- Video tersebut diunggah sebagai bagian dari rangkaian pesan berantai Trump. Konten rasis itu muncul pada detik ke-59 dalam video berdurasi 1 menit 2 detik.
- Banyak kritikus menilai Trump sengaja memicu kemarahan publik untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu domestik termasuk rilis jutaan file Jeffrey Epstein.
JERNIH – Amerika Serikat kembali diguncang kontroversi akibat ulah aktivitas media sosial Presiden Donald Trump. Sebuah video yang diunggah ulang (repost) melalui akun Truth Social milik Trump memicu kemarahan publik karena menampilkan mantan Presiden Barack Obama dan istrinya, Michelle Obama, dengan penggambaran rasis sebagai kera.
Meskipun video tersebut telah dihapus pada Jumat (6/2/2026) siang, gelombang kecaman lintas partai terus mengalir. Kali ini, kritik keras tidak hanya datang dari kubu Demokrat, tetapi juga dari jajaran petinggi Partai Republik (GOP).
Senator Tim Scott, satu-satunya warga kulit hitam dari Partai Republik yang saat ini bertugas di Senat, mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka melalui platform X. “Saya berdoa semoga video itu palsu, karena itu adalah hal paling rasis yang pernah saya lihat keluar dari Gedung Putih ini. Presiden harus menghapusnya,” tegas Scott.
Senada dengan Scott, Perwakilan Republik Mike Lawler juga mendesak Trump untuk segera menghapus unggahan tersebut, menyebutnya sebagai konten yang “sangat ofensif,” terlepas dari apakah itu disengaja atau sebuah kesalahan.
Video tersebut diunggah pada tengah malam waktu AS sebagai bagian dari rangkaian pesan berantai Trump. Konten rasis itu muncul pada detik ke-59 dalam video berdurasi 1 menit 2 detik.
Video yang membawa watermark “Patriot News Outlet” ini merupakan segmen bergaya dokumenter yang mempromosikan klaim tanpa bukti mengenai kecurangan Pemilu 2020. Gambar editan keluarga Obama disisipkan bersama latar belakang lagu populer tahun 1961, “The Lion Sleeps Tonight”.
Awalnya, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, sempat membela unggahan tersebut dan menyebutnya sebagai “meme internet” yang menggambarkan Trump sebagai “Raja Hutan” dan Demokrat sebagai karakter film The Lion King.
Namun, setelah tekanan publik memuncak, pihak Gedung Putih mengubah narasi dengan menyatakan bahwa video tersebut dibagikan secara “keliru” oleh staf Gedung Putih, bukan oleh Trump sendiri. Trump pun membela diri saat bertemu wartawan di Air Force One.
“Tidak, saya tidak membuat kesalahan,” ujar Trump sambil menolak meminta maaf. “Saya melihat ribuan hal. Saya hanya melihat bagian awalnya saja, dan itu baik-baik saja.”
Dehumanisasi Gaya Jim Crow
Di kubu seberang, pemimpin Demokrat di DPR AS, Hakeem Jeffries, mengecam keras tindakan Trump dengan menyebutnya sebagai tindakan “keji dan ganas”. Sementara itu, Perwakilan Raja Krishnamoorthi menarik garis lurus antara video tersebut dengan sejarah panjang rasisme di Amerika.
“Dehumanisasi gaya era Jim Crow seperti ini sangat menyedihkan dan merupakan aib bagi jabatan kepresidenan,” tulis Krishnamoorthi, merujuk pada era segregasi rasial di AS (1865-1960) di mana warga kulit hitam diperlakukan tidak setara dan sering digambarkan secara tidak manusiawi.
Banyak kritikus menilai bahwa Trump sengaja memicu kemarahan publik untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu domestik yang merugikan secara politik, termasuk rilis jutaan file terkait kasus Jeffrey Epstein yang mencatut namanya.
Kontroversi ini menjadi beban berat bagi sejumlah politisi Republik yang menghadapi kampanye pemilihan ulang dalam Pemilu Tengah Semester November mendatang. Senator Pete Ricketts dari Nebraska menegaskan bahwa alasan “meme” tidak dapat diterima. “Orang yang berakal sehat pasti melihat konteks rasis dalam video ini. Gedung Putih harus melakukan apa yang dilakukan siapa pun saat membuat kesalahan: hapus dan minta maaf,” tambah Ricketts.
