance untuk nominasi presiden dari Partai Republik tahun 2028.
Sejauh ini, dalam masa jabatan kedua Trump, sang Wakil Presiden belum pernah berada di bawah sorotan setajam minggu ini. Namanya mencuat di tengah hiruk-pikuk kunjungan luar negeri dan perselisihan antara Trump dengan pemimpin Gereja Katolik sedunia—agama yang dianut oleh Vance sendiri.
Untuk saat ini, Trump tampak menaruh kepercayaan penuh pada kemampuan negosiasi Vance. Sang Wapres kini dalam posisi standby untuk kembali ke Pakistan guna melanjutkan pembicaraan dengan Iran jika tanda-tanda kesepakatan mulai terlihat.
Namun, Trump yang kabarnya menelepon Vance hingga belasan kali selama putaran pertama perundingan di Islamabad akhir pekan lalu, menegaskan bahwa ia tidak akan memberi ruang untuk kegagalan.
“Kalau kesepakatan ini gagal, saya akan menyalahkan JD Vance,” canda Trump dalam jamuan makan siang Paskah bulan ini. “Tapi kalau berhasil, saya yang akan ambil semua kreditnya.”
Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menyatakan dukungan penuhnya. Ia menyebut kemampuan Vance menghadapi tantangan besar secara langsung menjadikannya aset tak ternilai dalam pemerintahan.
Navigasi politik ini menjadi tantangan berat bagi Vance. Sebagai loyalis setia, ia harus membela kebijakan perang yang secara pribadi pernah ia tentang. Ia juga harus mendukung kritik Trump terhadap Paus Leo XIV, meski hal itu memicu protes dari sesama umat Katolik.
Di hadapan publik, Vance mencoba mencari jalan tengah. Saat menghadapi protes dari aktivis muda di Georgia terkait kebijakan Timur Tengah, ia mengalihkan kesalahan ke pemerintahan Biden, namun di saat yang sama mengakui bahwa perang tersebut memang tidak populer.
“Saya paham bahwa pemilih muda tidak menyukai kebijakan kita di Timur Tengah. Saya mengerti,” akunya di depan arena yang setengah kosong.
Ketegangan memuncak saat Vance ditanya mengenai perselisihan Trump dengan Paus. Trump meradang atas kritik Paus terkait perang Iran dan kebijakan imigrasi, namun Vance merespons dengan lebih halus.
“Saya sangat menghormati Paus. Saya mengaguminya,” ujar Vance yang akan segera merilis buku tentang perjalanan spiritualnya sebagai Katolik. Namun, ia juga memberi peringatan: “Sangat penting bagi Paus untuk berhati-hati saat berbicara tentang masalah teologi.”
Komentar ini memicu kebingungan, bahkan di internal Partai Republik sendiri. Pemimpin Mayoritas Senat, John Thune, menyarankan agar administrasi Trump berhenti berselisih dengan pemimpin agama dan kembali fokus pada isu ekonomi yang lebih dipedulikan rakyat.
Awalnya, fokus utama Gedung Putih tahun ini adalah ekonomi dan biaya hidup. Namun, perang Iran yang memicu lonjakan harga BBM telah mengacaukan rencana tersebut. Vance, yang sebelumnya jarang memegang mandat kebijakan luar negeri tingkat tinggi, kini harus terbang ke berbagai negara dengan hasil yang masih pas-pasan.
Setelah kunjungan ke Hungaria yang gagal menyelamatkan posisi PM Viktor Orban, kini beban berat ada pada pundak Vance untuk segera mengakhiri perang Iran. Dengan tingkat kepercayaan publik terhadap Trump dan Vance yang menyentuh angka terendah, mereka sadar bahwa mengakhiri perang adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nasib Partai Republik di pemilu paruh waktu mendatang.(*)
BACA JUGA: Di Balik Gencatan Senjata AS-Iran, Kemenangan Diplomatik Teheran atau Strategi Baru Trump?
