Dalam ingatan kolektif masyarakat Betawi, sosok-sosok ini bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Mereka adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, pelindung kaum lemah, hingga ikon cerita urban yang mistis.
WWW.JERNIH.CO – Jakarta tidak hanya dibangun oleh beton dan gedung pencakar langit, tetapi juga oleh untaian kisah para jawara dan tokoh masa lalu yang melegenda.
Dalam ingatan kolektif masyarakat Betawi, sosok-sosok ini hidup sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, pelindung kaum lemah, hingga ikon cerita urban yang mistis.
Semuanya menjadi bagian dari hikayat dan budaya Jakarta yang sayang kian lekang oleh zaman. Padahal berkat kehadiran cerita-cerita legenda ini, kita jadi paham bagaimana rakyat Betawi hidup dalam kungkungan penguasa kala itu.
Setidaknya ada 10 nama legenda Betawi yang perlu Anda kenal. Siapa saja?
Si Pitung
Ini adalah top of mind. Ia Legenda Jakarta, Pemuda asal Marunda ini dikenal sebagai “Robin Hood dari Betawi” karena keberaniannya merampok kompeni Belanda dan para tuan tanah korup, lalu membagikan hasilnya kepada rakyat miskin. Si Pitung sendiri sejatinya bukanlah sekadar nama tunggal, melainkan simbol perlawanan kolektif rakyat Betawi yang bertumpu pada filosofi “sholat, silat, dan rukun”. Lahir di Penggilingan dan besar di Marunda, pemuda bernama asli Ahmad Hijari ini dibekali ilmu agama yang kuat dari mualim serta ilmu maen pukulan (silat) yang menjadikannya momok menakutkan bagi kompeni. Kesaktiannya yang melegenda—seperti kemampuan menghilang dan kekebalan terhadap peluru emas—mencerminkan kekaguman sekaligus harapan rakyat jelata kala itu akan hadirnya sosok pembebas dari cengkeraman penindasan kolonial Belanda yang kejam.
Murtado (Macan Kemayoran)
Jika Si Pitung bergerak secara gerilya, Murtado adalah jagoan yang menjadi pelindung langsung warga Kemayoran. Ia dikenal memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, namun berhati mulia dan rendah hati. Murtado mendapat julukan “Macan Kemayoran” setelah berhasil menumbangkan para preman bayaran dan centeng tuan tanah yang kerap menindas serta memeras rakyat kecil di daerahnya. Ia menjadi simbol ketegasan melawan premanisme lokal di era kolonial.
Si Jampang
Hampir mirip dengan Si Pitung, Si Jampang adalah jawara legendaris yang menguasai ilmu silat khas Betawi. Kisah hidupnya diwarnai aksi heroik merebut harta orang-orang kaya yang menjadi antek Belanda untuk kemudian disalurkan kepada warga yang kelaparan. Meski akhir hayatnya tragis akibat dikhianati, nama Si Jampang tetap abadi sebagai sosok pembela kaum tertindas dan simbol solidaritas sosial di tanah Betawi.
Sabeni (Jagoan Tanah Abang)
Berbeda dengan tokoh yang kental dengan bumbu mitos, Sabeni adalah sosok nyata yang menjelma menjadi legenda urban berkat keahlian bela dirinya. Hidup di akhir masa penjajahan Belanda hingga pendudukan Jepang, Sabeni tersohor karena berhasil mengalahkan jagoan-jagoan bela diri asing, termasuk ahli kuntao dari Tiongkok dan karateka dari militer Jepang. Keberaniannya menjaga wilayah Tanah Abang membuatnya dihormati sebagai pahlawan lokal.
Mirah (Singa Betawi dari Marunda)
Jika mayoritas jagoan Betawi adalah laki-laki, Mirah mendobrak tradisi tersebut. Ia adalah legenda pendekar wanita yang dikenal memiliki kecantikan luar biasa namun juga ilmu silat yang sangat tinggi. Ayahnya, Bodong, mengumumkan sayembara bahwa siapapun yang ingin menikahi Mirah harus bisa mengalahkannya dalam duel silat. Kisah Mirah adalah simbol bahwa perempuan Betawi sejak zaman dulu memiliki ketangguhan dan kehormatan yang tidak bisa diremehkan.
Ji’ih
Dalam catatan sejarah dan sastra lisan, Ji’ih sebenarnya adalah sahabat seperjuangan sekaligus tangan kanan dari Si Pitung. Jika Pitung adalah otak dan simbol perlawanan, Ji’ih adalah eksekutor lapangan yang terkenal setia dan tak kenal takut. Bersama Pitung, ia keluar masuk kampung untuk membagikan hasil rampasan dari orang-orang kaya yang pelit. Akhir hidup Ji’ih pun sama tragisnya; ia tertangkap dan dihukum gantung oleh pemerintah kolonial Belanda demi melindungi persembunyian Pitung.
Kyai Mujahid (Syeikh Jamil)
Legenda Betawi tidak hanya diwarnai oleh para jawara silat, tetapi juga oleh para ulama karismatik yang membela rakyat melalui jalur spiritual dan pergerakan. Kyai Mujahid adalah tokoh yang melegenda di kawasan Jakarta Timur dan Bekasi. Ia dikenal sebagai sosok yang kebal peluru dan mampu membakar semangat para pemuda Betawi untuk angkat senjata melawan penjajah. Kisahnya sering kali dibumbui cerita karomah (keajaiban) yang membuatnya lolos berkali-kali dari kepungan tentara kompeni.
Bang Puasa
Nama “Bang Puasa” mungkin terdengar unik, namun ia adalah sosok nyata yang kisahnya melegenda di kawasan Bhayangkara dan Pasar Senen pada abad ke-19. Berbeda dengan Pitung yang murni melawan Belanda, Bang Puasa adalah tipe jagoan lokal yang bertindak sebagai “hakim jalanan”. Ia ditakuti oleh para kompeni karena kerap mengacaukan jalur logistik Belanda, namun di sisi lain ia adalah pelindung pasar yang memastikan tidak ada pedagang kecil yang dipalak oleh centeng-centeng liar.
Pendekar Asni
Asni adalah tokoh utama dalam salah satu cabang cerita rakyat Betawi yang sering dipentaskan dalam seni Lenong. Ia digambarkan sebagai pemuda terpelajar, pandai mengaji, sekaligus menguasai aliran silat Maen Pukulan. Asni melegenda karena keberaniannya membongkar kedok para mandor tanah yang korup di wilayah pinggiran Jakarta. Tokoh Asni melambangkan sosok ideal pemuda Betawi abad pertengahan: religius, santun, namun mematikan saat berhadapan dengan kebatilan.
Si Manis Jembatan Ancol (Siti Ariah)
Digeser dari kisah para jawara, Jakarta juga punya legenda urban mistis yang sangat melegenda. Sosok ini bersumber dari kisah tragis seorang gadis abad ke-19 bernama Siti Ariah (dalam kultur pop sering disebut Mariyam). Ia tewas setelah mempertahankan kehormatannya dari kejaran saudagar kaya dan para berandalan, lalu jasadnya dibuang di area sekitar Ancol. Kisahnya melegenda sebagai sosok gaib penunggu jembatan, sekaligus pengingat sejarah akan kerentanan nasib kaum perempuan di masa Batavia tempo dulu.
Nyai Dasima
Ini adalah legenda tragis yang menggambarkan realitas sosial Batavia abad ke-19. Nyai Dasima adalah seorang wanita simpanan berwajah cantik asal Kuripan yang hidup mewah bersama seorang pria Inggris bernama Edward William. Kehidupan Dasima berubah drastis ketika ia terpikat oleh tipu daya Baba Samiun, seorang sopir delman yang ingin menguasai hartanya. Kisah Dasima berakhir memilukan di pinggir sungai Ciliwung, dan ceritanya terus diceritakan turun-temurun sebagai peringatan moral tentang kesetiaan dan keserakahan.(*)
